Gie Bitte

Gie Bitte

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Gie Bitte, Writer, Bima.

Photos from Gie Bitte's post 26/03/2025

Apakah fakta sejarah tentang kehidupan sehari-hari yang hanya dipercayai sedikit orang?

Mari kita lihat sejenak, Abad Pertengahan adalah masa yang benar-benar brutal, terutama dalam hal pengobatan. Maksud saya, kita berbicara tentang periode di mana jika kamu menderita wasir, kamu tidak hanya diberi obat yang meredakannya dan boleh langsung pulang, melainkan kamu akan mendapatkan pengobatan, dan pengobatan yang saya maksud malah seperti siksa di alam maut.

Kamu sedang mengalami situasi ambeien yang terasa menyakitkan. Untuk itu, kamu pergi ke dokter setempat, berharap mendapatkan bantuan. Dan apa solusi mereka? Mereka mengambil besi mendidih dan memutuskan untuk membakar setiap wasir tersebut. Ya, kamu tidak salah dengar. Besi anget, DI LUBANG PANTAT. Silahkan dibayangkan.

Tapi tunggu, masih ada lagi. Jika kamu mengira itu adalah puncak kebrutalan medis abad pertengahan, pikirkan lagi. Wasir pada masa itu sering dijuluki "kutukan St. Fiacre." Kamu pasti bertanya siapakah Santo Fiacre? Fiarce adalah santo pelindung para penderita ambeien. Benar, mereka memiliki santo untuk itu. Beberapa orang bahkan percaya bahwa duduk di atas batu tertentu (yang tampaknya diduduki oleh Santo Fiacre) akan menyembuhkan mereka. Jika itu tidak berhasil, maka keluarlah besi pembakar, atau dalam beberapa kasus ekstrim, dokter akan mencoba mencabutnya dengan tangan kosong.

Untungnya, pada abad ke-12, ada secercah harapan. Seorang dokter Yahudi, Musa Maimonides, menulis sebuah risalah tentang wasir, yang merekomendasikan sesuatu yang sangat familiar bagi kita saat ini: mandi sitz (berendam di dalam bathtub). Sederhana, meredakan sakit dan tanpa logam panas.

Jadi, lain kali jika kamu merasa galau karena harus pergi ke dokter, ingatlah: setidaknya kamu tidak akan mendapatkan wesi anget abad pertengahan.

Photos from Gie Bitte's post 23/03/2025

Selain filosofi teras. Apa buku yang membuatmu berfikir "kok ngga dari dulu sih aku baca buku ini?"

Man's Search for Meaning karya Viktor Frankl - Salah Satu Buku Terbaik Sepanjang Masa

Buku ini ibarat mercusuar di tengah badai kehidupan. Saat membacanya, saya seperti menemukan kompas yang hilang. Buku ini hadir saat saya tengah kebingungan mencari makna hidup saya sebenarnya.

Frankl menulis buku ini berdasarkan pengalamannya sebagai tahanan kamp konsentrasi N**i. Di tengah penderitaan yang tak terbayangkan, dia justru menemukan bahwa manusia bisa bertahan hidup jika punya tujuan yang bermakna. Frankl mengajarkan bahwa kita tidak bisa menghindari penderitaan, tapi kita bisa memilih cara menanggapinya.

Dia melihat bagaimana tahanan yang kehilangan harapan cepat meninggal, sementara mereka yang masih punya mimpi dan tujuan hidup bisa bertahan meski dalam kondisi paling buruk sekalipun.

Buku ini membuat saya malu dengan keluhan-keluhan yang sebenarnya sepele dalam hidup saya. Frankl kehilangan istri, orangtua, dan saudara di kamp. Tapi dia tetap menemukan alasan untuk hidup dan memberi makna pada penderitaannya.

Saat membaca bagian itu, rasanya seperti ditampar keras-keras. Selama ini saya mengeluh tentang hal yang sebenarnya sepele, padahal masih banyak hal bermakna yang bisa saya lakukan. Frankl mengajarkan bahwa kita selalu punya pilihan untuk memberi makna pada situasi apapun.

