VAR
̷Verified Anomali Report
📍 Arsip resmi kejadian janggal
🕳️ Misteri, horor, konspirasi, fenomena
⛔ Jangan ikut kalau mudah takut
⚠️ Follow kalau berani!
14/04/2026
𝑨𝒏𝒈𝒊𝒏 𝑯𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝑳𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉 𝑾𝒊𝒍𝒊𝒔
Bel sekolah berbunyi nyaring siang itu.
Teeng... teeng... teeng...
Suara itu biasanya terasa biasa. Tapi entah kenapa, hari itu… terdengar seperti sesuatu yang mengakhiri—bukan memulai kebebasan.
Aku belum tahu… kalau itu adalah awal dari sesuatu yang akan terus mengikutiku… bahkan setelah aku turun dari gunung.
Ajakan yang Tidak Seharusnya Disetujui
“Sabtu kita ke Wilis…”
Kalimat sederhana dari Bendot.
Aku ragu.
Bukan karena uang.
Bukan karena malas.
Tapi karena… perasaan aneh.
Seperti ada sesuatu yang menolak aku pergi ke sana.
Namun seperti biasa, aku kalah.
Dan aku tidak tahu… keputusan itu adalah kesalahan terbesarku.
Cerita yang Seharusnya Tidak Didengar
Sebelum berangkat, Pak Waluyo bercerita.
Tentang padepokan yang dibantai Belanda.
Tentang mayat-mayat yang dilempar ke jurang.
Tentang seorang putri yang mati bunuh diri dalam keadaan hamil.
Dia menutup ceritanya dengan kalimat tenang:
“Selama niatmu baik… gak akan terjadi apa-apa.”
Aku percaya waktu itu.
Sekarang aku tahu…
gunung tidak peduli niat.
Aturan yang Dilanggar
Kami mulai mendaki saat senja turun.
Hutan berubah.
Udara dingin…
sunyi…
dan terlalu hidup di saat bersamaan.
Kami berjalan berbaris.
Aku di paling belakang.
Dan semua pendaki tahu satu hal:
Jangan pernah menoleh ke belakang.
Angin yang Bukan Angin
Awalnya pelan.
Hembusan hangat di tengkukku.
Aneh.
Karena udara gunung seharusnya dingin.
Aku berhenti sejenak.
Hembusan itu… kembali.
Lebih dekat.
Seperti…
seseorang sedang bernapas tepat di belakang leherku.
Aku mempercepat langkah.
Tapi ranselku…
tiba-tiba menjadi berat.
Sangat berat.
Seolah-olah…
ada sesuatu yang duduk di atasnya.
Kesalahan Fatal
Aku tidak kuat lagi.
Perlahan… aku menoleh.
Dan saat itulah…
aku berharap aku tidak pernah melakukannya.
Di antara gelap hutan…
dua titik merah menyala.
Diam.
Menatapku.
Bukan mata hewan.
Karena… terlalu tinggi.
Terlalu… sadar.
Dan saat aku berkedip—
itu menghilang.
Kami Tidak Pernah Sendirian
Kami sampai di camp.
Aku menceritakan semuanya.
Wok Ji hanya berkata pelan:
“Maghrib itu waktu mereka keluar…”
Tidak ada yang bicara setelah itu.
Karena semua orang di tenda…
merasakan hal yang sama.
Kami tidak sendirian.
Yang Mengikuti Kami
Saat turun dari puncak, hari sudah gelap.
Tanpa lampu.
Tanpa cahaya.
Hanya firasat buruk.
Lalu… aku melihatnya lagi.
Di belakang Pipit.
Seorang pria.
Wajah pucat.
Penuh darah.
Berjalan pelan… mengikuti.
Bukan mendekat.
Tapi juga tidak pergi.
Seperti…
menunggu sesuatu.
Peringatan yang Terlambat
Di perjalanan pulang, seorang pencari rebung berkata:
“Kalau malam… jangan tinggalkan tenda…
Karena bisa saja… saat kamu kembali… sudah ada yang duduk di dalam.”
Tidak ada yang menjawab.
Karena kami semua tahu…
itu bukan sekadar peringatan.
Yang Paling Menyeramkan… Bukan di Gunung
Kami naik kereta pulang.
Semua lelah.
Semua diam.
Wok Ji duduk di sebelahku sejak tadi.
Aku bahkan sempat berbicara dengannya.
Sampai…
Suara itu datang dari depan gerbong:
“Nah ini kalian semua… aku dari tadi nyari…”
Itu Wok Ji.
Berjalan dari arah depan.
Tersenyum.
Normal.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
Perlahan… aku menoleh ke sampingku.
