Diyan Angga Permana

Diyan Angga Permana

Share

01/12/2025

Empat Pemburu Harta

Bab 8

Arthur Conan Doyle

”Kita masuk,” kata Holmes dengan tegas.

”Ya, masuklah!” pinta Thaddeus Sholto. ”Aku benar-benar merasa tak mampu menunjukkan jalan.”

Kami semua mengikutinya ke kamar peng­urus rumah, yang berada di sisi kiri lorong. Wa­nita tua tersebut tengah mondar-mandir dengan ekspresi ketakut­an dan jemari gelisah, tapi meli­hat kemunculan Miss Morstan ia jadi lebih te­nang. ”Tuhan memberkati wajahmu yang manis dan tenang!” serunya sambil terisak histeris. ”Senang sekali aku melihatmu. Oh, hari ini benar-benar berat untukku!”

Teman kami menepuk-nepuk tangan wanita tua yang kurus itu dan menggumamkan beberapa kata penghiburan khas wanita, yang mengembali­kan warna di p**i wanita tua yang pucat pasi tersebut.

”Tuan mengunci diri di dalam kamar dan tidak menjawab panggilanku,” katanya menjelaskan. ”Aku sudah menunggu sepanjang hari, karena dia memang sering ingin dibiarkan seorang diri. Tapi satu jam yang lalu aku khawatir ada yang tidak beres, jadi aku naik ke atas dan mengintip melalui lubang kunci. Anda harus naik ke sana, Mr. Thaddeus—Anda harus ke sana dan melihatnya sendiri. Aku sudah pernah melihat Mr. Bartholomew Sholto dalam keadaan gembira dan sedih selama sepuluh tahun ini, tapi aku tak pernah melihatnya dengan ekspresi seperti itu.”

Sherlock Holmes mengambil lentera dan me­mimpin jalan, karena gigi Thaddeus Sholto ber­gemeletuk ribut. Begitu terguncangnya pria ini, hingga aku terpaksa menyelipkan tangan ke ba­wah ketiaknya sewaktu kami menaiki tangga, karena kedua lututnya terus gemetar. Dua kali, saat kami naik, Holmes mengeluarkan kaca pem­besar dari sakunya dan memeriksa dengan hati-hati tanda-tanda yang menurutku sekadar bekas-bekas geseran debu pada karpet tangga yang berwarna kelapa. Ia melangkah perlahan-lahan dari anak tangga ke anak tangga, sambil meng­acungkan lenteranya rendah, dan memandang kiri-kanan. Miss Morstan menunggu di bawah, bersama pengurus rumah yang ketakutan.

Deretan anak tangga ketiga berakhir di sebuah lorong lurus yang cukup panjang, dengan sebuah gorden India di sebelah kanan dan tiga buah pintu di sebelah kiri. Holmes menyusuri lorong tersebut dengan pelan dan metodis, seperti se­mula, sementara kami terus mengikutinya dengan ketat, bayang-bayang kami yang hitam panjang membentang ke belakang di koridor. Pintu keti­galah yang kami tuju. Holmes mengetuknya tanpa mendapatkan jawaban.

Lalu ia mencoba memutar kenopnya dan memaksa membuka. Tapi pintu tersebut dikunci dari dalam, dan dengan menggunakan selot lebar dan kuat, sebagaimana bisa kami lihat sewaktu mendekatkan lentera ke sana. Tapi, karena kuncinya diputar, lubangnya tidak sepenuhnya tertutup. Sherlock Holmes membungkuk mengintip ke sana, dan seketika menegakkan tubuh lagi diiringi napas tersentak.

”Ada sesuatu yang kejam dalam hal ini, Watson,” katanya, lebih tergerak dari­pada yang pernah kulihat sebelumnya. ”Apa pendapatmu?”

Aku membungkuk di depan lubang dan me­lompat mundur dengan perasaan ngeri. Sinar bulan menerobos masuk ke dalam ruangan, meneranginya dengan cahaya samar dan bergerak-gerak. Sebuah wajah memandang lurus kepadaku, tampaknya tergantung-gantung di udara, karena bagian bawahnya tersembunyi dalam bayang-bayang. Wajah Thaddeus. Kepalanya sama-sama tinggi mengilat, begitu p**a cincin rambut kemerahannya, dan kulit wajah­nya yang pucat pasi. Tapi wajahnya tersenyum mengerikan dalam se­ringai kaku dan tidak wajar, yang dalam ruangan sunyi dan diterangi cahaya bulan tersebut lebih mengguncang saraf daripada rengutan atau kernyitan apa pun. Wajahnya begitu mirip dengan teman kecil kami, hingga aku berpaling memandangnya untuk memastikan ia memang benar masih bersama-sama kami.

Lalu aku teringat ia sudah mengatakan bahwa mereka kembar.

”Ini mengerikan!” kataku pada Holmes. ”Apa yang harus kita lakukan?”

