Rumah Hikmah

Rumah Hikmah

Share

Rumah Hikmah, mencari solusi bersama dalam membangun kemakmuran umat... http://rumah-hikmah.com Yang dikatakannya surga berarti itu adalah neraka. Insyaallah.

03/09/2017

: Penguasa Ekonomi Dunia adalah Penguasa Data.

Penguasa ekonomi dunia – dua dari tiga orang terkaya di dunia yaitu Bill Gates (Microsoft) dan Jeff Bezos (Amazon) menjadi penguasa peradaban di millennium ini karena kepiawaiannya dalam mengolah dan mengelola data. Amazon bahkan menjadi model cerita sukses penambangan data untuk membangun kerajaan bisnisnya.

Bagi Anda yang biasa belanja buku di Amazon, akan sering dikejutkan oleh engine mereka yang seolah tahu apa yang kita sedang cari. Ketika saya mencari buku tentang Microgreen misalnya, begitu dapat satu buku yang baik – yang sesuai dengan yang saya cari – engine mereka akan segera memberi rekomendasi, yang kurang lebih berbunyi begini : “ yang membeli buku ini, biasanya juga membeli buku-buku berikut ini….”.

Dan benar saja, hampir selalu kita akan ‘terbujuk’ untuk juga membeli buku-buku berikutnya yang direkomendasikan oleh engine mereka ini.

Tetapi Jeff Bezos tidak hanya cukup puas menjadi orang terkaya nomor 3 yang bermula dari jualan buku ini, kerajaan bisnisnya merambah kemana-mana termasuk yang menghebohkan akhir-akhir ini dengan membeli retailer makanan sehat terbesar di negeri itu yaitu Whole Foods.

Apa yang kira-kira akan terjadi setelah ‘Whole Foods’ di-‘Amazon’-kan ? Setiap kali Anda membeli makanan sehat tertentu melalui system mereka ini, aka nada rekomendasi yang kurang lebih sama : ‘…yang membeli makanan ini, biasanya juga membeli makanan-makanan berikut ini…’

Dan benar juga, kemungkinan Anda akan ‘terbujuk’ untuk membeli makanan-makana yang semula tidak Anda butuhkan, tetapi karena disodorkan secara menarik kehadapan Anda – akhirnya Anda membeli juga.

Walhasil revolusi industri informasi telah membuat orang-orang seperti Bill Gates dan Jeff Bezos menguras kantong konsumen seluruh dunia dengan kepandaian mereka mengolah data.

Tetapi alhamdulillah para peneliti, para penemu dan para startupers di seluruh dunia belum akan menganggap revolusi industri informasi usai di tangan mereka-mereka ini. Dunia internet yang memungkinan manusia di seluruh dunia saling berinteraksi dan berjual beli, barulah awal dari proses revolusi industri informasi itu sendiri.

Pengguna internet yang diperkirakan akan berkisar 4 sampai 5 Milyar orang di dunia hingga tahun 2020, akan jauh terlampaui oleh benda-benda yang bisa saling berhubungan satu sama lain saat itu – yang diperkirakan akan mencapai lebih dari 30 milyar devices dan selanjutnya tumbuh eksponential mencapai 75 milyar lima tahun kemudian (2025).

Tersambungnya sejumlah besar devices inilah yang disebut Internet of Things (IoT) yang menjadi babak baru dari revolusi industri informasi. Siapa yang akan berperan di era seperti ini ? bisa jadi orang-orang seperti Bill Gates dan Jeff Bezos lagi, karena mereka punya modal raksasa sekarang untuk pengembangan usahanya.

□□□□□□□
Internet of Thinks (IoT):
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1657661944266612&id=165703343462487

www.rumah-hikmah.com

03/09/2017

: Kembali ke Desa?

Urbanisasi adalah penyakit kronis kota-kota besar dunia termasuk Indonesia yang hingga kini belum ketemu obatnya yang efektif. Selama sumber-sumber penghidupan atau pekerjaan terbaik adanya di kota-kota besar, maka selama itu p**a masalah urbanisasi akan terus terjadi. Oleh sebab itu, untuk menghentikan arus urbanisasi – dan bahkan membalik arusnya menjadi deurbanisasi – daerah-daerah harus bisa menghadirkan sumber penghidupan atau pekerjaan terbaik. Bagaimana caranya ?

