Potret Daerah

Potret Daerah

Share

Lokal • Viral • Trending
Dari Daerah untuk Indonesia

09/07/2026

Tak semua pahlawan mengenakan jubah. Sebagian memilih memikul cangkul, menggali tanah, lalu mengabdi tanpa pernah berharap sorotan.

Joko Hadi Aprianto adalah sosok yang membuktikan bahwa ketulusan selalu menemukan jalannya. Anak keempat dari tujuh bersaudara ini mulai menjadi tukang gali kubur sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Dengan upah yang tak seberapa untuk setiap liang makam, ia membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Tahun 2006 menjadi titik balik hidupnya ketika berhasil lulus menjadi anggota Polri dan bertugas di Samarinda. Namun seragam kepolisian tak pernah membuatnya melupakan panggilan hati. Di sela tugasnya sebagai pelindung masyarakat, Joko tetap turun ke pemakaman, membantu keluarga yang tengah berduka.

Kepercayaan warga pun terus tumbuh. Ia dipercaya menjadi ketua pengelola pemakaman di lingkungan tempat tinggalnya. Mulai dari mengatur lahan makam, menggaji para penggali kubur, hingga mengurus seluruh prosesi pemakaman, semuanya dijalani dengan penuh keikhlasan.

Bagi warga yang kurang mampu, jasa penggalian kubur diberikan secara gratis. Bahkan tak sedikit gaji yang ia terima sebagai anggota Polri digunakan untuk menutupi biaya operasional makam agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

Ketulusannya semakin terlihat ketika pada 2014 dan 2023 ia memilih menolak penghargaan. Alih-alih menerima apresiasi, Joko justru meminta perhatian terhadap krisis lahan pemakaman. Ia bahkan mewakafkan tanah warisan ayahnya agar bisa digunakan sebagai makam gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.

Saat didatangi Kapolri pada September 2024 dan ditawari mengikuti sekolah perwira, Joko kembali menunjukkan kerendahan hatinya. Bukannya meminta promosi karier, ia justru memohon tambahan tanah wakaf untuk pemakaman warga miskin karena lahan yang ada semakin penuh.

Dedikasi luar biasanya akhirnya mendapat penghargaan. Pada Januari 2026, Kapolri mengumumkan kenaikan pangkat Joko menjadi Ipda.

Kisah Joko Hadi mengingatkan kita bahwa kemuliaan bukan diukur dari jabatan, melainkan dari seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada sesama. Semoga ketulusan dan pengabdiannya menjadi inspirasi bagi banyak orang.

09/07/2026

Bu Miskiya tak pernah membayangkan warung sederhana tempatnya menjual nasi rames dan gorengan di Desa Randegan, Banjarnegara, akan didatangi Kang Dedi Mulyadi. Di balik senyum yang ia tunjukkan kepada pembeli, ternyata tersimpan perjuangan hidup yang begitu berat.

Sepinya aktivitas depo kayu saat hari libur membuat penghasilannya terus menurun. Di sisi lain, utang yang awalnya hanya ratusan ribu rupiah membengkak menjadi puluhan juta akibat bunga dan keterlambatan pembayaran. Beban itu semakin terasa ketika rumah tangganya berada di ujung tanduk hingga berujung gugatan cerai.

Tangis Bu Miskiya pecah saat menceritakan bahwa sebagian besar utangnya muncul demi membiayai prosesi pemakaman, tahlilan, dan kebutuhan keluarga setelah orang tua serta kakaknya meninggal dunia. Niat menghormati orang tercinta justru berubah menjadi beban yang menghimpit kehidupan mereka yang masih hidup.

Mendengar kisah tersebut, Kang Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa tradisi dan kegiatan keagamaan sebaiknya dilakukan sesuai kemampuan, agar tidak meninggalkan kesulitan bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia juga menekankan pentingnya kejujuran dalam mengungkap seluruh utang agar solusi yang diberikan benar-benar tepat sasaran.

