Promosi Novel Gratis

Promosi Novel Gratis

Share

Neny Nina.

13/03/2026

"Ijazah SMP-mu itu cuma laku buat bungkus kacang, Wulan!"Jangan mimpi jadi sarjana. Buat beli beras besok saja Simbok harus ngu tang ke warung.'

Bentakan Simbok meledak, bersahutan dengan suara bambu yang meledak di tungku karena belum di belah. Asap dapur yang pengap membuat mata Wulan perih, atau mungkin itu memang air mata yang sudah di ujung pelupuk. Ia mematung, jemarinya meremas pinggiran meja kayu yang lapuk dimakan usia. Kalimat itu bukan sekadar amarah,tetapi itu adalah vonis mati bagi impian yang ia lipat rapi di bawah bantal lusuhnya setiap malam.

"Wulan berangkat ke Jakarta besok, Mbok. Tunggu kiriman uang sebulan lagi," sahut Wulan lirih. Ia mencoba menutupi kesedihannya.

Simbok berhenti mengaduk sayur, punggungnya yang bungkuk tampak menegang. "Jakarta itu keras, Nduk. Kamu cuma punya ijazah sampah."

Wulan tidak menoleh. Ia hanya menatap bayangannya sendiri di lantai tanah yang retak.

"Justru karena ijazah Wulan dianggap sampah, Wulan harus pergi. Biar orang tahu kalau harga diri Wulan nggak bisa dibeli pakai recehan."

_

Seminggu kemudian, aspal Jakarta yang membara menyambut alas sandal jepitnya yang menipis. Di sebuah ruang tamu yang aromanya seperti toko parfum mewah, Wulan berdiri dengan kepala tertunduk.

"Ini calon pembantu barunya, Jeng Arini. Masih gres, lulusan SMP kampung. Dijamin nurut dan nggak kakehan polah," ujar Bu Broto, makelar yang membawanya.

Arini, wanita dengan tatanan rambut kaku dan jemari penuh berlian itu, menyesap tehnya perlahan. Matanya menyapu sosok Wulan dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang memeriksa kotoran yang menempel di sepatunya.

"Kurus begini? Bisa kerja apa?" cibir Arini. Bibirnya yang merah menyala membentuk lengkungan sinis. "Jangan sampai baru pegang sapu sebentar sudah pingsan."

Wulan memilin ujung dasternya yang pudar. "Wulan kuat, Bu. Wulan biasa manggul kayu dari hutan. Pekerjaan apapun Wulan kerjakan asal bisa kirim u ang buat sekolah adik, Bu."

"Halah, alasan saja ," Arini meletakkan cangkir porselennya dengan denting yang ta jam. "Seragammu di belakang. Langsung kerja! Jangan manja pakai alasan puasa. Di sini nggak ada tempat buat orang malas."

Jakarta ternyata jauh lebih menyesakkan dibanding asap tungku Simbok. Jarum jam menunjukkan angka tujuh malam. Azan Magrib sudah lama berlalu, namun setrika di tangan Wulan masih dipaksa berdansa di atas tumpukan baju yang menjulang. Perutnya melilit, perih seolah-olah sedang diremas tangan tak kasatmata.

"Selesaikan itu dulu baru boleh buka! Jangan mau enaknya saja!" teriak Arini dari ruang makan.

Aroma ayam goreng mentega dan segarnya es buah meliuk-liuk di udara, mengejek kerongkongan Wulan yang mengering. Saat akhirnya ia diizinkan ke dapur, yang tersisa hanyalah seonggok nasi keras dan potongan tahu dingin yang sudah berlendir. Wulan menghela napas, menatap nanar piringnya. Matanya kemudian tak sengaja menangkap kotak kurma premium di atas meja. Besar, berkilat, dan tampak berdaging tebal.

"Ingin? Ambil saja satu. Anggap saja bonus karena kerjamu rapi," suara Arini tiba-tiba muncul di ambang pintu, membuat Wulan terlonjak.

Wulan mengerjap, seolah tak percaya pada pendengarannya.

"Beneran, Bu?"

"Iya, ambil. Jangan bilang saya pelit."

Dengan jemari gemetar, Wulan mengambil sebutir. Ia tidak memakannya. Benda manis itu ia bungkus hati-hati dengan tisu, lalu ia selipkan ke dalam saku. Buat Simbok, batinnya. Ia ingin Simbok merasakan kurma mahal ini saat paket pertamanya dikirim nanti. Namun, sebutir kurma itu justru menjadi tiket menuju neraka.

"MA LING! ADA MA LING DI RUMAH SAYA!"

Lengkingan Arini menggelegar saat Bu Broto datang berkunjung malam itu. Wulan yang sedang mengepel lantai mendadak kaku. Tanpa permisi, Bu Broto merogoh saku daster Wulan dan menarik keluar bungkusan tisu itu.

Plakk!

Tam paran keras mendarat di p**i kiri Wulan. Pandangannya mendadak buram, telinganya berdenging hebat.

"Dasar maling! Baru kerja sehari sudah berani nyolong barang majikan!" bentak Bu Broto, wajahnya memerah padam.

"Tapi Bu ... tadi Ibu Arini sendiri yang kasih ..." Wulan terisak, mendekap p**inya yang terasa panas membara.

Arini tertawa sinis, melipat tangan di dada. "Saya kasih? Kapan? Jangan fitnah ya! Saya cuma suruh kamu lap meja, eh malah kamu kuras isinya. Dasar men tal ba bu!"

Mereka tertawa di atas air matanya. Kurma itu dilempar ke lantai, lalu diinjak oleh tumit sepatu hak tinggi Bu Broto tepat di depan mata Wulan.Hancur Persis seperti martabatnya yang kini berserakan di lantai.

"Gajimu bulan ini dipotong buat ganti rugi kurma mahal itu! Besok kamu pindah ke majikan lain!" putus Arini dingin.

