Mr. AF
❝𝗪𝗶𝗻𝗴𝘀 𝗜𝗻𝗳𝗼𝘁𝗮𝗶𝗻𝗺𝗲𝗻𝘁❞
Tͭhͪeͤ eͤaͣrͬtͭhͪ hͪaͣs̾ mͫuͧs̾iͥcͨ f̾oͦrͬ tͭhͪoͦs̾eͤ whͪoͦ l̾iͥs̾tͭeͤn̾.
23/06/2026
PUTRA BANJAR INI DIEKSEKUSI SAAT SEDANG BERPUASA, BELANDA SAMPAI BAWA KEPALANYA KE NEGERI KINCIR ANGIN
Kisah perjuangan satu putra terbaik Tanah Banjar ini layak dikenang lebih luas. Demang Lehman, lahir dengan nama Idies di Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, pada tahun 1832, tumbuh menjadi salah satu panglima perang paling ditakuti Belanda dalam Perang Banjar.
Gelar "Kiai Demang" yang melekat pada namanya bukan sembarang sebutan. Gelar itu diberikan karena ia menjabat sebagai pejabat pemegang lalawangan atau distrik di Kesultanan Banjar, tepatnya Kepala Distrik Riam Kanan. Sejak 1857, ia mengabdi sebagai panakawan atau ajudan kepercayaan Pangeran Hidayatullah II, sebelum kemudian juga dipercaya penuh oleh Pangeran Antasari untuk memimpin perlawanan rakyat di sejumlah wilayah.
Kemampuannya memimpin pas**an membuat Belanda gentar. Pada 30 Agustus 1859, Demang Lehman mengerahkan sekitar 3.000 pas**an menyerang Keraton Bumi Selamat yang saat itu dikuasai Belanda, serangan yang hampir saja menewaskan Letnan Kolonel Boon Ostade. Tak puas di situ, ia juga berhasil merebut Benteng Tabanio dari tangan penjajah bersama rekan-rekan seperjuangannya.
Sayangnya, perjuangan gigih ini berakhir tragis akibat pengkhianatan. Demang Lehman akhirnya ditangkap dan dibawa ke Martapura untuk diadili pengadilan militer Belanda. Saat ditahan, surat kabar bertanggal 7 Mei 1864 mencatat fakta yang menyayat hati, tidak ada satu pun keluarga atau kerabat yang berani menjenguknya karena takut ikut dicurigai Belanda.
Pada 27 Februari 1864, di usia baru 32 tahun, Demang Lehman dihukum gantung. Yang membuat kisah ini begitu menyentuh, eksekusi itu jatuh tepat saat ia sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Para pejabat militer Belanda yang menyaksikan langsung pun dibuat kagum oleh ketabahannya. Ia menaiki tiang gantungan tanpa mata ditutup, dengan wajah yang tidak menunjukkan perubahan sedikit pun, sebuah ketabahan luar biasa hingga akhir hayatnya.
Kekejaman penjajah tidak berhenti meski nyawanya sudah tak ada. Usai dieksekusi, kepalanya dipenggal oleh Belanda dan dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden ke Belanda. Hingga kini, kepala sang pahlawan masih disimpan di Museum Volkenkunde, Leiden, sementara jasadnya dimakamkan tanpa kepala di tanah kelahirannya. Karena itulah ia dikenal dengan julukan yang menyayat hati, pahlawan tanpa kepala.
Semangat perjuangannya sejalan dengan prinsip yang dipegang seluruh pejuang Banjar kala itu, Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, yang berarti pantang menyerah sampai titik darah penghabisan. Sebuah keyakinan bahwa berjuang melawan penjajah adalah perang sabil, dan gugur dalam perjuangan adalah mati syahid.
Kisah Demang Lehman menjadi pengingat betapa besar harga yang dibayar para pahlawan kita untuk kemerdekaan yang kini kita nikmati. Sebuah pengorbanan yang pantas selalu dikenang oleh setiap generasi anak bangsa.
jangan lupa like, diskusi dikomentar, share dan follow saya untuk mendapatkan informasi unik berikutnya ya 🇮🇩🏋🏻♀️
22/06/2026
"GALUH ADALAH KERAJAAN JAWA DAN PRABU SILIWANGI ADALAH WANGSA ATAU TRAH GALUH"
SEJARAH NUSANTARA HARUS DILURUSKAN!
