Darfadz Sultan Bayezid
Rumah Qur'an dan Tahfidz Darul Huffadz (Darfadz)Sultan Bayezid Mendididik Generasi Qur'ani Sejak Dini
QUIZ TIME
Darfadz Sultan Bayezid, Km. 25 Balam
25/07/2024
*Anakku, Curhatlah, Nak!*
Oleh : Naila Zayyan
Anak adalah amanah orang tua yang harus dijaga. Bagi keluarga muslim, peran orang tua di rumah sangat penting dalam memenuhi kebutuhan anak, yaitu sandang, pangan, dan papan yang layak. Juga mendidik anak sesuai fitrah Islam, melindungi anak dari segala hal yang berpotensi membahayakan anak (fisik maupun psikis), mendisiplinkan anak khususnya terhadap aturan syariat Islam, menjadi guru dan role model bagi anak, serta menjadi sahabat anak.
Pada tulisan kali ini kita akan memfokuskan pembahasan pada cara orang tua menjadi sahabat terbaik bagi anak.
Manusia memiliki potensi kehidupan berupa naluri berkasih sayang (gharizah an-nau‘) yang bentuk ekspresinya secara umum, yaitu anak menyayangi saudaranya, keluarga, sahabat, dan lainnya. Adapun ekspresi naluri berkasih sayang secara khusus adalah munculnya rasa s**a (cenderung/muyul) kepada teman lawan jenisnya.
Bagaimana supaya kita sebagai orang tua bisa menjadi sahabat bagi anak sehingga tidak ada jarak yang terlalu jauh antara kita dengan anak? Bagaimana agar kita bisa menjadi tempat utama curhat anak menumpahkan segala rasa dan pemikiran mereka? Bagaimana cara membuang rasa canggung, baik orang tua kepada anak atau sebaliknya?
Berikut beberapa hal yang orang tua perlu coba lakukan dan perhatikan:
Pertama, jangan bersikap seperti komandan, meskipun kita lebih tua. Tanpa disadari oleh orang tua, ketika ada keinginan orang tua kepada anak, terkadang disampaikan dengan nada perintah. Hal ini bisa membuat hubungan anak-orang tua semakin renggang dan kaku. Biasakan menggunakan kata “tolong” ketika orang tua menginginkan anak untuk melakukan sesuatu, baik untuk kepentingan orang tua maupun anak.
Kedua, jadilah pendengar dan penyimak yang selesai. Artinya, ketika anak ingin meluapkan isi hatinya, maka cobalah untuk meluangkan waktu hingga mereka betul-betul telah mengungkapkan semuanya, jangan memutus pembicaraan mereka.
Saat mendengarkan keluh-kesahnya, lepaskan apa pun yang kita pegang, khususnya gadget. Upayakan untuk memandang wajahnya sehingga anak merasa diperhatikan 100%, bukan dengan mendengarkan curhatan anak sambil main/pegang gadget.
Ketiga, buat anak merasa dicintai. Hal ini bisa kita lakukan dengan kontak fisik dengan mereka, yaitu untuk anak laki-laki sering tepuk bahunya untuk menambah rasa wibawa dan memimpin, sedangkan untuk anak perempuan sering usap punggungnya. Cara lain agar anak merasa dicintai adalah dengan mengucapkan langsung bahwa kita menyayangi mereka.
Keempat, upayakan memenuhi kebutuhan tiap anak secara personal agar merasa diperhatikan. Jika memungkinkan, ajak sesekali meluangkan waktu untuk jalan-jalan, belanja, atau yang lain berdua saja dengan masing-masing anak secara privat. Hal ini bisa menjaga kedekatan orang tua langsung kepada semua anak sehingga tidak ada rasa canggung.
Kelima, tetap tanamkan rasa hormat anak kepada orang tua dengan tidak mengungkapkan semua kejelekan kita atau pasangan kita di hadapan anak. Kewibawaan orang tua tetap harus dijaga meskipun kita dekat dengan anak supaya kita tetap menjadi sosok teladan bagi anak. Jika perlu, justru sampaikan kelebihan suami atau istri kita kepada anak sehingga orang tua tetap menjadi sosok panutan bagi anak.
Keenam, jangan lupa doakan seluruh anggota keluarga supaya selalu dijaga oleh Allah Swt. dan terbebas dari segala bentuk marabahaya. Bagaimanapun, kita tidak bersama dengan anak selama 24 jam. Apalagi lingkungan pergaulan anak saat ini semakin bebas dan anak butuh sekali pengarahan dari orang tua.