"Tolong Bu, jangan pecat saya, tidak apa-apa gaji Wulan di potong, Bu."

"Baik, bagus kalau begitu kamu masih boleh kerja di sini."

Malam itu, Wulan meringkuk di kamar sempit yang hanya berisi kasur tipis dan aroma apek. Tak ada pundak untuk bersandar, hanya dinginnya tembok semen yang menemani isaknya. Tiba-tiba, pintu kamarnya berderit. Pak Joni masuk dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah penuh simpati.

"Kasihan sekali kamu, Wulan. Istri saya memang keterlaluan kalau marah," bisik pria itu.

Ia meletakkan sebuah ponsel baru dan selembar uang seratus ribu di samping bantal Wulan. "Pegang ini. Kamu bisa telepon Simbok sekarang. Biar hatimu tenang."

Mata Wulan berbinar sejenak. "Ini... buat Wulan, Pak?"

"Iya. Tapi tentu ada imbalannya," Pak Joni mendekat. Tangannya yang kasar mulai merayap ke bahu Wulan, sebuah sentuhan yang membuat seluruh bulu kuduk gadis itu berdiri karena jijik.

"Temani Bapak ngobrol di sini sebentar ya? Tutup pintunya."

Darah Wulan mendidih. Ia melihat uang itu, lalu melihat wajah berminyak di depannya. Haruskah ia menukar kehormatannya demi selembar kertas merah dan benda elektronik ini? Tidak. Simbok benar, ia miskin, tapi ia bukan rongsokan yang bisa ditawar.

Wulan menyambar ponsel itu dan membantingnya ke kasur dengan seluruh sisa tenaganya. "Keluar, Pak! Atau Wulan teriak sekarang juga!"

Wajah Pak Joni berubah jadi marah. "Oh, berani kamu ya? Lihat saja, besok kamu akan saya buang ke tempat yang lebih busuk dari ini!"

Pintu dibanting keras. Wulan terduduk lemas di lantai. Hatinya memang remuk berkeping-keping, tapi di atas puing-puing itu, sebuah tekad baru tumbuh lebih ta jam dari sebelumnya

Mereka pikir anak kampung ini akan mati kutu? Wulan menyeka air matanya dengan kasar hingga p**inya yang le bam terasa perih. Tunggu bsaatnya. Akan kubuat kalian merangkak di kakiku. Sakit hati ini ... akan ku bayar dengan bunganya.

_

Bersambung ....

Judul: Ramadhan tanpa Simbok

Penulis: Eni sasmitha _LTF

Baca selengkapnya hanya di KBM App

25/02/2026

Manisnya Brond**g

Bab 5

Celine duduk di sofa.
Matanya masih menatap
ponsel Rey yang terbuka. Setelah membaca pesan dari Tante Vera, ia membuka galeri tanpa niat awal. Tapi satu album membuat jari-jarinya berhenti. Album itu dinamai Kita.
Dengan hati-hati Celine mengetuk album itu. Deretan foto muncul. Selfie Rey dan Tante Vera. Ada yang di dapur. Ada yang di ruang tamu. Bahkan ada yang di taman belakang rumah Tante Vera.

Senyum mereka terlalu dekat. Terlalu hangat. Salah satu foto bahkan memperlihatkan Rey men ci um pelipis Tante Vera.

Celine mencengkeram ponsel itu kuat-kuat. Napasnya mulai tak beraturan. Matanya panas. Bukan karena debu. Tapi karena kecewa.

Pintu rumah terbuka. Rey masuk dengan senyum.

"Sayang, jalan-jalan keluar yuk ..."

Suara Rey ringan, seperti tak terjadi apa-apa.

Celine berdiri. Ia menatap Rey dengan tajam.

"Lihat ini dulu sebelum ngajak aku jalan."

Dia melemparkan ponsel ke sofa, tepat di depan Rey.

Rey melihat layar. Ekspresi wajahnya berubah.

"Celine ... itu cuma foto. Gak ada apa-apa."

"Rey, kamu pikir aku bodoh? Senyumanmu, pelukannya, itu bukan sekadar foto biasa."

Rey mendekat, berusaha meraih tangan Celine. Tapi Celine mundur satu langkah.

"Aku bukan boneka, Rey. Aku punya rasa. Aku gak bisa pura-pura gak lihat ini semua."

Rey terduduk di sofa.

"Aku ... aku gak tahu harus jelasin gimana."

"Jawab aku satu hal. Kamu pernah s**a sama dia?"

Suasana menjadi hening. Rey tak menjawab.

Kepalanya tertunduk. Tangannya mengusap wajahnya. Ponselnya masih terbuka. Satu pesan masuk. Dari Tante Vera.

"Rey, nanti malam jangan lupa datang ya. Aku udah siapin sesuatu yang kamu s**a. Jangan bilang-bilang Celine, ini rahasia kita."

Rey menutup ponselnya cepat-cepat. Kepalanya makin pusing. Hatinya penuh sesal.

"Apa yang sebenarnya aku lakuin ..." gumamnya.

Di luar sana, Celine berjalan cepat di pinggir jalan. Angin sore menyapu wajahnya yang panas. Tapi tak bisa mendinginkan amarah di dadanya.

Rey beranjak dari sofa dan menyusul Celine. Tapi Celine masih sangat marah dan dia ingin membuat perhitungan dengan Rey dan Tante Vera.

Celine membelakangi Rey. Mulutnya terkunci dan buliran bening membasahi p**inya.

"Pulanglah, Rey ... Biarkan aku sendiri. Jangan kau risaukan aku lagi. Biarlah waktu yang akan menjawab."

Celine bergumam dalam hati, Lihat saja besok akan aku balas sakit hatiku. Semua penghuni kampus akan tahu siapa kau sebenarnya.

"Sayang ... bagaimana mungkin aku pulang, kamu di sini sendirian. Matahari sangat terik. Nanti kulit kamu hitam, sayang. Ayo masuk, sayang ..."

ucap Rey sambil menggandeng Celine.

