Peradaban DUNIA
memulai baru untuk berita terbaru
04/08/2025
🇮🇩 Inilah Alasan Kenapa Bendera One Piece Dikibarkan Menjelang Hari Kemerdekaan ke-80 Indonesia ✨
Bukan karena mereka ingin memberontak. Bukan karena mereka tak cinta Merah Putih. Tapi karena mereka ingin mengibarkan harapan — yang selama ini terus dirampas.
Bendera One Piece bukan simbol bajak laut. Ia adalah simbol perjuangan damai, pencarian keadilan, dan keberanian untuk berkata “cukup” terhadap ketimpangan yang semakin nyata.
Di balik bendera itu, ada suara:
"Kami ingin merdeka dari kemiskinan, dari korupsi, dari janji-janji tanpa aksi."
UUD 1945 menjanjikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tapi di lapangan, yang kaya makin bebas, yang miskin makin ditekan.
Maka rakyat memilih simbol yang jujur, imajinatif, dan membela kebenaran — meski dari dunia fiksi. Karena dalam One Piece, bahkan bajak laut pun bisa punya hati dan prinsip.
Bendera itu dikibarkan bukan untuk memberontak, tapi untuk mengingatkan:
"Kita belum sepenuhnya merdeka, tapi kita belum menyerah."
Jangan buru-buru menghakimi.
Kadang suara paling jujur justru datang dari yang tak lagi percaya cara-cara formal. Tapi mereka tetap peduli. Mereka tetap mencintai negeri ini.
20/07/2025
Di tengah kepanikan dan isak tangis, ada satu suara yang menenangkan:
‘Ade aman… Ade ada dengan Om.’
Om Abdul Rahman Agu bukan sekadar penumpang, dia pahlawan sejati di lautan api.
Ketika nyawa dipertaruhkan, dia tetap memilih untuk menyelamatkan yang lain.
Terima kasih, Om Abdul...
Kebaikanmu tak akan pernah dilupakan.
Semoga Tuhan membalas dengan keberkahan dan perlindungan di setiap langkahmu.🙏
03/07/2025
Tuna netra asal Desa Gegelang, I Wayan Tumpek (60) saat menunjukan keset dari serabut kelapa yang ia buat, Senin (30/6/2025).
Kisah Tuna Netra Pembuat Keset Serabut Kelapa di Bali, Tak Mampu Berobat, Sabar Menunggu Pembeli.
Keterbatasan fisik, tidak membuat I Wayan Tumpek (60) menyerah dengan keadaan.
Penyandang tuna netra asal Banjar Telengan, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem tetap berusaha produktif dengan membuat keset berbahan serabut kelapa.
Wayan Tumpek bergegas ke luar dari kamar, saat ditemui di rumahnya yang sederhana, Senin 30 Juni 2025.
Ia tampak sangat antusias, setiap ada tamu yang datang. Dengan berlahan ia berjalan menuju tempatnya menyimpan keset yang dibuat dengan kedua tangannya.
Untuk per lembar keset, ia jual Rp 20 ribu. Namun saat ini diakuinya, penjualan keset serabut kelapa cukup sepi.
Keset yang sudah siap jual masih menumpuk karena belum laku. Meski demikian ia tetap sabar, menunggu pembeli datang.
“Setelah keset ini habis, baru saya buat lagi,” ungkapnya sembari tersenyum. (eka mita suputra)
Sc: Tribun
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Bitung
95514