Nomor 1.com
Jadi Yang Nomor 1 disini. Bersama Yesus, be Integrity people :)
31052016_Tuhan tidak Buta
Bacaan: Lukas 7:
Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, "Jangan menangis!" (Lukas 7:13)
Mata yang berlinang-linang biasanya menandakan dukacita. Air mata yang menetes pelan, apalagi ditambah dengan raut wajah yang muram, bukankah itu menandakan kepiluan hati?
Tetesan air mata dukacita itulah yang dialami oleh janda di kota Nain ini. Ia baru saja kehilangan anak laki-laki yang tentu saja sangat dikasihinya. Ia pun sedang berjalan menyertai orang-orang yang sedang menggotong mayat anaknya itu menuju pekuburan. Ibu itu berlinang air mata dan Yesus secara tidak terduga melihat dan merasakan kepiluan hati ibu itu. Bisa jadi Yesus pun menitikkan air mata-Nya.
Dengan spontan Yesus menghampiri ibu itu dan menghiburnya. Setelah itu? Yesus mendekati usungan itu dan membangkitkan anak itu dari kematian. Dukacita mendalam mungkin membuat ibu itu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun, tapi tetesan air mata itu sudah cukup untuk menggerakkan hati Yesus sehingga Dia mengulurkan tangan, memberi kelegaan pada janda itu.
Kisah Yesus menolong janda itu, tanpa ibu janda itu meminta tolong sebelumnya, membuktikan bahwa Allah tidak buta dan tidak bisu melihat dukacita yang dialami umat-Nya. Demikianlah, Dia sangat memahami dukacita di hati kita. Dia merasakan perih hati kita saat kita bertahan dalam penderitaan yang kita alami. Setiap tetesan air mata kita diperhatikan-Nya dan hal itu sudah cukup untuk menggerakkan hati-Nya menolong kita. --Samuel Yudi Susanto/Renungan Harian
Kesimpulan: SETIAP TETESAN AIR MATA DUKA KITA SANGAT DIPAHAMI ALLAH
DAN DIA SANGAT PEDULI DENGAN PENDERITAAN YANG KITA ALAMI.
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 34-36
28-05-2016
KESOMBONGAN BISA MEMBUNUH
Bacaan: Amsal 16:1-9
Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman. (Amsal 16:5)
Istilah bahasa Yunani untuk kesombongan adalah hyperephania. Artinya, "membusungkan diri dengan angkuh." Orang sombong berlagak dirinya lebih baik dari orang lain karena mengira dirinya lebih hebat dari yang sebenarnya.
Kesombongan Raja Saul mengakibatkan dia berkali-kali berusaha membunuh Daud. Kesombongan Absalom mengakibatkan ia nekat mengkudeta Daud, menghampiri gundik-gundik ayahnya, dan tewas saat berperang. Kesombongan mengakibatkan kematian fisik pada sejumlah orang. Tetapi, terlebih penting, kesombongan mengakibatkan kematian rohani jutaan orang. Salah satu alasan Alkitab sangat tegas mencela kesombongan adalah karena pengaruhnya terhadap cara pandang kita kepada Tuhan. Saat kita membusungkan diri dalam kesombongan, kita mulai berlagak menjadi Tuhan, kita mencoba mengambil alih hak Tuhan. Hal ini sangat mematikan karena di mata Tuhan setiap orang yang sombong adalah kekejian; ia tidak akan luput dari hukuman. Alkitab sudah mencatat tokoh-tokoh yang meninggal dengan tragis karena membiarkan kesombongan menguasai hidupnya dan akhirnya menghancurkannya.
Kesombongan ditaklukan dengan kerendahan hati. Saat kita melatih diri bersikap rendah hati, maka saat benih kesombongan mulai muncul, kita segera sadar dan mematikannya. Kita harus terus belajar merendahkan diri dan merendahkan hati di hadapan Tuhan, agar Dia bisa memuliakan kita dan menjadikan kita saluran berkat-Nya. Jangan sampai kesombongan bertumbuh besar dalam hidup kita. Hiduplah dengan rendah hati. --Richard Tri Gunadi/Renungan Harian
Kesimpulan: SAAT KITA RENDAH HATI KITA AKAN MAMPU
MEMATIKAN SEGALA BENIH KESOMBONGAN.
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 25-27
27-05-2016
MENDOAKAN
Bacaan: Yakobus 2:14-26.. dan seorang dari antara kamu berkata, "Selamat jalan, kenakanlah pakaian hangat dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yakobus 2:16)
Dalam forum diskusi di internet, seseorang mengirimkan posting sindiran tentang doa. "Doa adalah cara seseorang merasa sudah menolong tanpa harus repot melakukan apa-apa, " katanya. Kita mungkin tersinggung membacanya, atau, terdorong untuk merenungkan kebenaran di balik sindiran ini. Apakah ada kemalasan di balik keengganan kita mendoakan seseorang? Apakah sebetulnya kita bisa memberikan bantuan selain doa? Apakah doa kita pakai untuk "merampok" berkat yang seharusnya kita salurkan kepada orang lain?.
Teguran Yakobus dalam perikop hari ini patut kita simak. Ia mengingatkan, kalau seseorang mengaku beriman, imannya itu harus nampak melalui perbuatannya. Janganlah ada orang yang hanya memamerkan imannya dengan mulut, tapi tidak mewujudkannya secara nyata dalam hidup. Sebuah contoh ia berikan. Ada seseorang yang membutuhkan pakaian dan makanan. Tapi, orang lain yang bisa memberikan hal-hal tersebut justru hanya mendoakan dan memberikan nasihat agar orang tersebut selamat dan bisa mendapatkan kebutuhannya. Jauh lebih berguna kalau orang tersebut membantu secara nyata dengan memberikan pakaian dan makanan yang dibutuhkan.
Ketika kita tahu bahwa seseorang membutuhkan pertolongan, kita memang harus mendoakannya. Tapi, kalau kita bisa menolongnya lebih lanjut, janganlah menahan diri. Terlebih buruk lagi kalau kemudian kita bungkus kepelitan dan kemalasan kita tersebut dengan tawaran untuk mendoakan. Itu munafik, jahat, dan merusak nama Tuhan. --Alison Subiantoro/Renungan Harian
Kesimpulan: DOAKAN MEREKA YANG MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN
DAN BERSIAPLAH MENJADI JAWABAN ATAS DOA KITA TERSEBUT.
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 21-24
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Address
Ambon
97232