Celine berpura-pura sudah melupakan kecemburuannya agar rencananya berjalan sesuai harapan.

"Sudah tidak marah, kan?"

Rey mulai merayu.

"Tidak, asal aku diizinkan menghapus foto itu," pinta Celine.

Alih-alih menghapus foto Rey dan Tante Vera, Celine mengirim foto itu ke ponselnya. Hatinya puas.

"Ini sudah."

Celine mengembalikan ponsel Rey. Agar Rey tidak curiga bahwa dirinya hanya berpura-pura memaafkan, Celine mulai bersikap manis.

"Sayang, kamu mau minum apa? Kopi panas atau jus?"

ucap Celine, terdengar sangat lembut.

"Jus saja, sayang, karena hari sangat panas,"

jawab Rey lega.

Celine bergegas ke dapur. Dan beberapa menit kemudian dia sudah kembali dengan jus melon yang segar. Celine menyodorkan jus kepada Rey.

"Minumlah, sayang ... eh, tunggu. Kamu kan sedang sakit perut, ya? Jangan minum jus buah deh. Teh aja ya, sayang,"

ucap Celine sambil bergelayut di bahu Rey. Padahal hatinya sangat muak.

"Kalau kamu yang buat, pasti jadi obat. Tidak apa-apa, aku minum saja sini."

Rey mengambil jus dan meminumnya.

"Terima kasih, sayang. Jusnya sangat segar dan manis seperti kamu,"

rayu Rey.

"Pinter banget ayang beb aku merayu ya,"

ucap Celine melempar senyum.

"Bukan merayu, sayang, tapi kenyataan,"

Rey mengumbar senyum paling manis.

Sementara Bu Vera tampak kesal karena teleponnya tidak juga diangkat. Ada kecemburuan yang berkobar di dalam hatinya.

Ketika Celine kembali ke dapur untuk mencari camilan, Rey cepat-cepat membuka ponselnya.

Banyak pesan dari Bu Vera. Tapi yang paling dia s**a, membaca pesan dari Tante Vera.

"Ya ampun, sudah ketemu pacar lupa kita semua? Belum puas juga pacaran sampai gak ingat Mama?"

Mata Rey terbelalak membaca pesan itu. Rupanya Bu Vera marah karena dia sudah lama meninggalkan Mama.

"Sayang, aku disuruh pulang. Papa katanya Papa mau pergi lagi,"

Celine menatap curiga Rey. Tapi dia harus tetap manis agar rencananya tetap berjalan lancar.

"Iya, sayang ... hati-hati ya,"

ucap Celine.

Dalam hatinya bertanya, Papanya yang nyuruh atau Tante Vera?

"Iya sayang ... besok aku jemput atau bagaimana, aku kuliahnya ambil siang sayang mau temenin mama dulu."

"Aku berangkat sendiri saja. Karena kuliahnya pagi, sayang."

Senyum Celine mengembang. Rey mulai meninggalkan rumah Celine.

Celine menutup pagar dan bergegas ke dalam. Rasanya tidak sabar menunggu esok hari.

Sebenarnya Celine punya rencana apa di kampuas gaess?

Yuk lanjut ke bab berikutnya.

Judul: Manisnya Brond**g
Penulis : Eni sasmitha_LTF
Baca selengkapnya hanya di KBM App

24/02/2026

Manisnya Brond**g

Bab 4

Wajah Rey mendekati wajah Celine.

"Sayang ... kamu cantik sekali."

Rey semakin mendekati bibir ranum Celine.

Celine memejamkan matanya, menunggu ciuman itu mendarat.Hati Celine semakin berdebar.

Semakin dekat. Dan sangat dekat. Dan akhirnya ...

Rey menjauhkan wajahnya dari wajah Celine ketika Bu Vera memanggilnya.

"Rey ... di mana kamu?"

Bu Vera pura-pura tidak melihat adegan yang akhirnya tertunda.

"Di sini, Tante."jawab Rey .

Rey melepas tangan mereka yang saling bertautan.

Celine tersenyum penuh makna, ada rasa kesal di hatinya. Mengapa ada yang mengganggu mereka.

"Ayo masuk, Celine ... jangan cemburu. Masa kamu cemburu ke Tante yang sudah nenek-nenek begini."

Bu Vera menggandeng tangan Celine. Bu Vera berusaha mencairkan suasana. Agar ketegangan di hatinya melihat adegan yang hampir saja terjadi hilang.

Celine mulai merasa lega. Sedikit rasa kesalnya sudah mulai sirna.

"Iya, Tante."

Celine tersenyum tipis dan menepis semua kecemburuan yang meledak-ledak.

"Ya sudah, Tante masak dulu buat makan siang kita, ya."ujar Bu Vera.

Bu Vera bergegas ke dapur.Dengan perasaan menang merasa telah menggagalkan sesuatu yang membuat cemburu.

Sementara Rey dan Celine duduk di samping Bu Windi. Sesekali Celine mengusap lembut tangan Bu Windi.

"Sayang, aku ke belakang dulu, ya."

Rey bergegas meninggalkan Celine dan mamanya.

"Kenapa, Rey, mules lagi?"

Bu Vera menatap Rey sedikit khawatir.

"Iya, mules lagi."

Jawab Rey sambil cepat-cepat membuka pintu kamar mandi.

Setelah selesai, Rey menghampiri Bu Vera yang sedang masak.

"Tante masak apa?"

Rey merapatkan tubuhnya, melihat Bu Vera sedang masak.

"Yang gampang saja, ayam goreng dan capcay."

Ujar Bu Vera tanpa menatap Rey.

"Tante cantik, kenapa kok buang muka?"

Rey heran.

"Mana ada nenek-nenek cantik. Sudah sana ke ruang tamu! Nanti Celine cemburu."

