Rahayu Fitri
Parenting enthusiast ❤️
Berusaha menjadi lebih baik dalam pengasuhan
14/07/2026
Terkadang hal yang orang tua anggap biasa
Justru yang paling dalam melukai hati anak
Yuk kenali 5 kebiasaan ini sebelum terlambat 👇
1. Bertengkar di depan anak
Teriakan, banting pintu, diem-dieman.
Anak nggak ngerti masalahnya.
Tapi dia ngerasa dunianya runtuh dan nyalahin diri sendiri.
2. Membandingkan dengan anak lain
"Lihat tuh si A"
"Kok kamu nggak bisa kayak kakak"
Yang anak dengar: "aku nggak cukup baik."
3. Mengabaikan perasaan anak
"Nangis mulu"
"Lebay banget"
"Udah diem"
Akhirnya anak belajar: perasaanku nggak penting. Jadi dipendam aja.
4. Cinta bersyarat
Sayang kalau nurut.
Bangga kalau juara.
Dipeluk kalau berprestasi.
Anak tumbuh jadi takut salah, takut bukan diri sendiri.
5. Jadikan anak tempat curhat masalah dewasa
Soal uang, soal pasangan, soal hidup.
Padahal bahu sekecil itu nggak kuat nanggung beban segede itu.
Rumah itu tempat aman.
Bukan tempat yang bikin anak harus terus waspada.
Kita semua pasti pernah khilaf.
Tapi selama masih ada waktu, kita masih bisa perbaiki pelan-pelan ya Bun 🤍
Kamu pernah ngerasa melakukan yang mana?
*_ ANAK PERTAMAKU...
DENGAR IBU SEBENTAR 🥺🥺_*
13/07/2026
"Kamu kan kakak, harus ngalah."
Kalimat ini mungkin hampir pernah diucapkan di setiap rumah yang memiliki lebih dari satu anak.
Niatnya baik. Orang tua hanya ingin pertengkaran cepat selesai.
Namun, jika kalimat ini terus diulang setiap kali terjadi konflik, tanpa sadar kakak bisa tumbuh dengan perasaan bahwa menjadi anak yang lebih besar berarti harus selalu mengalah, meski dirinya juga sedang benar.
1. Kakak Belajar Bahwa Perasaannya Tidak Sepenting Adiknya
Bayangkan saat kakak sedang bermain.
Lalu adik datang merebut mainannya.
Sebelum mendengar penjelasan, orang tua langsung berkata,
"Sudah ya, kakak ngalah dulu. Kasihan adiknya."
Saat itu yang ditangkap kakak bukan hanya kehilangan mainan.
Ia merasa kesedihannya tidak dianggap penting.
Lama-kelamaan ia bisa berpikir,
"Kalau ada adik, aku memang harus mengalah. Tidak ada yang akan membelaku."
2. Adik Belajar Bahwa Menangis Selalu Membuatnya Menang
Jika setiap kali menangis adik selalu mendapatkan apa yang diinginkan, ia akan belajar bahwa tangisan adalah cara paling ampuh untuk mendapatkan sesuatu.
Bukan karena ia nakal.
Tetapi karena itulah pola yang ia pelajari.
Akibatnya, adik bisa kesulitan menerima penolakan saat berada di sekolah atau lingkungan bermain.
3. Kakak Bisa Menyimpan Rasa Kecewa yang Tidak Pernah Diungkapkan
Tidak semua luka anak terlihat.
Ada anak yang memilih diam.
Tetap memberikan mainannya.
Tetap tersenyum.
Tetapi di dalam hatinya mulai tumbuh perasaan,
"Mama lebih sayang adik daripada aku."
Kalimat itu mungkin tidak pernah diucapkan.
Namun bisa terbawa hingga ia dewasa.
4. Anak Tidak Belajar Menyelesaikan Konflik dengan Adil
Saat orang tua selalu memutuskan,
"Kakak yang mengalah."
Anak kehilangan kesempatan belajar berdiskusi, meminta maaf, bergantian, dan mencari solusi bersama.
Padahal keterampilan menyelesaikan konflik adalah bekal penting untuk kehidupan mereka nanti.
5. Mengalah Itu Baik, Tapi Harus Karena Kesadaran, Bukan Paksaan
Mengajarkan berbagi adalah hal yang baik.
Namun mengalah seharusnya menjadi pilihan yang lahir dari empati, bukan kewajiban hanya karena urutan lahir.
Sesekali biarkan adik belajar menunggu giliran.
Sesekali biarkan kakak mempertahankan haknya jika memang ia tidak bersalah.
Dengan begitu, kedua anak belajar bahwa setiap orang berhak diperlakukan adil.
