Nella
Menerima Jasprom novel hrga 30 sampai bab 10 jika mau Jasprom 20bab hrga 50k pos boleh byr nanti yg pnting amanah ☘️🌻https://collshp.com/fene.shop
15/01/2026
MASAK DI RUMAH MERTUA
"Ini sayur asem?"
"Iya Bu."
"Aduh, mana asemnya?"
"Tapi tadi udah saya kasih kok Bu."
"Berapa banyak?"
"Satu bungkus."
"Kamu itu ga pernah masak sayur asem ya? sayur asem kok asemnya cuma satu bungkus, nih ibu kasih sepuluh bungkus asemnya!"
"Ga kebanyakan asemnya Bu?"
"Sayur asem ya memang harus asem! bagaimana sih kamu!" Ucap Wiwit ketus pada Jamilah, menantunya.
Sorenya.
"Ampuuuuuun ini sayur apa? asem banget!" Bagas kerutkan dahi.
"Itu masakan istri kamu, udah ga usah protes! kan kamu yang milih istri."
"Tapi kan..." Jamilah mencoba membantah mertuanya namun ia melirik Bagas suaminya, ada perasaan tak enak dalam hatinya.
"Besok-besok biar ibu saja yang masak sayang, biar kita bisa makan, kalau seperti inikan jadi mubazir makannya." Bagas usap pundak istrinya.
Pagi hari.
"Eh Bu Wiwit, pagi-pagi udah ke pasar, enak sekarang mah ya, udah ada mantu jadi ada temennya." Sapa Bu Inggit tetangga sebelah rumah.
"Aaah, nambah kerjaan malah, pagi-pagi harus nganter ke pasar segala, belanja sayur buat masak aja belom tau, apa lagi masaknya, kemaren aja masak sayur asem ga ada yang makan sampe kebuang, ampun saya mah dah." celetuk Wiwit tanpa memperdulikan Jamilah yang berada di sebelahnya.
Siangnya.
"Ampun ini kok kangkungnya banyak yang dibuang?"
"Itu akarnya Bu."
"Aduuuuh mubazir itu, ayo masukin semua, akar kangkung itu bagus untuk kesehatan loh! ayo masukin semua!"
"Masa sih Bu? saya kok baru tau masak kangkung sama akarnya."
"Udah nurut aja apa kata orangtua! ga usah ngeyel!" Wiwit mendelik.
Sorenya.
"Ini sayur kangkung kok alot gini? ini akarnya juga dimasak?" Bagas keluarkan sepotong akar kangkung dari mulutnya.
"Ya namanya juga baru belajar masak, kamu ga usah protes kan itu masakan istri kamu!" Ucap Wiwit dengan tenang.
Malamnya.
Jamilah diam-diam menuju dapur, berlahan ia mengambil pisau, lalu menuju kulkas.
Jamilah lalu sibuk memasak di dapur.
"Ada apa sih ini malam-malam kok berisik amat!" Wiwit yang terbangun mendekati Jamilah.
"Ini masakan saya Bu, coba lah." Jamilah berikan apa yang ia masak barusan.
"Apa ini?"
"Ikan asin cucut sambal balado, ayo coba Bu." Jamilah tersenyum dengan tatapan bangga.
"Wah enak banget ini, pasti ini ikan asin cucutnya beli di bang Ahmad Mustopa yang sekilonya empat puluh ribu kan? udah pasti enak itu mah, ibu juga sering pesan ikan asin sama dia, orangnya baik, murah senyum, ga sombong dan pandai menabung, dia kalau ada pesanan garcep langsung ditanggapin, pokoknya ga rugi belanja sama dia mah." Ucap Wiwit panjang-lebar.
"Bodo amat lah Bu, saya yang masak kenapa jadi Bang Mus yang dipuji sih? Maaaaas! besok pindah atau aku di kamar aja seharian ga mau keluar!" Jamilah kembali menuju kamar dengan wajah sangat kesal.
Tamat.
10/01/2026
Spoiler Bab 11 Maaf, Ibu Cuma Beban
Karena ibuku sakit-sakitan, aku langsung diceraikan oleh suamiku. Dia tidak mau keluar biaya merawat ibuku, siapa sangka ternyata warisan dari ibuku jumlahnya tr iliunan....
*
Kanaya mengumpulkan makanan secepat mungkin. Ia mengambil mangkuk dari tangan anak kecil, merebut piring dari bapak-bapak, bahkan menumpuk semuanya seperti pedagang keliling.
“Ini semua bisa dijual lagi. Tidak boleh rugi,” katanya sambil mengipas wajah sendiri.
Warga saling berbisik dan mulai merekam dengan ponsel. Sorakan kecil terdengar dari beberapa sudut halaman.
“Mas Tama gagal. Padahal udah keliling kampung bilang lolos CPNS.”
“Pantasan Kanaya panik. Banyak uang keluar.”
Begitulah salah satu bisikan dari tetangganya.
Sementara semua itu terjadi, Tama tergeletak di kursi reot ruang tamunya. Nafasnya tidak stabil. Dua tetangga laki-laki berdiri di pintu menunggu ia sadar.
Yu Tatik mengintip. “Mas Tama sudah bangun belum?*
Tama membuka mata perlahan. Atap rumah terlihat berputar. Suara sorak warga menembus telinganya seperti pisau tumpul.
“Aduh aku belum cek pengumuman CPNS. Mana handphone ku?" tanya Tama dengan suara parau. Mencari-cari ponsel di atas meja.
Pak Burhan maju. “Tenang, Mas. Minum dulu. "
Segelas air diterima Tama. Barulah ia menemukan ponselnya di atas meja. Ia cari ulang ke website pengumuman.
Tama mencoba duduk, namun tubuhnya goyah. Ia lihat lagi pengumuman itu. Tak ada yang berubah.
“Jadi saya gak lulus CPNS?" Ia menatap tajam layar ponsel.
Pak Burhan mengangguk. “Tidak , Mas.”
Tama menelan ludah. Dadanya terasa kosong. Tetapi sekaligus terasa penuh.
“Mustahil. Nilai saya bagus. Saya sudah yakin.”
Yu Tatik meraba bahunya pelan. “Mas, banyak yang nilainya bagus tapi tetap tidak lolos.”
Tama memegang kepalanya. Ia ingin percaya ada kesalahan data, server error, atau hal lain yang bisa ia salahkan. Namun gambar di layar tadi terlalu jelas.
“Kenapa?” kata Tama. “Kenapa aku gak lolos?”
Ia memejamkan mata, wajahnya meringis.
Tama menutup telinganya dengan kedua tangan. “Kenapa semuanya jadi begini.”
Kanaya tiba-tiba masuk, wajahnya merah dan napasnya terburu-buru. “Mas. Mas kenapa masih aja duduk? Bangun. Kita harus selamatkan makanan. Aku gak mau rugi.”
*
Lanjut baca di KBM
Judul: Maaf, Ibu Cuma Beban
Penulis: Vira Safila
Note : Saya akan tetap upload bab 4-10 ya. Cuma karena akun si Asep Suhendra mencuri gambar saya, jadi saya dulukan bab spoiilernya di sini. Bantu laporkan akunnya ya, dia mencuri naskah dan gambar orang.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Indramayu
45271