Ucap Bu Vera menjauhi Rey.

Sebelum ke ruang tamu, ciuman kilat Rey mendarat di rambut Bu Vera sambil berucap, "Yang enak yang, Tante."

Mendapat perlakuan mesra dari putra temannya, hari Bu Vera sangat bahagia. Hilang sudah cemburu yang sempat membara.

Rey sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Tapi mengapa ada getaran halus yang menyusup ke relung hatinya.

"Celine, Rey, ayo makan siang. Tante sudah selesai masaknya."

Celine dan Rey menghampiri meja makan. Sementara Bu Windi sudah tidur, mungkin karena pengaruh obat yang diminumnya.

Bu Vera menyiapkan makan siang dengan sangat rapi. Dia duduk di antara Rey dan Celine.

Saat Celine ingin mengambil nasi untuk Rey, tapi dia sudah keduluan sama Bu Vera.

"Nih, kamu makan yang banyak, ya."

Bu Vera mengambilkan nasi untuk Rey.

"Iya, Tante."

Rey mulai menyantap makan siangnya.

"Tante, ini lezat sekali. Ayam gorengnya gurih sampai ke dalam."

Puji Rey sambil mengambil ayam goreng lagi.

"Ah, biasa saja. Ayo, Celine, kamu makan. Nanti Tante ajarin masak ayam goreng seperti ini. Lihat Rey nambah, loh."

"Iya, Tante."

Celine menatap tajam Rey.

Hatinya berkata, aku atau dia sih yang jadi pacarnya.

Mengapa aku seperti kambing congek yang melihat kemesraan mereka. Lihat saja nanti, aku bakal bikin perhitungan dengan mereka.

Gerutu Celine sambil sedikit makan. Rasanya Celine tidak kenyang. Karena dia ingin memakan orang yang masaknya.

Kecemburuannya mulai berkobar. Darah mudanya mulai mendidih.

Celine mengambil minum dan tidak sengaja gelas pecah olehnya.

Karena begitu kuat tangannya memegang.

Ekspresi kecemburuan yang berkobar hingga gelas jadi pelampiasan.

"Kenapa, sayang?"

Ujar Rey sambil memegang tangan Celine yang sedikit terluka. Mungkin itu sudah retak jelasnya.

"Sakit?"

Rey menatap kekasihnya sambil memegang lembut tangannya.

"Tanganku tidak sakit, Rey, tapi hatiku sakit melihat kalian begitu mesra."

Celine bergegas meninggalkan meja makan dan pulang tanpa pamit ke Bu Vera yang masih sibuk di dapur.

Sementara Rey mengejar Celine.

"Sayang, kamu jangan begitu d**g. Ayo naik, aku anterin."

Rey menghadang Celine dengan motornya.

"Tidak usah ... sana aja pulang temenin Tante gatel yang sudah bersantan itu."

Celine cemberut. Sementara Rey masih di atas motornya.

Perlahan Rey turun dan memarkir motornya di bawah pohon. Dia berpikir keras bagaimana caranya meluluhkan hati kekasih yang dicintainya itu.

"Oh iya, aku tahu. Tadi ada yang menunggu sesuatu rupanya ya, tapi sayang ada iklan. Sini ... sini ...."

Rey menarik lembut tangan Celine.

Dengan cepat kilat Rey mendaratkan ciuman lembutnya di ujung rambut Celine.

Ketika Rey membalikkan badan Celine agar menatapnya, Celine tersipu malu.

Namun belum sempat Rey mendaratkan ci uman lembut, rupanya semesta tidak pernah mendukungnya. Terdengar suara abang tukang siomay lewat.

"Siomay ... siomay."

Abang siomay melewati mereka.

Rey hanya tersenyum. Sekali lagi Tuhan melarangnya untuk berciuman.

"Ayo, aku anter pulang."

Rey mengantar Celine pulang.

"Rumah sepi, sayang."

Rey heran melihat rumah Celine sepi.

"Iya ... Mama, Papa, dan adik-adik sedang ke rumah Nenek."

"Sayang ... aku ke masjid dulu ya, belum salat Zuhur."

Celine mengangguk dan merebahkan badannya di sofa depan TV.

Rey meninggalkan dompet dan ponselnya di meja ruang tamu.

Beberapa menit berlalu. Ponsel Rey berbunyi.

Celine menghampiri ponsel Rey.

Terlihat nama Tante Vera di layar ponsel.

Celine semakin kesal.

Setelah panggilan telepon berakhir, Celine mencoba buka ponsel Rey. Haduh, ternyata dikunci.

Celine berpikir, pakai sandi apa coba. Siapa tahu tanggal lahir Rey. Dan ternyata benar.

Setelah Celine bisa membuka ponsel Rey,

mata Celine terbelalak dan giginya gemeretak

Judul: Manisnya Brond**g
Penulis: Eni sasmitha_LTF
Baca selengkapnya hanya di KBM App

17/02/2026

"Di saat orang lain berburu pahala, aku justru kehilangan ayah."

------------------------
Part 3

"Ibu! Bangun, Bu! Jangan tinggalkan Ara sendiri!" teriakku histeris.

Suaraku menggema, memantul di dinding-dinding kamar yang mendadak terasa asing dan sempit. Aku mengguncang bahunya, menepuk p**inya yang pucat, namun hanya keheningan yang menjawab. Pagi itu, saat matahari Ramadhan pertama mulai mengintip dari ufuk timur dengan cahaya oranye yang mengejek, rumah kami tidak lagi terasa seperti tempat berteduh. Ia terasa seperti penjara bawah tanah yang siap runtuh dan menimbun kami hidup-hidup.