Berdasarkan peta tersebut dan data sejarah terkait, wilayah Kerajaan Galuh dan sunda saat ini mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, hingga sebagian Jawa Tengah.
Berdasarkan etimologi bahasa Jawa Kuno (Kawi) dan Sanskerta, nama Galuh memiliki beberapa arti yang saling berkaitan:
Permata atau Intan: Dalam bahasa Jawa Kuno, Galuh berarti permata atau intan.
Putri Raja atau Gadis: Selain merujuk pada batu mulia, kata Galuh dalam bahasa Jawa Kuno juga digunakan untuk menyebut seorang gadis atau putri raja.
Inti atau Hati (Filosofis): Secara filosofis dalam budaya lokal, Galuh sering disejajarkan dengan kata Galih yang berarti inti atau "hati".
Berikut adalah rincian wilayah tersebut jika disesuaikan dengan daerah sekarang:
1. Wilayah Kerajaan (Jawa) Galuh
Wilayah Kerajaan Galuh (warna oranye tua di peta) membentang dari timur Sungai Citarum hingga ke Sungai Serayu dan Sungai Cipamali.
Daerah-daerahnya sekarang meliputi:
Kabupaten Ciamis: Pusat kekuasaan atau ibu kota Galuh berada di wilayah yang kini dikenal sebagai Ciamis, khususnya di daerah Kawali (Situs Astana Gede).
Kota Banjar: Wilayah pusat kekuasaan awal sebelum pindah ke Kawali.
Priangan Timur: Meliputi daerah Tasikmalaya (Galunggung), Garut (Cangkuang), dan sekitarnya [Visual Map].
Jawa Tengah Bagian Barat: Sebagian wilayah Jawa Tengah saat ini seperti Brebes (Cipamali), Cilacap, Banyumas, hingga Wonosobo (hulu Sungai Serayu).
2. Wilayah Kerajaan Sunda
Wilayah Kerajaan Sunda kotanya kecil dan jumlah manusianya sedikit (warna oranye muda di peta) berada di sisi barat Sungai Citarum.
Daerah-daerah ini sekarang meliputi:
Provinsi Banten: Seluruh wilayah Banten, termasuk daerah Ujung Kulon yang menjadi batas paling barat.
DKI Jakarta: Wilayah pelabuhan Sunda Kelapa.
Bogor: Pusat kekuasaannya atau ibu kota yang dikenal sebagai Pakuan Pajajaran terletak di wilayah yang kini menjadi Kota Bogor.
Bagian Barat Jawa Barat: Termasuk daerah-daerah seperti Sukabumi (Cibadak, Cicatih) dan Cianjur [Visual Map].
3. Batas Wilayah
Batas Barat: Ujung Kulon, Banten.
Batas Timur: Sungai Cipamali (Kali Brebes) dan Sungai Cisarayu (Kali Serayu) di Jawa Tengah.
Pemisah Internal: Sungai Citarum menjadi batas alami yang memisahkan wilayah kekuasaan Galuh di Timur dan Sunda di Barat.
Setelah penyatuan kembali di bawah kepemimpinan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) dari Wangsa atau Trah Galuh ini, kedua wilayah ini dikenal secara administratif sebagai satu kesatuan Kerajaan Padjadaran yang artinya sejajar dengan ibu kota di Pakuan (daerah Bogor sekarang).
Bahan diskusi untuk ditelusuri dan diluruskan kembali sejarah yang telah dibelokan oleh para sejarawan khususnya sejarawan sunda, entah itu disengaja ataupun tidak disengaja.
Pertanyaan: Kenapa banyak orang-orang Jawa di Jawa Barat seperti di Kota Banjar, Ciamis, Caruban/Cirebon, Subang, Indramayu, Majalengka, Sumedang dll?
Jawaban: Ya karena memang daerah-daerah itu adalah bekas Wilayah Kerajaan Jawa Galuh dan orang-orang Jawa sudah menetap disana sejak dahulu kala.