Oleh karena itu, mintalah selalu penjagaan Allah Swt. yang paripurna, kapan pun dan di mana pun. Jika perlu, berdoalah di hadapan anak sampai mendengar doa-doa kita untuk mereka. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih diperhatikan.
Semoga berbagai upaya ini bisa memperbaiki hubungan kita dengan anak dan menjadikan kita sahabat dan tempat curhat terbaik mereka. Wallahualam. [MNews]
-------------
14/06/2024
*Mendidik Anak Tanpa Amarah*
Oleh : Arum Indah
Mendidik anak tanpa amarah, tampaknya mustahil, tapi bukan berarti tak mungkin. Pernahkah merasa kesal kepada anak? Saat apa yang kita katakan, mereka abaikan. Saat segala nasihat yang disampaikan, tak mereka dengarkan. Atau saat kita sudah lelah dengan segunung aktivitas harian, lalu anak datang menghampiri dengan segala kerewelannya. Tanpa sadar, kadang kekesalan, kegusaran, dan kelelahan itu memantik amarah yang siap diledakkan di hadapan anak. Terkadang tanpa sengaja, gertakan, makian, atau bahkan pukulan sering mendarat di tubuh anak. Luka secara fisik mungkin tak seberapa, tapi batin anak diam memendam luka.
Aktivitas mendidik anak memang bukan perkara yang sepele, ini adalah aktivitas yang penuh dengan tantangan dan tanggung jawab. Bagaimana perlakuan kita kepada anak, kelak saat mereka bergelar orang tua, mereka akan meniru cara didikan kita. Saat nanti di hari penghisaban, Allah juga akan meminta pertanggungjawaban tentang bagaimana kita mendidik anak.
Aktivitas mendidik anak, bukan p**a perkara yang mudah, tapi juga bukan perkara yang sangat sulit. Semuanya bisa dicukupi dengan ilmu. Ilmu akan membuat kita paham bagaimana memperlakukan anak dengan tepat yang sesuai usia dan perkembangannya.
Selain butuh ilmu, orang tua juga harus membekali dirinya dengan sabar dan istikamah. Mengapa sabar dan istikamah? Ya, tingkah polah anak yang sering di luar ekspektasi dan di luar kendali, membuat kita harus memiliki dua ilmu itu. Sabar menghadapi sikap dan berbagai polah anak serta istikamah untuk terus bersabar menjalani semuanya.
Dunia anak dan dunia kita jauh berbeda. Dunia orang tua penuh dengan serentetan aktivitas yang menunggu untuk segera diselesaikan, sedangkan dunia anak hanyalah bermain, bermain, dan bermain. Orang tua dituntut untuk bisa kreatif memberikan ilmu dan pengetahuan kepada anak lewat belajar sambil bermain.
Stok sabar yang harus kita miliki, bukan main-main. Jika tempat yang paling luas di dunia ini adalah samudra, maka kesabaran kita juga harus seluas samudra. Jika jalan paling panjang adalah usia kita, maka kita harus istikamah sepanjang usia itu.
Orang Tua Wajib Mendidik Anak
Mendidik adalah aktivitas memelihara dan memberikan latihan (ajaran, tuntutan dan pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan berpikir. Secara harfiah, mendidik berarti menolong, membuka jalan, dan memudahkan terjadinya perubahan-perubahan dalam tingkah laku anak agar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Seorang bayi yang baru terlahir ke dunia, hanya memiliki sejumlah cara untuk merespons perlakuan orang. Seiring bertambahnya usia, mereka butuh banyak didikan agar mengerti tentang tujuan hidup. Di sinilah peran besar orang tua sangat dibutuhkan. Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang membuatnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas mengindikasikan adanya tuntutan yang besar terhadap kedua orang tua dalam mendidik anak. Orang tua adalah institusi pendidikan pertama yang akan memberikan warna dalam hidup anak, apakah putih, hitam, atau warna-warni. Anak ibarat secarik kertas kosong yang siap dilukis apa pun oleh orang tuanya.
Anak akan banyak menyerap informasi, baik dalam bentuk perkataan, sikap, dan perbuatan. Anak yang masih lugu akan banyak meniru bagaimana orang tuanya bertutur kata dan berbuat. Mereka adalah peniru ulung, tepatlah jika ada ungkapan yang mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Oleh karenanya, orang tua harus berhati-hati dalam bertindak dan bersikap.
Allah Swt. telah menegaskan kewajiban orang tua dalam mendidik anaknya dalam surah At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya: “Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Penjagaan terhadap api neraka adalah dengan mengerjakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, orang tua wajib mendidik anak mereka dengan Islam. Mereka wajib mengajari anak-anaknya untuk mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya.