Dengan sisa tenaga dan pandangan yang mengabur oleh air mata, aku meraih ponsel. Jariku sempat berhenti sejenak di atas nama 'Ayah'. Namun, akal sehatku segera menampar nuraniku. Tak ada gunanya menghubungi laki-laki itu. Laki-laki itu sedang asyik membasuh dirinya dengan kemewahan, memulai hidup baru di atas bangkai kebahagiaan kami. Baginya, kami mungkin hanyalah masa lalu yang harus segera dihapus dari buku kas kehidupannya.

Aku menghubungi Pak RT dan beberapa tetangga terdekat. Kesibukan mendadak memenuhi rumah kecil kami yang biasanya tenang. Suara sirine ambulans yang meraung-raung di gang sempit itu seolah menjadi musik latar bagi hancurnya martabat keluarga kami. Ibu dilarikan ke puskesmas terdekat karena tekanan darahnya melonjak drastis ke angka yang membahayakan nyawa.

Dokter bilang, Ibu terkena serangan syok hebat. Istilah medis yang sebenarnya berarti: hatinya sudah tidak kuat lagi menanggung beban pengkhianatan.

"Ibu Anda butuh ketenangan total, Dek Ara. Jangan biarkan dia memikirkan hal-hal berat dulu," pesan dokter itu dengan tatapan prihatin.

Ketenangan. Sebuah kata yang terdengar sangat mahal dan nyaris mustahil kami miliki saat ini. Bagaimana bisa tenang jika setiap tarikan nafas kami kini dihargai dengan rupiah oleh bank?

Baca selengkapnya di KBM

Judul : kado pahit di bulan ramadhan

Penulis : author kece

14/02/2026

“Bapak … maksudnya apa?”
Suara itu keluar dari bibirku begitu saja, nyaris tak terdengar.

Ayah mertua masih berdiri di depan pintu kamar, tatapannya sulit kutafsir, hangat, tapi juga membuat bulu kudukku berdiri.

“Enggak usah takut,” katanya pelan, melangkah masuk. “Bapak tahu kamu banyak tanggungan, Wahyu juga sering kasar. Kalau ada apa-apa, bilang sama Bapak, ya.”

Aku mundur sedikit, memeluk Daffa yang bersembunyi di belakangku. “Iya, Pak. Terima kasih. Tapi saya … saya bisa urus sendiri.”

“May ….” Ia mendekat selangkah lagi, suaranya menurun. “Bapak cuma kasihan. Kamu enggak salah.”
Lalu, begitu saja, tangannya menyentuh lenganku sebentar.

Refleks aku menjauh. “Pak, jangan, Pak, tolong keluar.”

Ia langsung mundur dua langkah, mengangkat tangan. “Maaf, Bapak enggak bermaksud apa-apa. Sudah, kamu istirahat.”

Ia berbalik dan menutup pintu perlahan. Tapi entah kenapa, udara kamar jadi terasa dingin dan sempit.

Aku menatap pintu itu lama. Ada sesuatu yang berubah.
Sikapnya bukan sekadar iba, ada tatapan yang membuatku tidak tenang.

Paginya, aku berangkat kerja seperti biasa. Aku masih bisa merasakan memar di p**i, tapi aku sudah menutupinya dengan bedak sedikit tebal.

Sampai di pabrik, Susi langsung menatapku khawatir.

“Maya … wajahmu kenapa?!”

Aku menggeleng cepat. “Kepentok lemari, Sus.”
Susi memelototiku. “Jangan bohong. Itu pasti ulah Wahyu lagi, kan?”

“Ssst, jangan keras-keras.” Aku menarik lengannya. “Nanti orang dengar.”

Susi mendengkus kesal. “Udah, kamu harus mulai mikir buat diri sendiri, May. Enggak bisa terus kayak gini.”

Aku diam, menatap tumpukan kain di meja. “Aku cuma pengen Daffa punya bapak.”

“Tapi kamu juga manusia,” bisiknya pelan.

Hari itu berjalan lambat. Tubuhku lelah, tapi pikiran jauh lebih capek. Kata-kata Susi, tatapan aneh ayah mertua semalam, semuanya berputar di kepala.

Setelah jam kerja selesai, aku pulang dan berhenti sebentar di warung depan pabrik untuk beli nasi bungkus. Saat membuka ponsel, ada satu pesan masuk dari nomor yang sudah sangat kukenal.

[Gimana tidurmu semalam?]

Jari-jariku sempat ragu. Tapi entah kenapa, kali ini aku membalas.

[Enggak bisa tidur. Banyak pikiran.]

Beberapa detik kemudian, balasannya masuk lagi.
[Kamu boleh cerita ke saya. Enggak harus semuanya. Kadang cuma didengar aja udah cukup, kan?]

Aku tersenyum kecil, menatap layar ponsel. Entah kenapa kata-kata itu terasa hangat, sederhana, tapi menenangkan.

[Saya takut kalau banyak cerita, nanti malah ganggu Bapak.]

[Enggak akan ganggu. Saya juga sering ngerasa capek. Mungkin kita sama-sama butuh tempat buat cerita.]

Aku berhenti mengetik sejenak. Ada sesuatu yang berubah dari perasaanku. Obrolan ini seharusnya biasa, tapi kenapa aku menantikan setiap pesannya datang?

Beberapa malam berikutnya, obrolan kami jadi kebiasaan.
Kalau Daffa sudah tidur, aku akan duduk di pojok kasur, memegang ponsel sambil menahan tawa kecil membaca balasan Tama.

[Mbak Maya s**a hujan?]

[S**a. Tapi cuma kalau gak bocor atapnya.]

[Haha. Rumah saya juga bocor. Bedanya, saya sendirian di rumah, gak ada yang bisa disalahin.]

[Kalau saya, selalu disalahin meski atapnya gak bocor.]

Aku tertawa kecil. Entahlah, baru kali ini Akuerasa bahagia.

Obrolan kami tidak pernah melewati batas, hanya tentang pekerjaan, anak, dan rasa lelah yang sama-sama kami rasakan. Tapi tiap kali ponsel berbunyi, jantungku ikut berdegup lebih cepat.