Bila kita tanyakan kepada para pencari kerja terdidik di negeri ini, yaitu para sarjana tentang pekerjaan apa yang terbaik menurut mereka ? maka jawabannya akan berdasarkan pengalaman atau pendidikan mereka. Pekerjaan di industri keuangan, industri teknologi, telekomunikasi, manufacturing dlsb. adalah yang kemungkinan besar menjadi pilihan mereka.

Hal yang tidak jauh berbeda jawabannya apabila ditanyakan kepada para pencari kerja dari kalangan yang berpendidikan lebih rendah, bedanya mereka membidik di tenaga-tenaga administratif-nya, buruh pabrik dan sejenisnya.

Karena jawaban mereka inilah, maka mereka akan berbondong-bondong ke kota besar mencari pekerjaan yang menurut mereka terbaik – karena jenis-jenis pekerjaan semacam ini adanya memang di kota-kota besar dan sekitarnya.

Kota besar dan sekitarnya menjadi padat melebihi daya dukung kehidupannya, dan berbagai problem bermunculan. Krisis perumahan, kelangkaan air bersih, pencemaran lingkungan, kekumuhan, kemacetan dan berbagai penyakit fisik, psikis sampai penyakit sosial adalah diantaranya.

Penyakit turunan dari masalah urbanisasi ini belum ketemu obatnya karena kita belum pernah mencari obat dari sumber yang seharusnya. Dimana obat atau solusi atas penyakit-penyakit ini seharusnya kita cari ? Bagaimana kalau kita kembali ke desa ?

Bila kita memulai dari desa, simpul demi simpul jawaban akan terurai. Tanah pertanian, perkebunan dan peternakan ada di desa. Sumber daya manusia juga sudah ada di desa. Apabila kita dapat membangun industri packaging - pengepakan saja dari semua sumber daya tersebut, insyaAllah hasil pertanian, perkebunan dan peternakan akan lebih mudah di distribusikan dan lebih tahan lama.

Tinggal satu tahapan lagi, yaitu menjual ke daerah lain atau bahkan ke mancanegara, sehingga perekonomian langsung masuk ke desa-desa. Bukankah saat ini sudah era internet, sehingga kita dapat dengan mudah mempromosikan semua produk kita ke mana saja...

Dengan kembalinya perekonomian ke desa-desa, insyaAllah lapangan pekerjaan akan banyak di desa dan arus tenaga kerja-pun akan kembali ke desa-desa, insyaAllah. Itu baru melihat dari industri packaging saja, apalagi bila tumbuh industri-industri lainnya dari desa... semoga...

www.eksportir-indonesia.com

Photos 25/08/2017

: Generasi Tanpa Daya.

Hampir semua ilmu itu kini tersedia bebas untuk bisa kita pelajari di belantara dunia maya, namun ini tidak menjadi jaminan bahwa orang yang hidup di jaman ini menjadi lebih cerdas dalam mengatasi perbagai persoalan hidupnya. Bahkan kini muncul generasi yang tanpa daya – sangat sedikit menguasai sesuatu. Banyak sekali pekerjaan terbuka, tetapi serba tidak bisa dilakukannya – disuruh bekerja ini tidak bisa, yang itu-pun tidak bisa. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan generasi Tanpa Daya ini ?

Bisa jadi mereka rajin berjam-jam berinteraksi dengan dunia maya, tetapi mereka tidak belajar sesuatu. Bisa jadi mereka lulusan perguruan tinggi ternama, lagi-lagi mereka tidak belajar sesuatu. Maka waktu yang ditempuh dalam seluruh proses yang seharusnya menambah ilmu dan ketrampilannya, terbuang sia-sia.

Dunia bisa berubah dengan sangat cepat di era teknologi informasi, tetapi proses menuntut ilmu dan mengembangkan ketrampilan tidak berubah. Metode paling efektif-nya exactly the same dengan yang diajarkan oleh Allah kepada utusan terakhirnya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Melalui ayat yang pertama turun Iqra’ – bacalah ! ini jendela ilmu terbuka untuk pertama kalinya. Maka dengan melimpahnya sumber ilmu di dunia maya, kita bisa mempelajari apa saja apabila kita rajin membaca.