Saat Amarah Menguasai
Amarah lahir dari ghorizatun baqa’ (naluri mempertahankan diri) yang ada dalam diri manusia. Meski demikian, amarah lebih baik dihindari dan dijauhi. Rasulullah bersabda:
Dari Abu Darda’, ia berkata : Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, tunjukkanlah kepada saya atas suatu amal yang bisa memasukkan saya ke surga,” Rasul menjawab, ”Jangan marah, maka bagimu surga,” (HR. Thabrani)
Begitu luar biasanya amarah, hingga saat kita berhasil menahannya, maka dijanjikan surga. Ada kalanya saat orang tua mendidik anak, ada rasa kesal dan lelah yang berujung pada amarah. Saat ini terjadi, segeralah redam amarah dengan cara duduk, berbaring, atau berwudu.
Pada hakikatnya mendidik anak harus dengan kasih sayang dan kesabaran. Jika kita mendidik mereka dengan amarah, tujuan pendidikan yang diperintahkan Allah tidak akan tercapai karena metode yang salah. Secara fitrah, anak-anak sangat tidak s**a jika dimarahi.
Amarah yang sering diluapkan ke anak, juga akan membuat anak tidak nyaman dan merasa terasing berada di tengah-tengah keluarganya. Jika ini terjadi, maka anak bisa memendam luka pengasuhan yang akan berefek negatif pada hidupnya nanti atau anak akan mencari tempat dan pergaulan lain di luar rumah yang membuatnya bisa lebih nyaman. Padahal kita tahu, pergaulan di luaran, sangat bebas dan mengerikan.
Anak adalah Kunci Kebahagiaan
Kehadiran anak dalam sebuah keluarga memberikan kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan makin lengkap saat tangisan pertama mereka hadir di tengah keluarga. Demi anak, orang tua rela melakukan apa saja, walau harus menguras harta dan tenaga. Anak adalah harta paling berharga yang dimiliki orang tua, mereka adalah penerus keturunan, pelanjut cita-cita, penghibur jiwa, pengusir sepi, tempat bergantung di masa tua, alasan untuk bertahan, dan berbagai alasan lain yang menjadikan pentingnya kehadiran anak.
Namun, kebahagiaan ini bisa sirna tatkala orang tua memiliki pola asuh yang salah. Anak yang dididik dengan mengutamakan kehidupan dunia dan materi adalah awal mula segala permasalahan akan terjadi, banyak sekali kita temui hari ini, seorang anak yang lebih mementingkan harta duniawi daripada orang tua.
Jika anak dididik dengan landasan keimanan kepada Allah, Insyaallah mereka akan tumbuh di jalan yang benar dan iman yang kuat, kelak mereka akan menjadi perhiasan indah yang menyejukkan mata dan hati kedua orang tuanya.
Apalagi saat kita istikamah mendidik anak dengan nilai-nilai Islam dan penuh kesabaran, tentu hasilnya akan jauh lebih maksimal. Anak-anak pun akan merasa senang saat belajar memahami hukum-hukum Allah.
Tip Mendidik Anak Tanpa Amarah
Beberapa tip yang bisa dilakukan agar bisa mendidik anak tanpa amarah, di antaranya:
Sering memberi pujian pada anak. Pujian memiliki kekuatan untuk memberikan kesan kasih sayang terhadap anak. Apa pun yang dilakukan anak. Jika itu benar, maka pujilah atas sikap mereka. Jika itu salah, tetap pujilah mereka karena telah berusaha, dan beri tahu bagaimana yang benar dengan penuh kelembutan. Rasulullah sendiri telah mengajarkan bahwa memuji itu penting. Dengan pujian, motivasi dan semangat anak akan meningkat dan tentu berpengaruh baik bagi psikologisnya.
Menyadari bahwa anak adalah amanah. Anak adalah titipan dari Allah yang kelak akan ditanya bagaimana kita memperlakukan mereka. Apakah kita telah memperlakukan mereka dengan penuh kebaikan atau justru malah menyia-nyiakan mereka.
Pahami bahwa mendidik anak adalah ibadah. Yakinlah bahwa setiap usaha kita untuk mendidik anak, akan dicatat oleh Allah sebagai pahala yang akan menghantarkan kita ke surga.
Senantiasa menambah ilmu. Carilah ilmu parenting tentang bagaimana mendidik anak atau menghadapi anak dalam segala situasi. Dengan ilmu, segalanya akan jauh lebih mudah. Jika kurang dalam berilmu, biasanya emosi yang lebih mendominasi. Rasulullah senantiasa menganjurkan umatnya untuk terus belajar. Sebagai orang tua yang memiliki peran dan tanggung jawab besar terhadap perilaku anak, maka sudah sepatutnya terus belajar.