6. Dengarkan Cerita Keduanya Sebelum Mengambil Keputusan
Sering kali orang tua terburu-buru menenangkan anak yang menangis.
Padahal yang menangis belum tentu yang benar.
Luangkan waktu beberapa menit untuk mendengar cerita dari kakak dan adik.
Saat anak merasa didengarkan, mereka juga belajar pentingnya mendengarkan orang lain.
7. Ganti Kalimat Ini dengan Kalimat yang Lebih Adil
Daripada berkata,
❌ "Kakak ngalah dulu ya, kasihan adiknya."
Cobalah katakan,
✅ "Ibu ingin dengar cerita kalian berdua dulu."
✅ "Sekarang giliran kakak, nanti setelah selesai baru adik."
✅ "Kalian sama-sama penting. Yuk, kita cari solusi yang adil."
Kalimat sederhana seperti ini membuat kedua anak merasa dihargai tanpa harus saling mengalahkan.
Menjadi kakak bukan berarti harus selalu mengalah.
Menjadi adik juga bukan berarti selalu dimenangkan.
Yang paling dibutuhkan anak bukan siapa yang menang atau kalah, tetapi keyakinan bahwa orang tuanya akan bersikap adil kepada keduanya.
Karena anak yang tumbuh di rumah yang adil tidak hanya belajar berbagi, tetapi juga belajar menghargai hak orang lain, mengelola konflik dengan baik, dan percaya bahwa setiap anggota keluarga dicintai dengan sama besarnya.
` `
*_PESAN IBU YANG BIKIN
HATI TERSENTUH... 🥺🥺_*
Nak... jika nanti ibu sudah
Pulang ke sisi Allah,
Ibu tidak butuh kamu sering-sering
Datang ke makam ibu, atau
menangis lama di sana.
Ibu tidak minta itu. 🥺🥺
Cukup kamu jaga sholatmu,
jaga hatimu dari maksiat,
Ibu sudah bahagia. 🙏🙏
Sebab bahagia ibu yg paling besar
Adalah saat kita dipertemukan lagi
di surganya Allah, Nak.
❤️❤️🥺❤️❤️
---
12/07/2026
HATI-HATI AYAH BUNDA!⚠️
6 KEBIASAAN "SEPELE" INI BIKIN ANAK JADI KERAS KEPALA
Tanpa kita sadari lho...
Kita pikir kita lagi mendidik.
Padahal kita lagi "nanem" sifat keras kepala di dalam dirinya.
6 RACUN YANG BIKIN ANAK BANDEL
1. TERLALU SERING DIBENTAK
Diamnya sekarang = bom waktu nanti.
Di balik diemnya ada hati yang terluka, kecewa, kesal.
Dipendam terus = jadi anak pemarah & pendendam.
2. SEMUA PERMINTAAN DITURUTI
Dia belajar: "Kalau nangis + maksa = Ayah Bunda kalah"
Awalnya minta jajan. Besok minta HP. Lusa minta bebas.
Keras kepala dimulai dari sini.
3. NGOMONG SELALU NADA TINGGI
Anak itu cermin.
Kalau tiap ada masalah kita teriak, dia kira itu cara komunikasi yang benar.
Dia bukan bandel. Dia cuma niru kita.
4. KURANG DAPAT PERHATIAN
Anak nggak butuh mainan baru.
Dia butuh ditemenin, didengerin, dipeluk.
Kalau kosong, dia akan cari perhatian lewat "nakal".
Karena dimarahi > diabaikan.
5. TERLALU OTORITER
"Pokoknya nggak boleh!" "Diam!" "Ikut kata mama!"
Terlalu dikekang = meledak jadi pembantah.
Dia nggak dikasih ruang bicara, akhirnya dia lawan dengan keras kepala.
6. KITA INKONSISTEN
Hari ini boleh, besok marah. Hari ini ngalah, besok bentak.
Anak jadi bingung + ngetes batas terus.
Hasilnya? Keras kepala buat lihat "sejauh mana bisa menang".
Mendidik dengan lembut itu susah.
Apalagi pas kita capek, banyak pikiran, emosi lagi jelek.
Ada hari kita menang. Ada hari kita kalah.
Gapapa.
Yang penting: JANGAN BERHENTI BELAJAR JADI ORANG TUA YANG LEBIH BAIK❤️
Anak nggak butuh orang tua sempurna.
Anak butuh orang tua yang mau terus memperbaiki diri.
Yang nomor berapa paling sering kita lakuin Bun? Jujur ya di komen 👇
Save biar keinget terus. Share ke pasangan biar sama-sama introspeksi 🤍
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Jalan Cendrawasih Residence Blok C No 9
Batam