Sebagai bentuk kepedulian, Kang Dedi memberikan bantuan Rp1 juta dan memborong seluruh dagangan Bu Miskiya untuk dibagikan kepada warga sekitar. Sebuah bantuan yang mungkin tak langsung menghapus semua persoalan, tetapi mampu menghidupkan kembali harapan di tengah himpitan hidup.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa musibah bisa datang kepada siapa saja. Mengelola keuangan dengan bijak, tidak memaksakan tradisi di luar kemampuan, serta saling peduli kepada sesama adalah pelajaran berharga yang dapat kita ambil.

09/07/2026

Ada anak yang p**ang sekolah disambut pelukan orang tua. Namun ada p**a yang p**ang dengan memikul beban hidup sendirian.

Di usianya yang baru 11 tahun, Bramanto harus menjalani kehidupan yang tak seharusnya dipikul seorang anak. Setelah sang ayah meninggal dunia dan ibunya pergi bersama keluarga barunya, Bramanto hidup sebatang kara.

Sep**ang sekolah, bocah kelas 4 SD ini tidak bermain bersama teman-temannya. Ia memilih berkeliling menjajakan gorengan demi mendapatkan uang untuk makan. Dari puluhan gorengan yang dibawa, upah yang diterimanya hanya sekitar Rp5 ribu jika dagangan habis terjual. Tak jarang, ia p**ang tanpa membawa uang karena dagangannya tak laku.

" Aku nggak main sama temen-temen... aku p**ang cepat supaya bisa jualan buat makan."

Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa berat kehidupan yang dijalani Bramanto. Bahkan, ia mengaku pernah menahan lapar selama satu hingga dua hari karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan.

Meski hidup dalam keterbatasan, semangatnya untuk bersekolah tak pernah padam. Tasnya sudah lusuh, sepatunya mulai rusak, dan buku tulis yang dimilikinya hanya satu. Namun baginya, bisa tetap belajar adalah harapan agar suatu hari nanti dapat mengubah masa depannya.

Semoga kisah Bramanto menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak anak-anak yang berjuang dalam diam. Mari doakan agar ia selalu diberi kesehatan, kekuatan, serta jalan terbaik untuk meraih cita-citanya. Semoga ada lebih banyak tangan-tangan baik yang hadir membawa harapan baru dalam hidupnya. ❤️

09/07/2026

Tak semua pahlawan memakai seragam. Ada yang hanya membawa sekarung pasir, lalu diam-diam menyelamatkan banyak nyawa.

Di tengah banyaknya orang yang memilih mengeluh, Satrio justru memilih bertindak. Pemuda asal Candi, Sidoarjo itu rela menambal jalan berlubang dengan pasir menggunakan tenaganya sendiri demi mencegah pengendara mengalami kecelakaan.

Di balik aksi sederhana itu, tersimpan kisah yang mengharukan. Satrio disebut merupakan seorang anak yatim piatu yang tetap tumbuh menjadi pribadi rendah hati, peduli, dan tidak ragu membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan sedikit pun.

Jalan berlubang memang kerap menjadi ancaman bagi keselamatan pengguna jalan, terutama saat malam hari atau ketika hujan. Kepedulian Satrio menjadi pengingat bahwa satu tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan manfaat besar bagi banyak orang.

Semoga langkah mulia Satrio menginspirasi lebih banyak orang untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Semoga p**a pihak terkait segera melakukan perbaikan permanen agar masyarakat dapat berkendara dengan aman dan nyaman.

Terima kasih, Satrio. Kebaikanmu mungkin sederhana, tetapi dampaknya bisa menyelamatkan banyak nyawa. ❤️

09/07/2026

Tak ada warisan paling berharga yang bisa diberikan orang tua selain doa, kejujuran, dan semangat pantang menyerah.

Air mata haru mengalir di wajah Pak Sukandar, seorang buruh pabrik, saat menyaksikan putrinya, Putri Zaitun, berhasil meraih Peringkat 1 Calon Taruni Akpol Polda Banten. Di balik prestasi itu, tersimpan kisah tentang kerja keras, doa di sepertiga malam, dan keyakinan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menggapai cita-cita.

Tanpa harta berlimpah, tanpa koneksi, Putri membuktikan bahwa kemampuan, integritas, dan perjuangan mampu mengantarkannya menjadi yang terbaik. Kisah ini menjadi bukti bahwa kesempatan dapat terbuka bagi siapa saja yang berjuang dengan sungguh-sungguh.