Tempat di mana dia duduk tadi.
Kosong.
Tapi kursinya…
masih hangat.
Dan sejak saat itu…
Aku selalu merasa…
aku tidak pernah benar-benar pulang dari Wilis.
13/04/2026
𝑴𝒊𝒕𝒐𝒔 𝑯𝒂𝒏𝒕𝒖 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏𝒕𝒊𝒏
Aku masih ingat jelas hari itu… terlalu jelas untuk dilupakan.
Saat itu aku duduk di kelas 2 SD. Siang terasa aneh—sunyi yang tidak wajar. Guru kami tiba-tiba keluar kelas tanpa alasan yang jelas, meninggalkan kami dengan tugas dan pesan untuk tetap tenang.
Awalnya semua berjalan normal… sampai suara itu muncul.
“Hm… kok bau bunga mawar ya?”
Angga berbisik pelan, tapi cukup keras untuk membuat semua orang menoleh.
Kami menertawakannya. Tidak ada yang mencium apa-apa.
Sampai beberapa menit kemudian… aku ikut menciumnya.
Bau itu… bukan sekadar harum. Tapi pekat. Menyesakkan. Seperti bunga mawar yang ditabur di atas tanah kuburan yang masih basah.
Aku menoleh ke Santi.
“San… kamu nyium nggak?”
Dia menggeleng.
Namun tiba-tiba, dari pojok belakang kelas—
“Ih… bau banget…” suara Desi bergetar, aneh, seperti tercekat sesuatu di tenggorokannya.
Tawa teman-teman pecah, tapi aku tidak ikut tertawa. Entah kenapa… suasana mulai terasa berat. Udara seperti menekan dada.
Karena penasaran—atau mungkin didorong sesuatu yang tidak terlihat—aku berdiri di atas kursi dan mengintip keluar jendela.
Dan saat itulah… aku melihatnya.
Rombongan orang mengangkat jenazah.
Diam. Tanpa suara.
Tidak ada tangisan. Tidak ada doa.
Hanya berjalan… perlahan… seperti bayangan.
Padahal, arah mereka bukan menuju sekolah. Jaraknya jauh, terpisah sawah luas.
Tapi bau itu… semakin kuat.
Seakan-akan… berasal dari dalam kelas.
Keesokan harinya, kabar menyebar.
Jenazah itu adalah calon pengantin wanita. Ia pulang untuk menikah… tapi tak pernah sampai. Kecelakaan merenggut nyawanya sebelum hari bahagianya.
Sejak itu, sesuatu berubah.
Aku memilih duduk di bangku paling belakang, berharap merasa lebih aman di antara teman-teman.
Tapi aku salah.
Hari itu panas terik. Semua orang kepanasan, mengipasi diri dengan buku.
Kecuali aku.
Tubuhku dingin.
Bukan sekadar dingin… tapi seperti es.
Gigiku bergetar. Tanganku gemetar.
Teman di sebelahku mengeluh gerah, tapi saat menyentuh lenganku—
dia langsung menarik tangannya.
“Dingin banget…”
Seorang teman di depanku, Ani, perlahan menoleh. Wajahnya pucat. Matanya menatap ke arah belakangku… bukan ke aku.
“Pit…” suaranya hampir berbisik,
“coba kamu lihat ke atas… di belakangmu…”
Jantungku berdegup keras.
Dengan ragu… aku menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Hanya tembok kosong.
“Apa sih?” tanyaku, berusaha tenang.
Ani langsung memalingkan wajahnya ke depan.
“Gak… gak apa-apa…”
Tapi ekspresinya… tidak bohong.
Keesokan harinya, Ani menghampiriku sebelum kelas dimulai.
Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya.
“Aku harus bilang…” katanya pelan.
“Kemarin… aku lihat sesuatu di atas kamu…”
Aku diam.
“Dia… duduk tepat di atas kepalamu.”
Darahku serasa berhenti mengalir.
“Pakai baju pengantin…” suara Ani mulai bergetar.
“Wajahnya pucat… matanya kosong…”
Aku tidak bisa bergerak.
“Dan…” Ani menelan ludah,
“dia… ngiler…”
Tiba-tiba aku merasakan dingin itu lagi… menjalar dari pundakku.
“Ilernya jatuh ke bahumu… pelan… terus menerus…”
Sejak saat itu, aku sadar…
Bau mawar itu bukan dari jauh.
Bukan dari jenazah yang lewat.
Tapi dari sesuatu… yang ikut masuk ke dalam kelas.
Dan mungkin…
Duduk… tepat di atas kita.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Website
Address
Ciomas