Malam itu, saat sedang mengetik balasan, pintu kamar tiba-tiba diketuk.

Pelan tapi membuatku tersentak.

“May.” Suara itu berat. Ayah mertua.

“Iya, Pak?”

“Boleh Bapak masuk?”

Aku cepat menutup chat Tama dan meletakkan ponsel di bawah bantal. “Iya, Pak. Ada apa?”

Pintu terbuka, dan beliau masuk sambil membawa segelas air hangat. “Bapak lihat kamu sering batuk. Ini minum dulu.”

Aku menerima gelas itu dengan canggung. “Terima kasih, Pak.”

“Gimana kerja hari ini?”

“Lancar, Pak.”

Ia mengangguk, tapi matanya tidak lepas dari wajahku. “Kamu kelihatan makin kurus. Daffa juga butuh ibunya sehat.”

Aku menunduk. “Iya, Pak.”

“Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan.”

“Insyaallah, Pak. Saya gak mau nyusahin.”

Ia mendekat sedikit, duduk di kursi kecil dekat ranjang. “Kamu gak nyusahin. Justru kamu yang disusahin.”

Ada keheningan panjang. Aku bisa merasakan tatapan matanya di wajahku. Rasanya tak nyaman, tapi aku tak berani mengusirnya.

Akhirnya ia berdiri. “Sudah, istirahat, ya.”

Begitu pintu tertutup, aku langsung menarik napas lega. Daffa masih tidur pulas. Tapi aku tahu, aku tidak salah merasa ada sesuatu yang berubah.

Keesokan harinya di pabrik, Susi menatapku sambil menggoda.

“Kayaknya kamu sering senyum sendiri, May. Ada apa nih?”

Aku menahan tawa. “Ah, enggak. Cuma … ada temen ngobrol aja.”

“Temen ngobrol?” Ia mengangkat alis. “Cowok?”

Aku menunduk, pura-pura sibuk melipat kain. “Cuma atasan di tempat lama. Nanya kabar.”

Susi menyipit. “Kamu hati-hati, May. Kadang dari obrolan ringan bisa jadi ketergantungan.”

Aku tak membantah. Karena jauh di dalam hati, aku tahu yang dikatakannya benar.
Aku mulai menunggu pesan dari Tama setiap saat. Dan anehnya, aku merasa lebih hidup karenanya.

Suatu malam, setelah pertengkaran seperti biasa dengan Mas Wahyu yang pulang mabuk, aku menatap ponsel di tangan. Air mataku menetes, tapi jariku tetap mengetik.

[Pak Tama, saya capek. Kadang pengen pergi aja.]

Balasannya datang cepat.
[Kalau kamu pergi, kamu mau ke mana?]

[Entahlah. Ke tempat yang gak ada teriakan.]

[Tempat kayak gitu mungkin gak ada, Mbak. Tapi kalau kamu butuh tenang, saya bisa dengerin.]

Aku menangis makin kencang.
[Kenapa Bapak baik banget sama saya?]

[Karena saya tahu rasanya sendirian.]

Aku tak bisa membalas lagi. Tapi malam itu, aku sadar, aku sudah bergantung padanya.

Beberapa hari kemudian, Mas Wahyu mulai bersikap lebih curiga. Ia sering memeriksa ponselku, bahkan menanyakan siapa yang sering mengirim pesan malam-malam.
Aku selalu bilang itu Susi. Tapi tatapannya makin curiga.

Suatu sore saat aku pulang, aku mendengar suara lirih dari ruang depan. Ayah mertua dan ibu mertua sedang bicara, tapi aku menahan napas di balik pintu.

“Bapak, saya gak s**a lihat cara kamu liatin si Maya itu,” kata ibu mertua tajam.

“Ngawur kamu,” sahut bapak tenang. “Saya cuma kasihan.”

“Kasihan? Tatapan kamu bukan tatapan kasihan. Saya tahu kamu pikir saya gak lihat, ya?”

“Udah, jangan banyak ngomong.” Suara bapak meninggi sedikit. “Kalau gak s**a, bilang aja!”

Aku menahan napas, jantung berdegup cepat. Jadi bukan aku yang berlebihan. Ibu mertua pun merasakan keanehan itu.

Malamnya, aku tidak bisa tidur. Pesan dari Tama masuk lagi.
[Mbak Maya, apa kamu baik-baik aja?]

[Di rumah makin kacau, Pak. Saya takut.]

[Kenapa? Ada yang ganggu?]

[Entahlah. Tapi saya merasa rumah ini bukan tempat aman lagi.]

[Kalau gitu, kamu keluar aja dulu. Cari tempat tenang. Saya bantu kalau perlu.]

Aku buru-buru membalas.
[Tidak, Pak. Saya gak bisa nerima bantuan uang atau tempat tinggal. Nanti malah salah paham.]

[Saya gak maksud apa-apa. Cuma gak pengen kamu terluka lagi.]

Aku menatap pesan itu lama. Dan tanpa sadar, air mata jatuh lagi.

Sekitar tengah malam, aku mendengar suara langkah kaki di luar kamar. Awalnya kukira Mas Wahyu, tapi suara itu terlalu pelan, terlalu hati-hati.
Aku bangkit pelan, menatap pintu. Daffa tidur di pangkuanku.

Pintu diketuk pelan.

“May … ini Bapak, sudah tidur?" Suara lirih itu terdengar.

Aku menelan ludah. “Iya, Pak?”

“Boleh masuk sebentar? Bapak cuma mau ngomong.”

Aku berdiri, menatap pintu yang masih tertutup. “Ngomong apa, Pak? Besok aja, ya. Daffa udah tidur.”

“Tapi ini penting.”

Suaranya terdengar makin dekat.

Aku menatap gagang pintu yang mulai bergerak pelan, seperti ada yang mencoba membukanya dari luar.

Tanganku gemetar, memeluk Daffa erat-erat.