Mendidik anak tanpa amarah adalah hal yang mungkin dilakukan. Semoga kita bisa menjadi bagian dari orang tua yang berhasil mendidik anak tanpa meninggalkan luka pengasuhan.
Wallahu’alam bi showaab []
21/04/2024
*HUKUM MENGADOPSI ANAK*
Oleh: KH. M. Siddiq al Jawie
- PERTANYAAN:
Ustadz, bagaimana hukum mengadopsi anak menurut Islam?
JAWABAN:
Adopsi dalam istilah fiqih Islam disebut dengan “tabanni”, yang didefinisikan sebagai perbuatan seseorang menjadikan anak orang lain sebagai anak kandungnya. (M. Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha, hlm. 90; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 10/120).
Adopsi sudah dikenal di kalangan masyarakat Arab pada masa jahiliyah, yaitu sebelum diutusnya Muhammad SAW sebagai rasul. Anak yang diadopsi saat itu diperlakukan sebagai anak kandung dalam berbagai aspek hukumnya, misalnya dinasabkan kepada ayah angkatnya, mendapat waris dari ayah angkatnya, bekas istrinya tak boleh dinikahi oleh ayah angkatnya, dsb. Adopsi ini masih dibolehkan hingga masa awal Islam. Namun kemudian kebolehannya di-nasakh (dihapus) saat turunnya surat Al Ahzab ayat 4 dan 5 yang mengharamkan adopsi atas umat Islam secara mutlak. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/508; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 10/121).
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, Islam telah mengharamkan mengadopsi anak dan membatalkan segala akibat hukumnya. Allah SWT berfirman (artinya) :
“Dan Dia [Allah] tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanya perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (TQS Al Ahzab [33] : 4).
Allah SWT juga berfirman (artinya) :
“Panggilan mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai (nama) ayah-ayah mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” (TQS Al Ahzab [33] : 5).
Dengan ayat-ayat ini, Islam telah mengharamkan dan membatalkan tradisi adopsi anak dan memerintahkan orang yang mengadopsi anak untuk tak menasabkan anak angkat kepada dirinya, melainkan kepada ayah kandung anak itu sendiri. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 10/121).
Maka dari itu, segala bentuk peraturan dalam hukum positif Indonesia yang membolehkan adopsi anak, adalah peraturan kufur yang melawan dan bertentangan dengan syariah Islam. Misalnya Staatblaad tahun 1917 No 129 dan SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) No. 6 Tahun 1983.
Semua peraturan ini adalah peraturan kufur sehingga secara mutlak haram diterapkan oleh pemerintah saat ini dan haram p**a diamalkan oleh umat Islam.
Siapa saja Muslim yang mengamalkan peraturan itu seraya meyakini kebenarannya dan mengingkari haramnya adopsi anak dalam Alquran, berarti telah murtad (keluar dari agama Islam). Adapun yang mengamalkan tapi tak meyakini kebenarannya, juga tak mengingkari haramnya adopsi anak dalam Alquran, ia masih dihukumi Muslim (tak murtad), tapi tetap berdosa besar (kabair). (Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, hlm. 44; Imam Dzahabi, Al Kabair, hlm. 154-155;Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 40/233).
Namun meski Islam mengharamkan mengadopsi anak, Islam tak mengharamkan sepasang suami istri mengasuh anak orang lain bersama mereka, misalnya anak yatim, anak pungut (al laqiith), atau anak orang fakir/miskin. Dalam arti, anak itu sekadar mendapat pemeliharaan dan nafkah yang layak, namun tak diperlakukan sebagai anak kandung sendiri. Misal tetap dinasabkan kepada ayah kandungnya, tetap tak mendapat hak waris, tetap tak mendapat perwalian nikah (jika anak itu perempuan), dan tetap diperlakukan sebagai ajnabi (bukan mahram) jika sudah baligh apabila7 memang tak termasuk mahram bagi suami/istri tersebut. (Yusuf Qaradhawi, Al Halal wa Al Haram fi Al Islam, hlm. 198-199).
Jika demikian halnya, hukumnya boleh dan tidak haram. Karena hal itu tidak termasuk mengadopsi anak, melainkan termasuk perbuatan memberi bantuan/pertolongan kepada sesama muslim, yang telah dibenarkan berdasarkan dalil-dalil umum dari Alquran dan As Sunnah. Allah SWT berfirman (artinya) : “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (TQS Al Maidah [5] : 2). Sabda Rasulullah SAW, ”Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya selalu menolong saudaranya.” (HR Muslim no 2699; Tirmidzi no 1995).
Wallahu a’lam[]
=======
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Bagansiapiapi