Pertanyaan: Kenapa ada sedikit orang-orang Sunda di Jawa Tengah seperti di Majenang (Kabupaten Cilacap) dan Brebes?
Jawaban: Berdasarkan sejarah revolusi Indonesia, Pas**an Siliwangi ditarik (hijrah) dari Jawa Barat ke Jawa Tengah pada awal tahun 1948 sebagai konsekuensi dari Perjanjian Renville.
Berikut adalah rincian waktunya:
• Waktu Hijrah ke Jawa Tengah: Pas**an Siliwangi mulai melaksanakan hijrah pada bulan Januari 1948 setelah kesepakatan Renville ditandatangani pada 17 Januari 1948.
Salah satu titik kumpul pas**an sebelum berangkat adalah wilayah Ciwidey, Kabupaten Bandung, pada 9 Februari 1948.
• Waktu Long March Kembali ke Jawa Barat:
Istilah "Long March Siliwangi" lebih sering dikaitkan dengan perjalanan pulang mereka dari Jawa Tengah kembali ke Jawa Barat.
Perjalanan ini dimulai pada bulan Desember 1948 (beberapa sumber spesifik menyebut 19 Desember 1948 bersamaan dengan Agresi Militer Belanda II) hingga Januari/Februari 1949.
Mengapa Mereka Harus Pindah?
1. Konsekuensi Perjanjian Renville: Wilayah Jawa Barat harus diserahkan kepada Belanda karena masuk dalam "Garis Van Mook" atau garis status quo yang ditentukan dalam perjanjian tersebut.
2. Perintah Panglima Besar: Sekitar 20.000 hingga 30.000 prajurit beserta keluarga mereka harus meninggalkan kantong-kantong gerilya di Jawa Barat demi mematuhi perintah pemerintah pusat untuk berkumpul di wilayah Republik (Jawa Tengah dan Yogyakarta).
Peristiwa Long March (Pulang Kembali)
Setelah Belanda melanggar gencatan senjata dengan melakukan Agresi Militer II, Jenderal Soedirman mengeluarkan instruksi agar pas**an Divisi Siliwangi kembali ke Jawa Barat untuk membangun pertahanan gerilya di kampung halaman mereka.
Perjalanan sejauh kurang lebih 600 kilometer ini ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 40 hari.
Nah, dari peristiwa inilah ada sedikit orang-orang Sunda yang ikut bergabung dengan Pas**an Divisi Siliwangi yang tidak kembali ke Jawa Barat tapi tinggal dan menetap di daerah yang sekarang disebut Majenang (Kabupaten Cilacap) dan daerah Brebes.
Akhir kata: Semoga sejarah Nusantara bisa lurus selurus-lurusnya agar yang telah kehilangan jati diri bisa menemukan jati dirinya kembali sebagai identitas pribadinya seperti yang dikatakan oleh Gubernur Jawa Barat KDM bahwa peradaban dan terbentuknya suku Sunda ialah dimulai dari era Raja Tarusbawa, menantu Raja Tarumanegara.
Lalu bagaimana dengan identitas Jawa?
Identitas Jawa telah terbentuk jauh sebelum ada Kerajaan atau istilah Sunda. Salah satu bukti yang valid yaitu Ketika Kerajaan Sriwijaya Sumatera (bukan Kerajaan Melayu) menyerang Bhumi Jawa, dalam hal ini para ahli dan sejarawan berdasarkan hasil penelitian dan riset-riset atas peninggalan2 sejarah kepurbakalaan menyimpulkan yang dimaksud Bhumi Jawa adalah Kerajaan Tarumanegara yang berdiri di Tanah Jawa Bagian Barat (Bhumi Jawa/Pulau Jawa).
Kesimpulannya: Jawa bukanlah sebuah suku melainkan Bangsa dan ajaran, tradisi serta budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun. Siapapun yang manusia yang lahir dan tinggal serta bagian atau Rakyat dari suatu Kerajaan yang berada di Tanah Jawa/Bhumi Jawa disebut Bangsa Jawa. Sebagaimana orang-orang Sunda pada zaman dahulu kala disebut sebagai orang Jawa Gunung, Jawa Kulwan atau Jawa Kulon.