Ada satu juga kutipan yang sangat menohok: "Mereka yang punya 'mengapa' untuk hidup, bisa bertahan dengan hampir semua 'bagaimana'." Ini mengajarkan bahwa bukan keadaan yang menentukan hidup kita, tapi bagaimana kita menyikapinya.

Yang membuat buku ini istimewa adalah cara Frankl menjelaskan konsep logoterapi - terapi yang berfokus pada pencarian makna hidup. Dia tidak menggurui, tapi membimbing pembaca menemukan makna hidupnya sendiri.

Frankl percaya bahwa penderitaan bisa menjadi jalan menemukan makna hidup. Tapi bukan berarti kita harus mencari penderitaan. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi penderitaan yang tak terelakkan.

Buku ini mengajarkan bahwa kebebasan terakhir manusia adalah kemampuan memilih sikapnya menghadapi keadaan. Frankl tidak mendikte apa makna hidup yang harus kita cari. Menurutnya, setiap orang punya makna unik yang harus ditemukan sendiri. Bisa lewat karya, cinta, atau bahkan dalam menghadapi penderitaan yang tak terelakkan.

Di tengah tren "toxic positivity" yang memaksa orang selalu bahagia, Man's Search for Meaning justru mengajarkan bahwa penderitaan adalah bagian normal kehidupan. Yang terpenting adalah bagaimana menemukan makna di baliknya.

Photos from Gie Bitte's post 21/03/2025

Bagaimana cara mendidik diri kita sendiri agar tidak bermental miskin?

"Sisihkan Uang, Bukan Sisakan."

Kalimat sederhana ini sebenarnya mengandung filosofi mendalam tentang cara kita memandang dan mengelola keuangan. Mari kita bedah lebih dalam.

Kebanyakan dari kita terbiasa dengan pola: terima gaji, bayar kebutuhan, baru sisakan untuk ditabung. Akibatnya? Seringkali tidak ada yang tersisa karena kebutuhan selalu bisa menyesuaikan dengan pendapatan kita.

Pola pikir "menyisakan" ini mencerminkan mental miskin. Kenapa? Karena kita menempatkan diri kita sendiri di urutan terakhir. Padahal, bukankah kita yang sudah bekerja keras menghasilkan uang itu?

Mental "menyisihkan" justru sebaliknya. Begitu gaji masuk, langsung potong 20-30% untuk ditabung atau diinvestasikan. Baru sisanya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Ini bukan soal nominal, tapi soal prioritas.

Saat kita mendahulukan menyisihkan uang, secara tidak langsung kita melatih otak untuk lebih kreatif mengelola sisa uang yang ada. Misalnya dengan mencari alternatif yang lebih murah atau menunda pembelian yang tidak mendesak.

Bayangkan seperti ini: Kalau kita punya sepiring nasi, lebih baik langsung ambil sebagian untuk disimpan, atau makan sampai kenyang dulu baru lihat sisanya? Pasti opsi pertama lebih bijak kan?

Menyisihkan uang di awal juga mengajarkan kita disiplin dan konsisten. Tidak peduli berapa penghasilan bulan ini, 20-30% itu harus masuk celengan. Ini namanya menghargai diri sendiri.

Mental "menyisihkan" ini perlahan akan membentuk kebiasaan positif. Kita jadi lebih cermat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Lebih bijak dalam konsumsi. Lebih fokus pada tujuan jangka panjang.

Orang bilang uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Memang benar. Tapi ketidakadaan uang bisa jadi sumber stress yang luar biasa. Menyisihkan uang adalah bentuk self-love, investasi untuk ketenangan di masa depan.

Jadi mulai sekarang, ubah mindset dari "sisakan" menjadi "sisihkan". Anggap itu seperti membayar hutang pada diri sendiri. Hutang yang nantinya akan kembali dengan bunga berlipat dalam bentuk ketenangan finansial.

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Bima?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Culinary Team

Attire

Telephone

Website

Address


Bima