Kalender Bulan
Klik LIKE page ini & dapatkan auto-update info ilmiah terkait dengan kalender hijriah
Gerhana Bulan di Tengah Dzulhijjah
Penjelajah ilmu, malam ini hari ke-15 Dzulhijjah. Sebagai sering kami sampaikan bahwa suatu kepastian di dalam kalender Hijriyah bahwa malam ke-15 di bulan Jumadil Akhir dan malam ke-15 di bulan Dzulhijjah terjadi gerhana rembulan. Jenisnya bisa saja gerhana rembulan total atau gerhana rembulan sebagian atau gerhana bulan penumbra.
Dan malam ini gerhana rembulan penumbra akan berlangsung dimulai pukul 23.54 WIB. Puncaknya adalah pukul 01.54 WIB dan berakhir pada 03.53 WIB.
Gerhana rembulan penumbra adalah ketika seluruh atau sebagian permukaan rembulan melintas wilayah bayangan bumi yang masih terdapat cahaya matahari. Dengan demikian, rembulan masih dapat terlihat dengan mata telanjang maupun kamera, tapi cahayanya sedikit redup.
Seperti disampaikan Nabi, fa idza raitumuha fa shalluu ! Maka apabila kalian menyaksikan gerhana, maka shalatlah ! Maka malam nanti dipersilahkan untuk melakukan shalat gerhana rembulan. Bila merujuk ke doa iftitah : inna shalati wa nusuki (....) lillahi rabbil 'alamin. Maka shalat ini merupakan salah satu nusuk atau ritual yang dikemas dengan tata tertib tertentu untuk menyampaikan maksud, yang biasa kita sebut manasik.
Lalu apa maksud (manasik) shalat ? Secara rinci setiap gerakan shalat tentunya mengandung maksud. Namun secara umum adalah menghayati ayat-ayat al Qur'an sehingga tercapai tujuan shalat adalah meningkatkan kualitas diri menjadi mukmin, ash-shalatu mi'rajul mukmin. Menghayati berarti menghidupkan al Qur'an sepanjang hayat, maka tidak mengherankan apabila di dalam shalat dianjurkan dengan sangat membaca bacaan Qur'an dalam takaran yang cukup. Takaran cukup ini tentunya mengikuti takaran shalat Nabi. "Shalatlah sepertihalnya kalian melihat aku shalat". Misalnya dzuhur setidaknya 30 ayat, lalu asar panjang bacaannya minimal setengah dari bacaan dzuhur, dst.
Mari hidupkan Tengah bulan Dzulhijjah dengan shalat dan puasa.
15 Dzulhijjah 1437H
SYA'BAN : BULAN PERSIAPAN MENUJU RAMADHAN
Nabi Muhammad, yang kita berharap kepada Allah mudah-mudahan berkenan mengantarkan kita untuk dapat menghabiskan sisa hidup ini dengan meneladani sikap hidupnya, mewasiatkan kepada kita bahwa sepanjang Rajab dan Sya'ban untuk berdo'a :
اللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ
Ya Allah, berkahkanlah hidup kami di sepanjang bulan Rajab dan Sya'ban, sampaikanlah hidup kami mencapai bulan Ramadhan.
Sejarah mencatat bahwa perintah Puasa (Shaum) Ramadhan diwahyukan pada permulaan bulan Sya'ban tahun kedua setelah Nabi berhijrah ke Yatsrib (Madinah).
Menjadi wajar dalam rangka menghadapi puasa Ramadhan, Nabi Muhammad menerangkan kapan dimulainya bulan Ramadhan. Hadits yang diriwayatkan Bukhari menerangkan demikian:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ، قَالَ النَّبِىُّ صلعم : صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْا
فَاِنْ غُبِّىَ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِيْنَ.
Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Nabi Muhammad saw menegaskan : berpuasalah untuk merukyahnya dan berbukalah. Selanjutnya jika tidak cukup (pengetahuan rukyah) atas kalian maka lengkapkanlah hitungan hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.
Yang menarik dari teks hadits ini adalah berpuasalah لِرُؤْيَتِهِ untuk merukyahnya (asy-syahru), dimana kata sandang ..لِ li... yang artinya guna... atau untuk... Sehingga tujuan puasa adalah untuk melakukan rukyat ! Bukan sebaliknya.
Selanjutnya, teks fa in ghubiya 'alaik*m, menggunakan kata غُبِّىَ (ghub-bi-ya) dengan penambahan shadda di atas huruf ب (ba). Kata غُبِىَ tanpa shadda berarti bodoh, tidak teliti, tidak cukup pengetahuan. Menambahkan shadda ke dalam suatu kata sama halnya meringkas dua kata dengan kata dasar yang sama.
Kembali ke kata غُبِّىَ = tidak cukup pengetahuan tentang sebuah pengetahuan. Lalu merujuk pada kalimat sebelumnya maka pengetahuan di sini adalah pengetahuan rukyah.
Jelasnya, berpuasa dengan tujuan rukyah, bila tujuan rukyah tidak tercapai karena suatu hal (dalam hadits lain disebutkan ghumman yaitu berawan) maka cukup lengkapkan Sya’ban tiga puluh hari, maka jelas puasa dalam hadits ini tidak merujuk puasa Ramadhan. Namun puasa yang dimaksud adalah puasa tengah bulan 13, 14 dan 15 di bulan Sya’ban, di mana rembulan sedang purnama sehingga siapapun dapat melihat dengan mata kepala secara langsung kecuali ada halangan awan di tempat bermukimnya.