Jadi sangat teramat jelas ya. Bahwa Galuh adalah Kerajaan Jawa dan Prabu Siliwangi adalah Wangsa atau Trah Galuh, bukan Wangsa atau Trah Sunda.
Selesai alias Tamat! 🙏
jangan lupa like, diskusi dikomentar, share dan follow saya untuk mendapatkan informasi unik berikutnya ya 🇮🇩🏋🏻♀️
14/06/2026
Viral!! Sumatra Barat Siap Terapkan Hukum Pidana Adat Untuk Sikat Habis Pelaku LGBTQ
Sebuah kebijakan berani dan tegas di Sumatra Barat langsung disambut antusias oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau atau LKAAM bersiap memberlakukan pidana adat untuk menindak tegas pelanggaran norma, dengan fokus utama menyasar kelompok Le***an Gay Biseksual Transgender dan Q***r atau LGBTQ.
Mari kita bedah ketegasan kebijakan yang siap membersihkan tatanan sosial masyarakat Minang ini:
- 50.000 Orang Sudah Terjangkit.
Kepala LKAAM Fauzi Bahar secara blak blakan membeberkan alasan utama di balik aturan ini. Pihaknya mencatat adanya lonjakan fantastis di mana diperkirakan ada kurang lebih 50 ribu orang yang sudah terjangkit virus kelompok LGBTQ di Sumatra Barat. Aturan ini dinilai sangat mendesak untuk mencegah generasi muda tertular, karena selama ini aparat kepolisian sering kali melepaskan pelaku dengan alasan tidak ada pihak yang dirugikan secara hukum negara, padahal hal itu jelas sangat merusak norma adat dan agama masyarakat Minang.
- Bikin Para Penyimpang Ketar-ketir.
Rencana ini langsung membuat kelompok tersebut ketakutan luar biasa. Ria, seorang waria asal Padang, mengaku bahwa selama berpuluh puluh tahun mereka memang kerap mendapat penolakan keras dari warga dan pemuda setempat. Kelompok ini merasa sangat terancam karena kondisi fisik mereka sangat mencolok, sehingga ruang gerak mereka untuk menyimpang kini benar benar dipersempit tanpa sisa oleh sanksi adat.
- Didukung Penuh Oleh Pakar Hukum. Langkah luar biasa LKAAM ini ternyata mendapat dukungan kuat dari sisi akademis. Pakar Hukum Pidana Universitas Andalas Edita Elda menjelaskan bahwa hukum adat ini sejatinya memiliki pijakan legal yang kokoh. Aturannya ditopang oleh Peraturan Daerah Provinsi serta Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2025 tentang penerapan hukum yang hidup di tengah masyarakat, yang merupakan turunan langsung dari pasal 597 KUHP nasional.
- Kelompok Pelindung Kehabisan Akal.
Di tengah dukungan luas masyarakat, segelintir pihak pendamping minoritas mencoba mencari celah dengan menyebut aturan ini seolah olah cacat hukum. Mereka berargumen bahwa Sumatra Barat bukanlah daerah dengan status otonomi khusus seperti Aceh. Namun, masyarakat tetap teguh pada pendirian bahwa menjaga moral leluhur adalah harga mati, dan tidak akan membiarkan dalih kebebasan merusak masa depan anak cucu mereka.
Langkah tegas LKAAM ini dinilai sangat selaras dengan keinginan mayoritas rakyat Indonesia yang ingin menjaga keutuhan norma keluarga. Ketegasan hukum adat terbukti menjadi tameng paling ampuh untuk menyapu bersih penyimpangan sosial di tengah masyarakat. Tinggal menunggu Negara membuat aturan secara resmi seperti yang dilakukan Rusia dengan menjadikan kelompok LGBTQ Sebagai Ter*ris!
Disadur dari: BBC
jangan lupa like, diskusi dikomentar, share dan follow saya untuk mendapatkan informasi unik berikutnya ya 🇮🇩🏋🏻♀️
Click here to claim your Sponsored Listing.