BURSA RUMAH di Bandar Lampung
Menjual Rumah, Ruko & Tanah/Kavling di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya.
Di tengah ramainya AI dipakai untuk bikin gambar, menulis caption, mengedit video, sampai menjawab pertanyaan sehari-hari, muncul satu kabar yang arahnya cukup berbeda. AI kali ini tidak hanya dipakai untuk hiburan atau produktivitas kantor. Ia dipakai untuk membantu anak-anak belajar menghafal Al-Qur’an.
Aplikasi ini dibuat oleh Ali An Nuur, mahasiswa Universitas Mataram, NTB. Lewat Nuramma, ia berhasil menjadi salah satu pemenang Swift Student Challenge 2026, ajang internasional dari Apple untuk pelajar dan mahasiswa yang membuat karya aplikasi dengan Swift. Apple mencatat, kompetisi tahun 2026 ini memiliki 350 karya pemenang dari 37 negara dan wilayah. Karya yang menang dinilai bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari kreativitas, inovasi, dampak sosial, dan aksesibilitas.
Yang membuat Nuramma menarik adalah masalah yang ingin diselesaikan. Banyak anak ingin menghafal Al-Qur’an, tapi tidak selalu ada penyimak di dekat mereka. Orang tua punya kesibukan. Guru ngaji tidak selalu bisa mendampingi setiap waktu. Sementara hafalan butuh pengulangan, dan pengulangan butuh koreksi. Di sinilah Nuramma hadir.
Aplikasi ini bekerja seperti penyimak hafalan di perangkat. Anak membaca ayat Al-Qur’an melalui mikrofon, lalu sistem akan mendengarkan dan mencocokkan bacaan secara real-time. Ketika bacaan sesuai, aplikasi memberi tanda visual agar anak tahu bagian mana yang sudah benar. Detik dan Telset mencatat Nuramma memakai speech recognition untuk menyimak bacaan dan memberi umpan balik langsung kepada pengguna.
Bagi orang dewasa, fitur seperti ini mungkin terdengar biasa saja. Tapi bagi anak yang sedang menghafal, tanda kecil seperti itu bisa sangat membantu. Karena menghafal bukan hanya soal membaca berkali-kali. Ada rasa ragu, takut salah, bingung bagian mana yang keliru, lalu akhirnya berhenti karena merasa sendirian. Dengan bantuan penyimak otomatis, anak bisa latihan lebih sering tanpa harus menunggu jadwal orang lain.
Tentu, aplikasi seperti ini bukan pengganti guru ngaji. Belajar Al-Qur’an tetap butuh bimbingan manusia. Ada adab, tajwid, makhraj, pemahaman, dan pembiasaan yang tidak bisa seluruhnya diserahkan ke mesin. Tapi sebagai alat bantu latihan, Nuramma punya ruang yang jelas.
Ia bisa membantu anak murojaah di rumah. Bisa menemani latihan saat belum ada penyimak. Bisa memberi sinyal awal ketika bacaan perlu diperbaiki. Fungsinya bukan menggantikan guru, melainkan memperbanyak kesempatan anak untuk berlatih.
Bagian yang juga penting adalah soal privasi. Nuramma dirancang agar proses AI berjalan langsung di perangkat pengguna. Jadi suara anak yang sedang membaca tidak harus dikirim ke server luar. Pendekatan seperti ini disebut on-device, dan dalam konteks anak-anak, ini bukan sekadar fitur teknis. Ini menyangkut keamanan data, rasa nyaman, dan kepercayaan keluarga.
Apalagi yang direkam adalah suara anak saat membaca Al-Qur’an. Itu data yang sangat personal. Maka keputusan membuat prosesnya berjalan di perangkat terasa cukup masuk akal.
Keuntungan lainnya, aplikasi ini bisa digunakan tanpa internet. Ini poin sederhana, tapi sangat relevan untuk Indonesia. Tidak semua daerah punya koneksi stabil. Tidak semua keluarga punya kuota cukup setiap hari. Kalau aplikasi belajar hanya bisa berjalan saat online, aksesnya otomatis terbatas. Yang terbantu hanya mereka yang tinggal di tempat dengan jaringan lancar. Dengan fitur offline, Nuramma jadi lebih dekat dengan kebutuhan nyata.
Teknologinya tidak hanya terlihat canggih, tapi juga bisa dipakai dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Ini penting, karena pendidikan tidak boleh hanya nyaman untuk mereka yang sinyalnya bagus.