”Pintunya harus didobrak,” jawab Holmes, lalu mengempaskan diri ke sana, menggunakan selu­ruh berat tubuhnya untuk menekan kuncinya.Pintu tersebut berderik dan mengerang, tapi tidak menyerah. Bersama-sama kami mengguna­kan tubuh kami untuk mendobraknya sekali lagi, dan kali ini pintunya terempas membuka diiringi suara keras, dan kami mendapati diri kami telah berada di dalam kamar Bartholomew Sholto.

Tampaknya kamar tersebut telah dilengkapi hingga mirip sebuah laboratorium kimia. Di dinding seberang kamar berjajar dua deret botol bertutup kaca, dan di meja berserakan pembakar Bunsen, tabung-tabung uji, dan di sudut berdiri botol asam dalam keranjang rotan. Salah satunya tampak bocor atau pecah, karena ada cairan ke­hitaman yang menetes dari sana, dan udara di­penuhi bau tajam menusuk, mirip aspal. Sebuah tangga berdiri di salah satu sisi ruangan, di tengah-tengah serpihan semen dan gipsum, dan langit-langit di atasnya berlubang cukup besar untuk dilewati seseorang. Di kaki tangga tersebut terdapat segulung tali yang ditumpuk sembarangan.

Di dekat meja terdapat sebuah kursi berlengan dari kayu, di mana si pemilik rumah duduk ba­gai dionggokkan, dengan kepala terkulai pada bahu kirinya dan wajah memancarkan senyum menakutkan. Ia telah kaku dan dingin, dan jelas telah tewas berjam-jam yang lalu. Menurutku tampaknya bukan hanya wajahnya, tapi juga kaki dan tangannya, meliuk-liuk tidak keruan.

Di meja di dekat tangannya terdapat sebuah alat aneh—sebatang tongkat kecokelatan dengan sebongkah batu di ujungnya, bagai sebatang palu, diikat secara kasar dengan tali dari serat. Di sampingnya terdapat sehelai kertas bertulisan. Holmes membacanya, lalu memberikannya pa­daku.

”Lihatlah,” katanya sambil mengangkat alis, memberi isyarat penting.

Dengan bantuan cahaya lentera kubaca tulisan tersebut dengan perasaan ngeri, ”Tanda empat.”

”Demi nama Tuhan, apa itu artinya?” tanyaku.

”Itu berarti pembunuhan,” kata Holmes, sam­bil membungkuk di atas mayat. ”Ah! Sudah ku­duga. Lihat ini!”Ia menunjuk sesuatu yang mirip sebatang duri panjang kehitaman yang mencuat dari kulit, tepat di atas telinga.

”Tampaknya seperti duri,” kataku.

”Itu memang duri. Kau boleh mencabutnya. Tapi hati-hati, duri itu beracun.”

Aku mencabutnya dengan menggunakan ibu jari dan telunjukku. Duri tersebut terlepas dengan mudah, sehingga hampir tidak meninggalkan je­jak. Hanya satu titik darah kecil yang menun­jukkan di mana duri tadi menancap.

”Semua ini sebuah misteri yang tidak bisa ku­mengerti,” kataku. ”Semakin lama semakin rumit, bukan semakin jelas.”

”Sebaliknya,” jawab Holmes, ”justru setiap saat semakin jelas. Aku hanya memerlukan beberapa mata rantai yang hilang untuk mengaitkan selu­ruh kasus ini.”

Kami hampir melupakan kehadiran kenalan kami sejak masuk ke dalam kamar. Ia masih berdiri di ambang pintu, wajahnya ketakutan, sambil meremas-remas tangan dan mengerang sendiri. Tapi tiba-tiba ia berseru keras.

”Hartanya hilang!” katanya. ”Mereka sudah merampok hartanya! Itu lubang tempat kami menurunkannya. Aku yang membantunya me­nurunkannya! Aku orang terakhir yang melihat­nya dalam keadaan hidup! Aku meninggalkannya di sini semalam, dan aku mendengar dia me­ngunci pintu saat aku turun ke bawah.”

”Jam berapa?”

”Jam sepuluh. Dan sekarang dia tewas, dan polisi akan dihubungi, dan aku akan dituduh terlibat dalam pembunuhan ini. Oh, ya, aku ya­kin akan dituduh begitu. Tapi kalian tidak sepen­dapat, Tuan-tuan? Jelas kalian tidak menganggap aku yang membunuhnya, bukan? Kemungkinan kecil aku akan membawa kalian kemari kalau aku yang membunuhnya, bukan? Aduh! Aduh! Rasanya aku akan sinting!” Ia menyentak-nyentakkan tangannya dan me­ngentakkan kaki karena panik.

”Anda tidak perlu takut, Mr. Sholto,” kata Holmes dengan ramah, sambil memegang bahu­nya. ”Dengarkan nasihatku dan pergilah ke kan­tor polisi untuk melaporkan kejadian ini. Tawar­kan untuk membantu mereka dengan segala cara. Kami akan menunggu Anda di sini.”

Pria kecil tersebut mematuhi dengan sikap se­tengah bingung, dan kami mendengar suara langkahnya terhuyung-huyung menuruni tangga dalam kegelapan.

Bersambung...

Want your establishment to be the top-listed Arts & Entertainment in Ciamis?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address


Ciamis
46272