Deva Shastravan Community
Trainer of Indonesian Horror Authors in Universitas Horor Indonesia (UNIHA)
17/07/2024
The Guardians of The Dark Halls
003. Misteri Rumah Kosong
Oleh: Deva Shastravan
***
Malam itu, bulan bersinar redup di langit yang kelam, menjadi malam yang berbeda, tak seperti malam-malam biasanya, menambah kesan misteri pada Desa Sumber Angker.
Entah siapa yang pada awal mulanya menami desa tersebut dengan nama yang sedemikian aneh, namun tak dipungkiri kalau nama yang disematkan pada Desa Sumber Angker, bisa jadi ada kaitannya dengan sebuah bangunan tua, yakni sebuah rumah kosong di pinggir desa yang konon banyak dihuni oleh makluk-makhluk gaib dan roh jahat. Alasan itu p**a yang akhirnya membuat tiga sahabat yang menamai diri mereka Para Penjaga Aula Kegelapan (The Guardians of The Dark Halls) yang mendengar cerita ini, yaitu Reza, Bakri, dan Vieta memutuskan untuk menyelidikinya, sekali pun tanpa ada yang memintanya.
Setibanya mereka di desa, mereka disambut oleh kepala desa, Pak Karta namanya, beliau yang tampak begitu cemas. "Saya sangat senang dengan kedatangan kalian bertiga, sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang kalian dan ingin mengundang kalian ke desa ini, tetapi baik saya maupun warga desa tak ada yang tahu di mana tempat tinggal kalian.”
“Sudahlah, Pak Karta. Toh kini kami bertiga sudah berada di desa ini, sekarang sebaiknya langsung saja bapak ceritakan tentang rumah atau bangunan tua tersebut, agar secepatnya kami bisa mengambil tindakan,” kata Reza.
...
===
Baca selengkapnya hanya di Opinia dan gratis. Link ada di kolom komentar.
"Tugas penulis horor adalah menemukan kegelapan di sudut paling terang sekalipun."
Deva Shastravan
19/06/2021
KOPI LITERASI
EPISODE 001. Tuliskan Saja
By Deva Shastravan
===
Sabtu pagi, dengan segelas kopi yang ada di hadapan saya, saya ingin berbagi sesuatu, sesuatu yang menyemangati, sesuatu yang menginspirasi. Layaknya sebuah racikan secangkir kopi, dibuat dengan beraneka bahan dan cara penyajian, hakikatnya kopi ya tetaplah kopi. Sumber semangat pagi untuk mulai beraktivitas melewati hari.
Jadi, sudahkah kamu menyeduh secangkir atau segelas kopi sebelum membaca artikel kecil ini? Kalau belum taruh smartphonemu, tinggalkan layar komputer atau laptopmu, buatlah secangkir kopi dengan hati riang, kita akan bincang-bincang sejenak dengan ditemani kopi yang hangat.
Sesuai dengan tema inti dari artikel-artikel saya, terhitung dari artikel pertama ini, bahwa kita akan bicara tentang literasi, tentang dunia buku, dunia fiksi, dunia imajinasi. Dunia tulis menulis yang sarat akan ilmu dan informasi, namun di kemas dengan simple saja.
Tidak menggunakan bahasa yang njelimet, karena saya memang bukan pakarnya, tidak berbelit-belit karena hidup saja sudah penuh dengan hal-hal rumit, jadi bacalah artikel ini tanpa harus mengerutkan kening, semoga tulisan saya tidak membuatmu tambah pening.
Nah, yang akan kita bicarakan kali ini adalah sesuatu yang mendasar sekali dari dunia kepenulisan, yaitu tentang bagaimana caranya menulis.
Banyak penulis yang sudah punya nama besar di jagad literasi, saat ditanyakan bagaimana caranya menulis? Maka jawabannya adalah : tuliskan saja.
Ya, tuliskan saja apa yang akan kamu tuliskan, karena bagaimana seseorang akan mempunyai karya tulis, baik fiksi maupun non fiksi kalau hanya sekedar dipikirkan dalam angan semata.
Ambil kertas dan pena lalu tuliskan, atau di smartphone, laptop, komputer lantas ketikkan.
Apa yang harus ditulis? Lha ... ya jangan tanya, kamu sendiri maunya nulis tentang apa?
Mau nulis artikel? Ya tulislah sebuah artikel.
Mau nulis cerpen? Ya mulai tuliskan paragraph pertamamu.
Menulis itu pada dasarnya simpel kok, hanya tinggal menulis saja.
Terus, bagaimana soal tata bahasa? PUEBI? KBBI?
Itu sudah beda lagi urusannya, karena yang terpenting dari menulis adalah ya menulis itu sendiri.
Kalau tulisanmu sudah kelar, entah itu mencapai seribu kata, lima ribu kata, atau bahkan sepuluh ribu kata, barulah pertanyaan soal KBBI, PUEBI dan tata bahasa itu dipertanyakan.
Saat ini kamu nggak perlu memiliki buku tebal tentang KBBI dan PUEBI, karena sudah tersedia dalam bentuk ebook maupun aplikasi di smarphone. Kamu tinggal unduh dan mulai mempelajarinya, di youtube juga banyak tutorial belajar PUEBI. Kamu bisa menontonnya dan mempraktekkannya.
Jadi maksud saya adalah tetaplah menulis sambil belajar PUEBI-nya.
Lantas apa manfaatnya menulis itu sendiri, kalau ternyata kamu belum menguasai materi PUEBI?
Menulis itu adalah kebiasaan, dan kebiasaan tentu saja perlu dibiasakan, dan untuk memulai sesuatu pasti akan menemui kes**aran, itu hal yang lumrah dan sangat bisa dimaklumi.