“Pak, jangan masuk." Suaraku bergetar. “Saya … saya mau tidur.”

Tak ada jawaban.
Hanya suara napas berat di balik pintu.

Dan tiba-tiba ...
klik.

Kunci pintu bergerak pelan dari luar.

Aku menahan napas, darah serasa berhenti mengalir.
“Pak ...,” bisikku pelan, tapi suaraku nyaris tak keluar.

Pintu itu mulai terbuka perlahan.

Bersambung …

________________________

AKU BUKAN TULANG PUNGGUNG, MAS!

Penulis: Nonnie Dyannie

PART 7

13/02/2026

“May! Buka pintunya!”

Suara Mas Wahyu menggema dari luar kamar, keras dan penuh amarah. Daffa memeluk lenganku erat, wajahnya pucat. Ponsel masih menempel di telinga, dan suara Tama masih terdengar dari seberang.

“Mbak Maya? Mbak masih di sana?” tanyanya cemas.

Aku menatap pintu yang berguncang karena pukulan suamiku. “S-saya matikan dulu, Pak …,” bisikku cepat, lalu menekan tombol merah sebelum Wahyu makin marah.

Pintu dibuka paksa. Tubuh Wahyu langsung menerobos masuk. Wajahnya merah, napasnya terengah.

“Kamu telepon siapa barusan, hah?!”

Aku mundur selangkah. “Teman kerja, Mas. Tanya soal shift besok.”

“Teman kerja? Malam-malam gini?!” Ia menggebrak meja kecil di dekat tempat tidur. “Kamu pikir aku bodoh?!”

Aku menahan napas. “Mas, tolong, aku cuma—”

“Udah, jangan banyak alasan!” Ia meludah ke lantai. “Dasar perempuan gak tahu diri!”

Aku diam, menunduk. Daffa mulai menangis pelan di belakangku. “Mas, tolong jangan di depan anak,” pintaku lirih.

Mas Wahyu melotot. “Suruh anakmu diam!”

Setelah melempar tatapan benci terakhir, ia keluar dan membanting pintu keras-keras. Suara langkahnya menjauh. Aku baru bisa bernapas lagi.

Kupeluk Daffa, menenangkannya yang terisak di dadaku. “Ssst … udah, Sayang. Tidur, ya. Ibu di sini.”

Tapi malam itu aku tidak benar-benar tidur. Aku menatap kartu nama di tangan, memikirkan suara lembut Tama yang menanyakan kabarku, sesuatu yang tak pernah kulihat lagi di rumah ini.

---

Pagi menjelang. Suara sendok dan piring beradu dari dapur. Aku beranjak pelan agar tidak membangunkan Daffa. Badanku masih lemas, tapi aku harus tetap ke pabrik.

Saat hendak keluar kamar, suara ibu mertua langsung memanggil.

“Maya! Sini sebentar!”

Aku menelan ludah dan berjalan ke ruang tengah. Ibu mertua berdiri di dekat lemari TV, tangannya memegang celengan Daffa yang pecah, koin berserakan di lantai.

“Ini apa-apaan?! Uang anak kecil bisa lenyap gini?! Kamu ambil, ya?!” Suaranya melengking.

Aku langsung kaget. “Enggak, Bu! Sumpah, bukan saya!”

“Terus siapa? Masa ayamnya kabur bawa uang?!” bentaknya sambil menunjuk celengan yang pecah. “Kamu pikir saya bego?! Dari kemarin saya udah curiga kamu s**a ngumpet-ngumpetin duit!”

Aku mencoba menahan diri. “Bu, itu Mas Wahyu yang ambil. Tadi malam dia marah-marah.” Kesal, akhirnya kubilang saja seperti itu karena siapa lagi kalau bukan Mas Wahyu yang ngambil.

“Apa?!” Mata ibu mertua membulat. “Jangan fitnah anak saya, ya! Wahyu itu laki-laki baik, gak mungkin ngambil uang anaknya sendiri!”

Aku menatapnya nyaris putus asa. “Tapi, Bu, sumpah bukan saya, mana mungkin saya mengambil uang Daffa. Ibu tanya sendiri saja ke Mas Wahyu, paling juga dipake main kartu.”

“Main kartu?!” Suara ibu mertua meninggi. “Dasar kamu! Suami kamu kerja keras, kamu malah nuduh dia berjudi! Perempuan apa kamu ini?!”

Aku ingin menjawab, tapi tenggorokanku tercekat. Aku hanya mampu berbisik, “Saya enggak bohong, Bu…”

“Sudah, diam!”
Ibu mertua menunjuk wajahku dengan jari gemetar. “Kamu itu pembawa sial! Dari kamu datang ke rumah ini, hidup anak saya susah! Sekarang kamu jelek-jelekkan dia di depan saya pula!”

Air mataku menetes. “Saya cuma jujur, Bu. Demi Allah, saya enggak pernah—”

“Udah! Pergi sana! Saya muak lihat muka kamu! Kalau enggak karena Daffa, udah saya suruh anak saya cerai dari dulu!”

Aku terdiam, menggigit bibir sampai terasa asin. Daffa yang mendengar keributan itu muncul di pintu kamar sambil membawa buku gambar. “Uangku hilang, ya, Bu?”

Aku berjongkok di depannya, menghapus air mata. “Nanti Ibu ganti, ya, Sayang. Sekarang Daffa sarapan dulu.”

Ibu mertua mendengkus, lalu masuk ke dapur sambil bergumam, “Dasar perempuan pembawa masalah.”

Aku berdiri dengan tangan gemetar. Di dada, rasa malu, marah, dan sedih bercampur jadi satu. Aku melangkah pelan ke kamar, merogoh dompet. Kosong. Tidak ada uang bahkan untuk ongkos ke pabrik.

Aku duduk di pinggir ranjang. “Tuhan … aku harus apa?”