Tetapi membaca saja tentu tidak cukup bila dia tidak membekas dalam pikiran kita, maka kita juga harus memiliki daya ingat yang baik untuk bisa mengingat apa yang kita baca. Bahkan ada sumber segala sumber ilmu yang dijamin mudah diingat atau dihafalkan – yaitu Al-Qur’an.

Sampai empat kali Allah mengulang ayat yang sama : “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran (diingat), maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar : 17,22,32,40).

Dibaca saja Al-Qur’an sudah memberi manfaat, dihafalkan tentu lebih baik lagi bagi yang mau melakukannya – tetapi lebih dari itu karena Al-Qur’an juga merupakan jawaban untuk seluruh persoalan kehidupan (QS 16:89), dia juga harus dipahami. Bagaimana menjawab persoalan jaman bila tidak memahami petunjuk yang senantiasa valid untuk itu ?

Tetapi hanya sampai paham juga belum menyelesaikan persoalan, masalah yang perlu dihadapi di masyarakat adalah konkrit – maka solusinya juga harus konkrit. Seperti konon ungkapan para wali dalam menyelesaikan tantangan dakwahnya di Jawa : sing udo klambenono, sing luwe pakanono, sing ngelak ombenono, sing kudanan/kepanasan payungono – yang telanjang berilah pakaian, yang lapar berilah makan, yang haus berilah minum, yang kehujanan/kepanasan berilah payung (rumah) !

Agar kita tidak termasuk generasi Tanpa Daya marilah kita bersama-sama beramal sholeh mencari solusi atas segala permasalahan di negeri ini berdasarkan petunjuk yang Haq dari Pencipta Alam Semesta ini. InsyaAllah.

www.rumah-hikmah.com

01/09/2015

Disaat kondisi dalam negeri sedang kesulitan mencukupi kebutuhan pangan dan menciptakan lapangan kerja untuk rakyatnya. Mengapa dana lebih BUMN, ekses likwiditas perbankan dan industri keuangan lainnya tidak fokus diarahkan untuk mengentaskan kemiskinan dan mencegah kelaparan ? Mungkin dianggap kalau sektor riil itu dipandang beresiko tinggi dari kacamata para pengelola dana, maka wajar mereka memilih yang aman saja yaitu menaruh dananya di Deposito dan SBI.

Bayangkan situasi ini, ketika ekonomi sedang terengah-engah, lapangan pekerjaan terancam, infrastruktur belum banyak mengalami kemajuan, pasar dibanjiri barang impor, harga daging mahal dlsb – sementara ada modal yang begitu besar terkunci di brankas-nya BI sampai 9-12 bulan kedepan ?

Itu baru dana dari uang Anda yang ada di bank, bagaimana dengan dana pensiun Anda, uang asuransi Anda, dana hari tua Anda –semuanya bernasib sama – yaitu kalau tidak untuk nguyahi segoro pasar modal, ya tersimpan di deposito bank yang berujung di SBI tersebut.

Tapi yang salah kembali ke rakyat kayak kita-kita juga sebenarnya, mengapa kita terlalu mengandalkan mereka untuk mengelola uang kita. Kebanyakan masyarakat kita lebih memilih menabung di bank, reksadana, unit link, asuransi, dana pensiun dlsb – yang notabene menyerahkan dana kita untuk dikelola di sektor yang semu, ketimbang untuk belajar membangun usaha sendiri, belajar menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan dan mencegah kelaparan di sekitar kita.

Maka Allah-pun mempertanyakan : “Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar ? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu ? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, …” (QS 90 :11-14)

"Melepaskan budak dari perbudakan" bisa dimaksudkan menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kemakmuran dan mengentaskan kemiskinan. InsyaAllah bisa membebaskan perbudakan - memakmurkan umat

"Memberi makan pada hari kelaparan" bisa dimaksudkan membangun ketahanan pangan dengan memakmurkan bumi (perkebunan, pentanian dan peternakan) - memakmurkan bumi.

Tidak ada yang mudah memang, itulah sebabnya Allah sendiri menyebutnya jalan yang mendaki lagi sukar. Meskipun demikian kita rela dengan ikhlas menempuhnya karena kita hanya berharap akan ridloNya untuk kemudian menaruh kita di golongan kanan (QS 90:18). Aamiin.

http://www.facebook.com/noer.rachman.hamidi

Noer Rachman Hamidi Kump**an Catatan Noer Rachman Hamidi.

Want your school to be the top-listed School/college in Depok?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address


Depok
16951