Pikiran Merdeka

Pikiran Merdeka

Share

Tabloid Mingguan Aceh, Aspiratif dan Tepercaya Merdeka Memberitakan

31/05/2025

Seorang pria berinisial S (54), warga Desa Krueng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, tega membunuh istrinya sendiri, H (43), dengan cara melilitkan sarung ke leher korban. Aksi pembunuhan ini dipicu kecemburuan pelaku karena korban sering melakukan siaran langsung (live) di platform TikTok.

Kapolres Pidie Jaya AKBP Ahmad Faisal menyampaikan, insiden tragis itu terjadi pada Rabu dinihari, 28 Mei 2025, setelah keduanya terlibat cekcok. “Kejadian itu bermula dari pertengkaran rumah tangga yang dipicu kecemburuan pelaku terhadap aktivitas korban di TikTok,” ujarnya, Sabtu (31/5/2025).

Pertengkaran memuncak hingga pelaku gelap mata dan menjerat leher sang istri dengan sarung. Peristiwa ini diketahui salah satu anak mereka yang mendengar keributan dan memutuskan mendobrak pintu kamar. Anak korban mendapati ibunya sudah tidak bernyawa, sementara sang ayah masih berada di lokasi kejadian.

Pelaku langsung melarikan diri setelah dipergoki. Anak korban segera melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Tak butuh waktu lama, S berhasil ditangkap tim kepolisian di kawasan Deah Pangwa, Kecamatan Trienggadeng, pada hari yang sama, sekitar pukul 20.00 WIB. Jenazah korban kemudian dibawa ke RSUZA Banda Aceh untuk keperluan autopsi.

Pelaku ditahan di Rutan Polres Pidie Jaya sejak 29 Mei hingga 17 Juni 2025 untuk proses penyidikan lebih lanjut. Ia dijerat dengan Pasal 338 juncto Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang pembunuhan dan penganiayaan yang menyebabkan kematian, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

“Kami berkomitmen menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif. Terima kasih kepada personel atas respon cepatnya dalam menangani kasus ini,” tutup AKBP Faisal.

Photos from Pikiran Merdeka's post 31/05/2025

Setelah melewati jembatan rangka baja dengan aliran sungai yang deras di bawahnya, mobil kami berbelok ke kiri, memasuki Gampong Lamsujen. Saya menurunkan kaca mobil dan tubuh saya segera merasakan kesejukan yang tak ada duanya. Apalagi cuaca agak mendung hari itu. Dan jalanan agak basah, sepertinya hujan turun semalam.

Dikelilingi oleh bukit-bukit yang menjulang, Lamsujen masuk dalam Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Kami akan membuat pelatihan Programmer Gampong Film bersama pemuda dan pemudi di Gampong Lamsujen.

“Dalam suara setan, itu arti Lamsujen dalam Indonesia kan? Puitis kalii,” ujar saya kepada teman-teman.

“Ya,” jawab Azhari Meugiet.

Mobil kami berhenti di depan meunasah Gampong Lamsujen. Dalam perkarangan meunasah ada dua bangunan yang digunakan untuk kantor geuchik dan ruang organisasi gampong lainnya. Meunasah dan kantor-kantor tersebut berhadapan langsung dengan sungai dan bukit.

Beberapa meter dari meunasah, ada barisan warung-warung. Kami menyeruput kopi pertama pagi itu di salah satu warung. Suara aliran air sungai dan parit membuat suasana pagi itu semakin syahdu.

“Yok kita siap-siap!” ujar Jamal kepada kami setelah menelpon Bang Hasri.

Kami pun bergegas menuju kantor geuchik Lamsujen, tempat di mana pelatihan akan dilaksanakan. Saya, Jamal, Azhari, dan Tama begegas mempersiapkan ruangan: memasang proyektor, roll banner dan peralatan lainnya.

Pelatihan Programmer Gampong Film bertujuan untuk melatih pemuda di beberapa gampong di Aceh tentang bagaimana cara memutar film.

Selengkapnya di pikiranmerdeka.co

Want your practice to be the top-listed Law Practice in Banda?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Address


Jalan T. Nyak Arief No. 888 Lamgugop
Banda
23115