Merujuk pada bahasan Nisfu Sya'ban (setengah bagian Sya'ban) sebelumnya bahwa Nisfu Sya'ban adalah satu momen yang membagi Sya'ban menjadi dua bagian sama besar, sehingga setelah usai berpuasa dan tahajud di selama nisfu sya'ban maka telah teranglah kapan tanggal satu Ramadhan. Yaitu setelah dilewatinya 15 hari kedua di bulan Sya'ban.
Mari persiapkan diri menyambut Ramadhan, Bulan Penurunan al Qur'an.
Rabu, 25 Sya'ban 1437 H
19/05/2016
NISFU SYA'BAN
Penjelajah ILMU... Hari ini (19/05/2016) selepas maghrib, kita akan memasuki tanggal 13 Sya'ban 1437 H. Seperti telah diketahui bersama bahwa tanggal 13, 14 dan 15 bulan hijriyah disebut sebagai malam-malam purnama (ayyamul bidh), di mana Nabi Muhammad selalu melakukan shaum baik beliau sedang dalam keadaan bermukim dan di perjalanan (HR. an-Nasa’i).
Khusus di bulan Sya'ban, Rasul memperkenalkan istilah Nisfu Sya'ban seperti yang diriwayatkan Ibnu Majah : “Apabila tercapai malam nisfu (setengah) dari bulan Sya’ban, maka tegakkan shalat (tahajud) pada malam harinya dan ber-shaum-lah pada siangnya. Maka sungguh Allah mengedarkan di dalam yang demikian (hari nisfu sya’ban) dimulai ketika terbenam matahari hingga muncul lagi di langit dunia....., yaitu hingga terbit fajar membelah malam.” Sebagai pembanding istilah nisfu dapat dilihat Surat Al Muzammil : 3. Nisfahu awinqush minhu qaliilaan. (Setengah malam atau kurangkanlah sedikit darinya). Sehingga teranglah bahwa NISFU SYA'BAN adalah satu momen yang membagi bulan Sya'ban menjadi dua bagian sama besar yaitu 15 hari pertama dan 15 hari kedua. Perihal bulan Sya'ban ini pun telah diuraikan dalam posting berjudul 30 Sya'ban (Bagian 1) dan 30 Sya'ban (Bagian 2) pada 10 dan 28 Juni 2014.
Guna mempermudah, kami membuatkan sket Bulan Sya'ban seperti terlihat pada gambar. 15 hari pertama akan berakhir dengan berakhirnya Puasa Tengah Bulan Sya'ban. Selepas Nisfu Sya'ban kita dapat melakukan penghitungan mundur menuju tanggal 1 Ramadhan.
Kami menukilkan kembali Hadits Bukhari No. 938 :
عَنْ عَبْدِاللّهِ اَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ صلعم
قَالَ : الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ لَيْلَةً فَلَا تَصُوْمُوْا حَتَّ تَرَوْهُ
فَاِنَّ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْاالعِدَّةَ ثَلَاثِيْنَ
"Dari Abdullah ra Rasulullah menyampaikan bahwa :
(1) Bulan Ramadhan ada dua puluh sembilan malam, maka janganlah kalian berpuasa Ramadhan hingga kalian melihatnya (bulan Ramadhan, asy-syahru).
(2) Selanjutnya sungguh jika berawan di atas tempat bermukim kalian maka lengkapkanlah bilangan (bulan Sya’ban) tiga puluh malam."
Kami sengaja menambahkan angka di dalam mengalihbahasakan hadits tersebut untuk menekankan bahwa Kalimat (1) pokok bahasannya adalah bulan Ramadhan yang sebulan ada 29 hari (di Tahun Normal, bukan kabisat). Lalu awal puasa Ramadhan dimulai ketika melihat bulan Ramadhan (bukan rembulan). Mohon perhatikan istilah bulan Ramadhan disebut dengan Asy-syahru ! Sementara bulan diselalu disebut dengan al Qamar ! Syahru-Ramadhan tidak termasuk ke dalam benda sejati, yang tentunya tidak dapat diindera dengan mata. Yang mendengarkan langsung kalimat ini dari Nabi Muhammad pasti resah karena menyadari bagaimana cara melihat asy-syahru di akhir bulan sebelum mulai Ramadhan? Ada keraguan yang tidak disampaikan oleh si pendengar. Pertanyaannya adalah dari mana kita mengetahui bahwa pendengar resah atau ada keraguan ?
Mari kita kutip secara ringkas buku Mukaddimah tulisan Ibnu Khaldun tentang malakah atau naluri berbahasa. Ketika seseorang menyampaikan Zaidun Qa'imun (Si Zaid berdiri), maka dia sedang memberikan tahukan kepada orang yang tidak mengetahui sama sekali bahwa Si Zaid berdiri. Ketika orang yang sudah mendengar tentang berita berdirinya Zaid, namun masih ada keraguan, maka ditekankan dengan Inna Zaidan Qa'imun (Sesungguhnya Si Zaid berdiri). Selanjutnya bila si pendengar mengingkari berita tersebut maka akan digunakan kalimat Inna Zaidan laqa'imun.
Mari kembali ke kalimat (2) hadits bukhari di atas fa inna ghumma 'alaik*m... dst. = akhirnya (bagi yang masih ragu terkait dengan melihat asy-syahru), sungguh jika tempat bermukim kalian di rundung mendung, maka cukup lengkapkanlah bilangan (bulan Sya'ban) tiga puluh malam.
13 Sya'ban 1437 H
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the school
Address
Sawangan
Depok