Tiga Strata

Tiga Strata

Share

Media Kelas Menulis Online dan Kelas Bahasa.

02/10/2024

Iya, data naskah kelen jaman bahola masih gue simpen. Kek ada manis-manisnya.

Debar Cemburu

Ketika kicau burung berkabar
Merapuhkan kelopak-kelopak mawar
Menghantam sabar menempa kau dengan gusar

Engkau embus suasana selain surga
Di mana pada setiap tiupannya menjelma
Pintu neraka yang malaikat lupa tutup seharian

Zah, lantas bagaimana dengan aku?
Yang pada setiap malamnya mendengarkan desau angin
Bercerita perihal engkau dan kekasihmu di sana?

Kita masih berpelukan
Engkau dengan kekasihmu, sementara aku
Mendekap bayang yang masih menjelmakanmu

Meski lebam menghuni dadaku
Engkau tak akan rela kubiarkan cemburu
Tersebab kau tak akan pernah mampu menjadi aku

~~~~~~~~~~oO💔Oo~~~~~~~~~~

Pelangi Selepas Badai

Malam pun datang, menitipkan seulas wajah perempuan di antara rintik hujan yang bertandang tanpa bilang-bilang. Melindapkan suasana hatiku semakin tidak karuan, akibat pertengkaran rindu yang salah paham.

Mungkin amarah di dada perempuan itu masih bergemuruh, selepas membaca buku harianku di masa lalu; sementara di setiap detiknya, aku kehilangan tempat berlabuh.

Zah, semarah itukah kamu kepadaku?

"Aku menyerah untuk melanjutkan hubungan kita. Kamu terlalu megah untuk aku cintai, Bara." Ucapan Zah menghujam dadaku pada waktu itu.

Ck!

"Masih tentang puisi-puisi yang kamu temukan di buku catatan usangku?"

Perempuan berhijab jingga itu mengatupkan bibirnya. Tak ada kata. Mendung menggelayut di wajahnya, menahan hujan atau mungkin juga badai.

"Terlalu banyak wanita di hidupmu, dan puisi-puisi itu menunjukan betapa mereka sangat berharga. Terutama, Nisa."

"Zah ...."

"Sudahlah, Bara." Zah merajuk.

Aku mencoba menggenggam tangan Zah, akan tetapi ia menepisnya.

"Coba dengar penjelasanku." Kutatap lekat matanya sedalam yang aku mampu.

"Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, Bara. Semuanya begitu jelas."

"Sayang, jangan cemburu. Cemburu itu hanya untuk orang-orang yang lemah."

Tatapan Zah berubah, matanya begitu nyalang. "Dan sekarang, sedang lemah-lemahnya aku. Mengertilah, sebentar saja."

Pandangannya meredup seiring dengan matanya yang memerah.

Semesta ikut bicara dengan menjatuhkan rintik hujan di sore itu. Mengiringi tangisan yang pecah di wajah perempuanku. Di antara rintik hujan, kami menjelma hening yang sangat menyesakkan dada.

Kemudian semua reda, tetapi tak ada pelangi. Suasana masih basah. Lantas mana yang harus aku tenangkan terlebih dahulu? Tempias di wajahnya, atau kecamuk di dadaku?

"Biarkan aku sendiri dulu." Zah masih enggan menatapku. "Jangan cari aku, biarlah rindu mendewasakanku," sambungnya.

Ia kemudian pamit pulang, meninggalkan segala ketidakpastian di benakku.

Hingga pada suatu malam, sepi menertawaiku dengan kejam. Entah berapa kali hening di sepertiga pagi kuhabiskan merayu Tuhan. Kesunyian memaksaku berkeluh kesah. Tak hanya lewat doa dan air mata, tetapi tertulis juga pada selembar kertas yang kutujukan untuk Filazah, perempuanku.

***

Teruntuk: Filazah, si pencemburu.

Sayang, ketika masa lalu aku eja dalam setiap kata, bisakah kau membacanya sebagai dongeng belaka.

Ketika rahasia di dariesoar hatiku terungkap perlahan, kuharap kau hanya diam mendengarkan.

Ketika banyak kenangan di masa lalu yang tersimpan di dalam kalbuku, bisakah kau bersikap pura-pura tidak tahu.

Hanya satu yang engkau perlu tahu. Tentang semua lagu rinduku, tak serta merta dari masa lalu.

Cinta ini ada di setiap detik bersamamu. Dimulai ijab kobulku hingga nanti terbujur menuju debu.

Dari aku: kekasihmu, Bara.

Sepucuk surat itu kukirim kepadanya.

Detik demi detik berlalu. Entah seminggu, entah berapa lama waktu mengolok-ngolokku. Rindu enggan usai di dadaku.

"Zah, pulang. Tuhan, maafkan jika kerinduanku kepada mahluk-Mu telah membuat-Mu cemburu." Doa penutup di antara segala pinta yang kupanjatkan.

Seperti biasa, selepas Subuh kedua mataku dipaksa lelap oleh tubuh yang kelelahan.

Pagi datang, aku terbangun setelah mendengar ketukan terdengar di pintu kamar, diiringi sebuah suara yang tak asing di telinga memanggil namaku. Menggema mengisi ruangan yang sebelumnya sunyi.

Aku membuka pintu.

"Bara ...." Seraut wajah yang kukenali sedang berdiri dengan tubuh gemetar.

Untuk beberapa saat, kami mematung.

"Aku terlalu cemburu, dan perasaan itu membuatku limbung, aku lelah mencari peraduan. Di mana segala ingatan dapat kularung, tapi pada akhirnya semua bermuara kepadamu." Tangis Zah tak terbendung.

Ia menghentikan ucapannya sejenak.

"Meski sakit, rindu itu masih kusimpan berbukit-bukit. Terkadang tumpah ruah tertulis dalam kertas-kertas, juga pada air mata. Aku bingung, rasa cemburu itu tak kunjung reda. Lalu, surat darimu tiba, dalam setiap kata-katanya aku menemukan kembali hidup yang hampir redup, aku--"

"Ssst ...." Ujung telunjukku menahan ucapannya.

"Maaf, aku terlalu cemburu." Zah menghambur dalam pelukanku.

Gerimis masih terjatuh di pipinya, perlahan kudekap perempuan pencemburu itu.

"Kita tak sedang di masa lalu. Aku di sini untuk sekarang hingga nanti, selamanya," bisikku.

kemudian, kukecup keningnya.

Tangisan Zah mereda, diiringi pipinya yang merona merah. Kini, spektrum warna pelangi di wajahnya lengkap sudah.

Bara El Raki
Bandung, 24 Februari 2021

Catatan kaki
Dariesoar: Bufet, lemari.

Tag juragan hajat Kerry Dee

26/08/2024

Mewujudkan impian kelen yang ingin menambah beban idup.

Want your establishment to be the top-listed Arts & Entertainment in Bandung?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address

Bandung
12250