Nuramma juga memakai pendekatan gamifikasi. Artinya, proses belajar dibuat lebih ringan dengan tantangan, tampilan progres, umpan balik visual, dan pengalaman yang lebih interaktif. Bukan berarti menghafal Al-Qur’an dijadikan permainan biasa. Yang diambil adalah cara membuat anak merasa prosesnya tidak terlalu berat.
Karena masalah anak belajar sering bukan hanya soal mampu atau tidak. Masalahnya sering ada di konsistensi. Semangat di awal, lalu mulai kendor setelah beberapa hari. Kalau prosesnya terlalu kaku, anak cepat bosan. Kalau terlalu sepi, anak mudah menyerah. Gamifikasi bisa membantu anak melihat bahwa hafalan itu bergerak sedikit demi sedikit.
Selain itu, Nuramma juga disebut memiliki dukungan Quran Sign Language. Ini membuat aplikasi tersebut tidak hanya memikirkan anak yang bisa mendengar dengan baik, tapi juga anak-anak tuli atau yang memiliki gangguan pendengaran. Telset mencatat fitur ini menjadi salah satu bagian dari pendekatan inklusif Nuramma. Bagian ini tidak boleh dianggap tempelan.
Selama ini, ruang belajar agama sering tanpa sadar dibangun dengan asumsi bahwa semua anak punya kemampuan yang sama. Padahal tidak. Ada anak yang mudah belajar lewat suara. Ada yang butuh visual. Ada yang perlu bahasa isyarat. Ada yang membutuhkan cara belajar yang lebih sabar dan khusus.
Kementerian Agama melalui LPMQ juga sudah memiliki perhatian pada Al-Qur’an Isyarat. Dalam pedoman resminya, LPMQ menjelaskan tata cara membaca Mushaf Al-Qur’an Isyarat, termasuk area gerakan tangan, orientasi isyarat, dan adab membaca. Ini menunjukkan bahwa akses belajar Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas pendengaran memang sudah menjadi bagian penting dalam pengembangan literasi Al-Qur’an di Indonesia. Maka ketika Nuramma ikut membawa dukungan bahasa isyarat, arahnya menjadi lebih kuat.
Aplikasi ini tidak hanya bicara soal AI, tapi juga soal akses. Bukan hanya bagaimana anak yang sudah lancar bisa belajar lebih nyaman, tetapi juga bagaimana anak dengan kebutuhan khusus tidak ditinggalkan. Di sini teknologi terasa lebih manusiawi.
Sebab inovasi yang baik bukan hanya soal fitur yang terdengar hebat. Inovasi yang baik adalah yang menjawab masalah nyata. Dan masalah nyata di banyak keluarga sederhana sekali. Anak ingin belajar, tapi pendamping terbatas; anak ingin mengulang hafalan, tapi tidak selalu ada yang menyimak; anak berkebutuhan khusus ingin ikut belajar, tapi alat bantunya belum banyak.
Dengan fungsi yang jelas. Menyimak bacaan. Memberi umpan balik. Bisa dipakai offline. Menjaga privasi. Membuat belajar lebih interaktif. Membuka akses bagi anak tuli.
AI tidak selalu harus dibayangkan sebagai sesuatu yang jauh, mahal, dan menakutkan. Ia bisa dibuat dekat dengan kehidupan harian. Ia bisa hadir di ruang belajar anak. Ia bisa membantu keluarga yang waktunya terbatas. Ia bisa menjadi jembatan antara teknologi modern dan kebutuhan pendidikan agama. Dan mungkin, di situlah letak pentingnya karya seperti Nuramma.
Di saat banyak orang memakai AI untuk hal-hal yang cepat viral, ada anak muda dari Mataram yang membawanya ke arah yang lebih membumi. Bukan untuk menggantikan peran guru. Bukan untuk membuat hafalan jadi instan. Tapi untuk memberi lebih banyak kesempatan latihan bagi anak-anak yang sedang belajar mencintai Al-Qur’an. Kadang teknologi terbaik bukan yang paling ramai dibicarakan. Kadang teknologi terbaik adalah yang diam-diam membuat proses belajar jadi lebih mudah dijangkau.
---
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.
Sumber : pecah telur
Cozy home
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Address
Jalan Ratu Dibalau Tanjung Senang Waykandis Bandar
Bandar