Kini, langkah Putri berlanjut ke seleksi tingkat pusat di Semarang. Semoga setiap doa yang dipanjatkan mengiringi perjalanannya hingga berhasil menggapai impian menjadi Taruni Akpol dan mengabdi untuk Indonesia.

Selamat dan sukses, Putri Zaitun. Semoga kisahmu menjadi inspirasi bagi jutaan anak Indonesia untuk terus bermimpi setinggi langit, karena lahir dari keluarga sederhana bukan alasan untuk berhenti mengejar masa depan.

09/07/2026

Menyentuh hati. Seorang petugas sensus tak kuasa menahan haru saat bertemu seorang lansia yang diperkirakan berusia sekitar 100 tahun di Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Di usia senjanya, ia hidup seorang diri. Karena sudah tak mampu berjalan, setiap hari ia hanya bisa merangkak untuk berpindah tempat. Meski hidup sebatang kara, secercah kepedulian masih datang dari kerabat yang rutin mengantarkan makanan, membantu membersihkan rumah, dan memastikan kebutuhannya tetap terpenuhi.

Momen sederhana yang terekam kamera itu kini viral di media sosial. Ribuan warganet tersentuh, mendoakan kesehatan sang nenek, sekaligus berharap pemerintah dan para dermawan dapat memberikan perhatian serta bantuan agar sisa hidupnya dijalani dengan lebih layak dan penuh kasih sayang.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kepedulian kepada orang tua dan sesama adalah nilai kemanusiaan yang tak boleh pudar.

09/07/2026

Di usia ketika banyak orang menikmati masa pensiun, Mbah Kayu justru masih memikul beban kehidupan di atas pundaknya.

Setiap kali matahari mulai terbit, lelaki berusia 70 tahun itu masuk ke kebun untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah diikat rapi, kayu-kayu tersebut dipikul di bahunya, lalu ia berjalan hampir 15 kilometer demi mencari pembeli.

Perjuangan itu tidak mudah. Persediaan kayu di kebun semakin menipis sehingga Mbah hanya bisa berjualan sekitar tiga kali dalam sepekan. Ironisnya, di tengah semakin banyaknya masyarakat yang beralih menggunakan kompor gas, kayu bakar kian sepi peminat. Tak jarang Mbah p**ang dengan sebagian besar dagangannya masih utuh.

Namun, semua itu tidak membuatnya menyerah. Demi bisa terus menyambung hidup, Mbah tetap melangkah, memikul harapan di setiap ikatan kayu yang dibawanya.

Semoga kisah Mbah Kayu menjadi pengingat bahwa di sekitar kita masih banyak orang yang berjuang dengan penuh keteguhan meski usia tak lagi muda. Mari lebih peduli, lebih menghargai setiap pekerjaan yang halal, dan semoga Mbah selalu diberikan kesehatan, kekuatan, serta rezeki yang berlimpah.

Karena di balik setiap langkahnya yang pelan, ada semangat hidup yang begitu luar biasa. ❤️🙏

09/07/2026

Air mata kehilangan sang ayah justru menjadi awal lahirnya sebuah mimpi besar.

Rendy Rizky Fahrezi, pemuda 18 tahun asal Kabupaten Majalengka, membuktikan bahwa status sebagai anak yatim dan keterbatasan ekonomi tak mampu menghentikan langkahnya mengejar cita-cita.

Berkat kerja keras dan prestasinya, ia berhasil meraih beasiswa dari Kementerian Pendidikan Federasi Rusia dan diterima di enam kampus ternama di Rusia untuk melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran.

Namun, di balik prestasi luar biasa itu tersimpan alasan yang begitu menggetarkan hati.

"Saya pilih jurusan ini karena ayah meninggal saat Covid, tidak tertolong dan tak ada biaya. Semoga saya bisa sembuhkan banyak orang."

Kalimat sederhana itu menjadi bukti bahwa luka terdalam bisa berubah menjadi semangat terbesar. Kehilangan orang yang dicintai tak membuatnya menyerah. Justru dari duka itulah lahir tekad untuk menjadi dokter yang kelak dapat menyelamatkan banyak nyawa agar tak ada lagi keluarga yang merasakan kepedihan seperti yang pernah ia alami.

