Bait Rasa puisi cinta

Bait Rasa puisi cinta

Share

“Bait Rasa dalam Diam, Tentang Luka, Rindu, Air Mata, dan Hati Seorang Wanita yang Tetap Bertahan di Tengah Kesunyian”

02/06/2026

Memilih ingin menjauh
Sejauh mungkin
Sakit sendiri yang kurasakan kini

22/05/2026

Aku tidak sepertimu
Mengabaikan perhatian orang😘

19/05/2026

Kini aku mengerti,
tidak semua janji tinggal sampai akhir,
tidak semua pelukan mampu bertahan
saat hidup mulai dipenuhi luka dan air mata.
Dulu aku percaya,
dia akan mencintaiku selamanya,
menemani di waktu senang maupun susah,
menggenggam tanganku ketika dunia terasa berat.
Namun ternyata,
duka ini hanya aku yang memikul sendiri.
Aku berjalan sendiri mencari nafkah,
menahan lelah tanpa tempat bersandar,
tidur sendiri dengan hati yang sunyi,
sementara malam terus bertanya
mengapa cinta bisa berubah sedingin ini.
Tidak ada lagi suara lembut yang bertanya,
“kamu capek atau tidak?”
Tidak ada lagi perhatian kecil
yang dulu membuat hati merasa dihargai.
Yang tersisa hanyalah diam,
dan aku yang perlahan belajar kuat
meski hati terus retak setiap hari.
Kadang aku menangis diam-diam,
bukan karena aku lemah,
tetapi karena terlalu lama berjuang sendiri
di hubungan yang seharusnya dijalani berdua.
Aku hanya ingin dimengerti,
ingin dipeluk saat lelah,
ingin ada seseorang yang berkata
“terima kasih sudah bertahan sejauh ini.”
Namun malam mengajarkanku satu hal,
bahwa perempuan yang sering terluka
tetap bisa berdiri,
tetap bisa tersenyum,
meski hatinya penuh penyesalan dan kecewa.
Dan jika suatu hari nanti
aku kembali menemukan bahagia,
aku berharap itu datang
dari seseorang yang tidak hanya hadir saat s**a,
tetapi juga tetap tinggal
ketika hidup sedang paling sulit

18/05/2026

Kisahku yang pilu..
Aku pernah percaya bahwa rumah adalah tempat paling nyaman untuk pulang.
Tempat di mana lelah dipeluk hangat,
tempat air mata diseka dengan kasih sayang,
dan tempat hati merasa aman meski dunia begitu kejam.
Namun ternyata tidak semua rumah memiliki ketenangan.
Ada rumah yang dipenuhi diam,
ada cinta yang perlahan berubah dingin,
dan ada dua orang yang tinggal bersama
tetapi hatinya sudah saling menjauh.
Aku menjalani hari-hari dengan pura-pura kuat.
Tersenyum di depan anak-anak,
tertawa di depan orang lain,
padahal setiap malam aku menangis sendirian.
Aku tidur dengan hati penuh sesak,
sementara orang yang paling kuharap memelukku
justru menjauh dan menutup dirinya dariku.
Satu rumah terasa begitu asing.
Dia memilih tidur di kamar sendiri,
pintu tertutup rapat seolah aku bukan lagi bagian dari hidupnya.
Tidak ada sapaan,
tidak ada perhatian,
bahkan sekadar menanyakan kabarku pun tidak lagi ada.
Aku pernah mengetuk pintu itu perlahan,
berharap masih ada sedikit ruang untukku di hatinya.
Tetapi yang kudapat hanyalah penolakan dan dingin yang menusuk.
Sejak saat itu aku sadar,
kadang seseorang tidak perlu pergi dari rumah
untuk membuat kita merasa kehilangan.
Aku bertahan selama ini bukan karena tidak lelah.
Aku bertahan karena cinta,
karena anak-anak,
karena kenangan yang dulu begitu indah.
Aku terus meyakinkan diriku bahwa suatu hari semuanya akan membaik.
Bahwa dia akan kembali memandangku dengan cinta seperti dulu.
Tetapi waktu justru mengajarkanku kenyataan pahit.
Bahwa tidak semua perjuangan dihargai.
Tidak semua air mata dilihat.
Dan tidak semua hati yang bertahan
akan dipeluk kembali.
Ada malam-malam panjang
saat aku duduk sendirian di ruang tamu,
memandangi pintu kamar yang tertutup itu sambil bertanya pada Tuhan,
“Kurang apa lagi aku bertahan?”
Aku lelah menjadi orang yang selalu meminta dimengerti.
Lelah berharap pada seseorang
yang bahkan sudah tidak lagi peduli apakah aku terluka atau tidak.
Dan yang paling menyakitkan,
aku perlahan kehilangan diriku sendiri.
Aku menjadi perempuan yang mudah menangis,
mudah takut,
dan merasa tidak berharga hanya karena cinta yang tidak lagi utuh.
Kini aku mulai sadar…
kadang pergi bukan berarti membenci.
Kadang pergi adalah satu-satunya cara
agar hati ini tidak semakin hancur.
Aku tidak ingin hidup dalam hubungan
yang hanya dipenuhi keterpaksaan dan luka.
Aku ingin tenang.
Aku ingin kembali menemukan diriku yang dulu,
perempuan yang mampu tersenyum tanpa berpura-pura kuat.
Jika nanti aku benar-benar pergi,
bukan karena aku sudah tidak cinta.
Tetapi karena aku terlalu lama mencintai sendirian.
Dan mungkin suatu hari nanti
dia akan sadar bahwa perempuan yang diam-diam menangis setiap malam itu
pernah mencintainya dengan tulus.
Namun saat kesadaran itu datang,
mungkin aku sudah terlalu jauh untuk kembali.

Want your business to be the top-listed Clothing Store in Batam?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Address

Batam