Pikiran tentang semalam kembali berputar. Suara Tama yang tenang, kata-katanya yang menenangkan. Tapi aku menggeleng keras. Tidak, aku tidak boleh bergantung pada laki-laki lain.

Aku meraih tas lusuhku dan keluar rumah dengan langkah berat. Di ruang depan, ayah mertua duduk di kursi, menonton berita pagi. Biasanya ia hanya diam, tapi pagi itu ia memanggil pelan.

“May.”

Aku berhenti. “Iya, Pak?”

“Duduk dulu, Nak.”

Nada suaranya berbeda, tidak keras, tidak menyindir. Aku mendekat dan duduk di ujung kursi.

“Bapak dengar semalam kalian ribut,” katanya pelan. “Saya enggak ikut campur, tapi saya tahu kamu capek.”

Aku menunduk, mencoba menahan air mata. “Maaf, Pak. Saya enggak bermaksud ribut. Saya cuma … gak kuat.”

Ia mengangguk kecil, lalu membuka dompet. “Kamu kerja, kan? Nih, ambil. Buat ongkos. Jangan bilang siapa-siapa, terutama Ibu. Nanti malah panjang urusannya.”

Aku menatap uang di tangannya, ragu. “Pak, saya enggak bisa nerima.”

“Udah, ambil aja. Bapak tahu kamu enggak punya ongkos. Daffa butuh makan juga, kan?”
Suaranya lembut, berbeda dari biasanya.

Aku menatap wajahnya. Ada kehangatan yang jarang kulihat dari pria sepuh itu. “Terima kasih, Pak. Saya janji enggak akan bilang ke siapa-siapa.”

Ia tersenyum samar. “Bapak juga minta maaf kalau selama ini kurang baik sama kamu. Kadang orang tua s**a salah cara ngomong.”

Aku menelan haru. “Enggak, Pak. Saya justru yang sering kurang ajar.”

“Udah, jangan mikirin itu. Kamu berangkat kerja hati-hati, ya.”
Ia menepuk punggung tanganku perlahan, hangat dan menenangkan.

Aku berdiri. “Iya, Pak. Terima kasih banyak.”

Ketika berjalan keluar, aku sempat menatap ke belakang. Ayah mertua masih duduk di kursi, menatap ke arahku dengan pandangan yang sulit kutafsir. Hangat, tapi juga … aneh.

---

Siang itu aku sempat tersenyum kecil di pabrik. Setidaknya hari ini aku bisa sampai tanpa harus jalan kaki. Tapi sore menjelang, pikiranku kembali resah. Kata-kata ayah mertua berputar di kepala. “Jangan bilang siapa-siapa.”
Bagaimana kalau nanti ketahuan?

Kekhawatiranku jadi nyata ketika aku pulang sore itu. Di teras rumah, Wahyu sudah duduk dengan wajah menegang, rokok di tangan. Ibu mertua berdiri di belakangnya, memelototiku.

“Dari mana dapat uang buat ongkos, ha?!” Suara Mas popWahyu langsung menembak begitu aku menutup pagar.

Aku terkejut. “Maksud Mas, apa?”

“Ibu bilang kamu tetap kerja, padahal katanya gak punya duit! Tadi Bapak bilang sendiri katanya kamu dikasih uang sama dia! Kenapa diem aja?!”

Aku ternganga. “Tapi … Bapak bilang jangan—”

“Jangan apa?! Jangan bilang aku?! Kenapa, hah?! Karena kamu udah main mata sama Bapak, ya?!”

“Mas!” aku hampir menjerit. “Jangan ngomong sembarangan! Bapak cuma kasihan!”

“Kasihan?!” Mas Wahyu berdiri, mendekat dengan wajah merah padam. “Kamu pikir aku bodoh?! Bapak tiba-tiba baik sama kamu, pasti ada apa-apa!”

“Mas, tolong sadar! Aku cuma dikasih uang buat ongkos, enggak lebih!”

Tamparan itu datang tanpa peringatan. Pipiku panas, nyut-nyutan.
Ibu mertua menjerit, “Wahyu, sudah, jangan di luar!” tapi nadanya bukan melarang, melainkan takut tetangga dengar.

Aku memegang p**iku, terisak. “Mas, aku enggak salah … demi Allah aku enggak salah …”

Wahyu menunjukku dengan mata merah. “Kamu pikir aku gak bisa nyari tahu? Kalau aku dapat bukti kamu selingkuh, kamu lihat nanti!”

Ia masuk kamar, membanting pintu. Ibu mertua menatapku tajam. “Saya udah bilang, kan? Perempuan seperti kamu ujung-ujungnya bikin malu!”

Aku terisak pelan, lalu berlari masuk kamar. Daffa langsung memelukku, menatap p**iku yang memerah. “Ibu dipukul, ya?”

Aku hanya bisa menggeleng. “Enggak apa-apa, Sayang. Ibu kuat.”

Tapi di dada, semuanya terasa pecah.

Ponselku bergetar. Pesan dari Tama muncul di layar.

[Mbak Maya, kamu baik-baik aja?]

Aku menatap layar itu lama, lalu mengetik pelan dengan jari gemetar.

[Tidak, Pak. Tapi saya akan berusaha.]

Sebelum sempat kukirim, suara langkah pelan terdengar di depan pintu kamar. Berat, teratur, dan sangat dekat.

Aku menatap ke arah pintu yang perlahan terbuka.

Ayah mertua berdiri di sana, menatapku dalam diam.
“May,” katanya lirih. “Bapak dengar semua. Jangan takut … mulai malam ini, biar Bapak yang jaga kamu.”

Aku membeku. Ponsel nyaris terlepas dari tangan.
Tatapan matanya bukan lagi seperti seorang ayah.

Bersambung .…

_______________________

AKU BUKAN TULANG PUNGGUNG, MAS!

Penulis: Nonnie Dyannie

PART 6

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Padang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address

Tarusan Pessel
Padang