Bukankah kamu sudah terbiasa mengetikkan pesan chat di whatsapp? Menulis status di Twitter dan Facebook? Lalu apa bedanya?
Bedanya adalah, dari kuantitasnya saja. Kalau pesan whatsapp, status Twitter dan Facebook mungkin hanya memakan tidak lebih dari puluhan kata, kini kamu hanya mulai menulisnya jadi ratusan atau ribuan kata, menulis sesuatu yang memiliki tujuan, tak peduli seremeh apa pun tujuanmu dalam menulis.
Nah, untuk tahap awal sebagai pembelajaran, kamu bisa mulai menulis di buku harian atau diary, menuliskan apa yang kamu telah lakukan selama seharian ini, siapa saja yang sudah kamu temui, apa saja yang kamu perbincangkan, atau bisa juga menulis sebagai ajang curhat, menuliskan perasaan senang tentang sesuatu atau perasaan kebencian dengan sesuatu.
Menulis diary sebenarnya bisa diartikan juga sedang menabung data, diarymu akan jadi sebuah bank data yang entah kapan nanti bisa saja menjadi sumber inspirasi bagi tulisan-tulisanmu yang lebih serius dan diniatkan untuk dipublish dan dibaca oleh publik.
Dengan terbiasa menulis kamu sama saja membentuk otot-otot menulis, sehingga kamu nantinya akan memiliki daya tahan untuk menulis banyak, duduk berjam-jam menulis sesuatu yang mengasyikkanmu.
Menulis akan menjadi kebiasaan, menjadi sebuah rutinitas harian yang biasa saja bagimu, bahkan akan tiba nanti ketika kamu mulai merasa bahwa menulis menjadi sebuah kebutuhan.
Jadi tidak ada cara instan untuk menjadi penulis dengan gaya tulisan yang bagus dan memukau banyak orang, semua berawal dari menulis apa adanya. Bagaimana mungkin kita akan tahu kesalahan-kesalahan tulisan kita kalau kita sendiri tak pernah menuliskannya?
Saya sangat berharap tulisan saya yang singkat tentang menulis ini bisa meninggalkan sebuah kesadaran akan arti pentingnya menulis, apalagi jika kamu memang memiliki niat untuk menjadi seorang penulis.
Menulislah dengan hati yang riang, menulislah dengan perasaan lapang, menulislah dengan tanpa merasa terbeban, menulislah tanpa ada tekanan, menulislah dengan santai.
Menulislah dari hati, membiasakan diri untuk jujur, menulis apa adanya, tidak mendramatisir apalagi memutar balikkan isi tulisan dari fakta yang ada.
Menulis dapat menjadi sebuah terapi yang bagus untuk kesehatan, menuliskan unek-unek kekesalan yang sedang dirasakan, justru akan membuatmu bisa melihat dengan jelas apa yang sedang membuatmu kesal, dibandingkan jika kamu hanya memendamnya saja di dalam hati, atau kamu ceritakan pada seseorang yang nyatanya tak ada jaminan ceritamu akan tetap jadi rahasia di tangan seseorang itu.
Perjalanan ribuan mil sekalipun sudah pasti akan dimulai dengan langkah pertama. Jadi mulailah melangkah, tuliskan sebuah kalimat, tulislah satu paragraph.
Ketika menulis sudah menjadi karakter dan habbit dalam dirimu, selanjutnya mudah saja, sedikit imajinasi liarmu yang kamu tuliskan bisa saja akan mewujud jadi sebuah cerpen, sebuah novel, atau seperti artikel ini, ya, seperti artikel kecil yang sedang kamu baca ini, saya bisa menulis sejauh ini tanpa beban karena menulis memang sudah menjadi karakter dan habbit saya.
Jadi masih bisakah diterima alasan seseorang yang ingin menjadi penulis, jika dia beralasan, "Saya tidak bisa menulis." atau "Saya tidak tahu cara menulis." Karena kalimat seperti itu akan menjadi dinding kokoh yang menghalangi keinginan besarmu menjadi seorang penulis.
Jika sudah mulai sedikit demi sedikit kamu memahami PUEBI, maka mulailah menulis, lalu biasakan mengeditnya sebelum publish, karena bagaimana pun bagusnya isi sebuah tulisan kalau tulisannya kacau, tak sesuai PUEBI, ya pastinya bikin sakit mata yang membaca tulisanmu juga.
Mulai hari ini menulislah, sedikit demi sedikit, menuliskan apa pun, kapan pun dan di mana pun, selama kamu punya kesempatan untuk menulis.
Nanti akan kamu rasakan sendiri perbedaannya, ketika dulu saat kamu berpikir menulis itu susah, dengan kini setelah kamu terbiasa menulis hingga menjadi karakkter dan Habbitmu.
Bagaimana bedanya? Ya saya memang tahu, tapi tak bisa saya tuliskan, karena ini tentang rasa, jadi kamu sendiri harus ikut merasakan.
Lebih baik saya buatkan secangkir kopi manis buatmu, lalu kamu meminumnya, daripada saya menulis panjang lebar tentang bagaimana nikmatnya sebuah kopi.
Finally.
Selamat ber-aktivitas, selamat menulis. Kita jumpa lagi esok dengan kopi-kopi literasi hangat lainnya yang akan memberi kesegaran baru buatmu, juga saya, tentu saja ... Sebagai penulis.
===
23/07/2020
Sebuah kilas balik di tahun 1993, kisah cinta seorang pemuda bernama Sukirman, yang kebahagiaan cintanya ternyata tak berlangsung lama ....
Click here to claim your Sponsored Listing.