September nanti, Rendy akan terbang ke Rusia membawa harapan ibunya, doa masyarakat Indonesia, dan cita-cita mulia untuk mengabdi kepada sesama.

Semoga langkahmu dimudahkan, Rendy. Teruslah menginspirasi dan p**anglah sebagai dokter kebanggaan Indonesia.

09/07/2026

Takdir mungkin membuatnya lahir dari keluarga sederhana. Namun tekad dan kerja keras mengantarkannya menjadi salah satu wisudawan terbaik UGM.

Muhammad Ikhsanudin Alamin, putra seorang buruh bangunan dan pedagang kaki lima asal Karanganyar, Jawa Tengah, berhasil meraih gelar sarjana dari UGM hanya dalam waktu 3 tahun 4 bulan dengan IPK nyaris sempurna, 3,98.

Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara sang ibu setiap hari berjualan sandal dan sepatu di pinggir jalan. Di tengah segala keterbatasan, Ikhsan tumbuh dengan satu mimpi besar: menjadi sarjana pertama di keluarganya.

Perjalanan itu tidak mudah. Sejak kecil ia kerap menjadi korban perundungan, baik secara verbal maupun fisik. Namun alih-alih membalas, Ikhsan memilih diam, fokus belajar, dan membantu orang tuanya berjualan serta bertani di sawah. Baginya, menambah masalah hanya akan semakin membebani keluarganya.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Ia diterima di Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM melalui beasiswa Bidikmisi. Selama kuliah, prestasinya begitu luar biasa. Dari 58 mata kuliah yang ditempuh, hampir semuanya mendapat nilai A. Hanya tiga mata kuliah bernilai A- dan satu mata kuliah A/B.

Kini, Ikhsan resmi menyandang gelar sarjana sebagai salah satu lulusan terbaik UGM. Kisahnya menjadi bukti bahwa latar belakang keluarga bukanlah penentu masa depan. Dengan ketekunan, kesabaran, dan semangat pantang menyerah, mimpi sebesar apa pun bisa diraih.

Semoga perjuangan Ikhsan menjadi inspirasi bagi siapa pun yang sedang berjuang. Sebab, kesuksesan tidak ditentukan dari seberapa kaya seseorang saat memulai, melainkan seberapa kuat ia bertahan hingga mencapai garis akhir.

09/07/2026

Bukan pejabat. Bukan pengusaha besar. Bukan p**a miliarder. Namun seorang perempuan ini memilih mengubah nasib kampungnya dengan cara yang tak biasa.

Hj Siti Srimulati rela menghabiskan tabungan seumur hidupnya demi membangun jalan sepanjang 2,5 kilometer yang selama puluhan tahun hanya menjadi impian warga. Bahkan ketika dana pembangunan mulai menipis, ia tanpa ragu menjual emas-emas yang selama ini dikumpulkannya sedikit demi sedikit.

"Saya dulu beli emas sedikit demi sedikit. Saat harganya naik, saya jual untuk membangun jalan ini," tuturnya.

Tak ada sponsor, tak ada bantuan perusahaan, apalagi mencari pop**aritas. Semua biaya berasal dari kantong pribadinya. Saat ditanya berapa uang yang telah dihabiskan, jawabannya justru membuat banyak orang terdiam.

"Itu urusan saya dengan Allah."

Pembangunan dimulai tepat pada Hari Kartini, 21 April, sebagai simbol perjuangan seorang perempuan yang ingin menghadirkan perubahan nyata. Selama tiga bulan, jalan baru beserta dua jembatan akhirnya berhasil menembus hutan dan menghubungkan wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Lebih mengharukan lagi, warga ikut mendukung dengan menghibahkan sebagian tanah mereka agar pembangunan berjalan tanpa hambatan.

Di tengah banyaknya orang menunggu bantuan datang, Hj Siti memilih menjadi orang yang memberi. Ia membuktikan bahwa kekayaan terbesar bukanlah apa yang disimpan, melainkan apa yang mampu diwujudkan demi kemaslahatan banyak orang.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa satu niat baik, jika disertai keikhlasan dan keberanian, mampu mengubah kehidupan sebuah kampung.

Want your business to be the top-listed Media Company in Curup?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address


Curup
123456