Ida Raihan
Bicara pernikahan, novel, tentang kehidupan sehari-hari. https://linktr.ee/idaraihan
07/12/2025
Part 7
POV Author
Palu hakim diketuk tiga kali, gema suaranya terasa begitu final, menyegel takdir pernikahan yang telah lama mati.
Di ruang sidang yang dingin dan berbau kertas tua, Vania duduk tegak, memaksakan ekspresi pasrah di wajahnya.
Di seberang sana, Kamal menatap lurus ke depan, wajahnya tak terbaca, seolah keputusan ini hanyalah formalitas bisnis yang harus diselesaikan.
Ia sudah lelah, ini adalah sidang ke empat. Ia muak bolak-balik bernegosiasi dengan Vania. Akhirnya Kamal memutuskan menaikkan sedikit harga dari rencananya,
“Agar sidang segera selesai, Pak, dan tidak bertemu Vania terus dalam kondisi menjijikkan seperti ini.” ucapnya melalui sambungan telepon kepada pengacaranya kemarin sore, saat persiapan untuk sidang pagi ini.
Vania kesal karena tidak mendapatkan semua yang ia tuntut dalam daftar fantasinya.
Tuntutan miliaran rupiah dan rumah mewah itu ditolak mentah-mentah oleh hakim, dipatahkan oleh argumen dingin pengacara Kamal tentang harta bawaan.
Namun, ia tidak pulang dengan tangan kosong. Kemenangan kecil yang terasa seperti penghinaan besar masih ia bawa.
Sebidang tanah seluas dua ratus meter di wilayah elit, u ang mut’ah tunai tiga ratus juta, dan nafkah iddah tiga puluh juta perbulan selama tiga bulan. Serta nafkah bulanan untuk Meira putrinya, pengadilan menetapkan lima juta perbulan dengan kenaikan rutin sepuluh persen setiap tahunnya.
Jauh dari yang ia tuntutkan, tetapi, seharusnya, itu cukup untuk membangun benteng baru baginya.
Saat mereka berjalan keluar dari ruangan yang menyesakkan itu, Vania sengaja memperlambat langkah, menyamai posisi Kamal yang berjalan kaku di sampingnya.
“Puas, Mas?” bisiknya, nadanya manis namun beracun. “Sudah berhasil membuang kami?”
Untuk pertama kalinya, Kamal menoleh, tatapannya dingin. “Aku tidak membuang kalian. Perceraian ini kamu yang menginginkan.”
Vania tersenyum tipis.
“Kamu akan menyesal,” desisnya.
Kamal memilih tidak menanggapi. Vania melintasinya dengan penuh percaya diri.
“Kita lihat, berapa lama kamu akan bertahan. Kujamin gak sampai sebulan kamu pasti akan memintaku kembali.” batinnya.
🔹
Sayangnya, sebulan berlalu seperti dalam mimpi buruk yang panjang.
Apartemen mewah yang Vania sewa terasa semakin luas dan kosong setiap harinya. Ia duduk di sofa beludru berwarna zamrud. Menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan panorama kota Jakarta.
Pemandangan itu indah, tapi terasa begitu jauh dan tak tersentuh.
Setiap hari adalah ritual penantian yang menyiksa. Setiap dering telepon membuat jantungnya melompat. Ia akan meraih ponselnya dengan napas tertahan, berharap nama ‘Kamal My Love’ tertera di sana. Sayangnya, harapan itu selalu hancur. Notifikasi dari butik online. Pesan gosip dari Rina. Panggilan dari sales asuransi.
“Ah, Selalu bukan dia!” Vania kecewa.
Kalau sudah begitu, ia akan melempar ponselnya ke ujung sofa. Mendarat di atas bantal sutra tanpa suara, seolah ikut mengejek kesunyiannya.
“Di mana dia? Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa dia tidak mencariku?”
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Gengsi, serta harga dirinya, yang seperti tembok tebal nan tinggi, melarangnya untuk menghubungi lebih dulu.
“Akulah korbannya. Akulah yang tersakiti. Dia yang harus datang merangkak, memohon ampun. Dia yang harus menebus dosanya.” begitu Vania bertekad.
Hampir setiap hari ia menghubungi Rina tanpa kenal waktu. Pagi, siang, malam, dini hari. Kapanpun dia tiba-tiba teringat pada Kamal.
Tiba-tiba menelepon dan langsung menangis, menjerit, atau sesenggukan saja. Bahkan gara-gara itu, Rina jadi sering menginap di rumah Vania. Seperti hari itu.
“Van, kamu sudah makan?”
“Sudah,” jawab Vania singkat, padahal perutnya kosong sejak pagi.
“Jangan sedih terus, d**g. Laki-laki kayak gitu gak pantes ditangisi,” hibur Rina.
“Aku nggak nangis,” balas Vania ketus. “Aku cuma… butuh waktu.”
“Dia ada hubungi kamu?”
“Belum. Mungkin dia masih malu. Biarkan saja. Cepat atau lambat, dia pasti sadar kalau dia nggak bisa hidup tanpaku.” ucap Vania, terdengar sangat yakin. Tetapi di dalam hati, benih keraguan mulai tumbuh.
Setiap notifikasi transferan u ang nafkah yang masuk tepat waktu di awal bulan terasa seperti tamparan baginya.
Seolah ia hanyalah kewajiban bulanan yang harus dilunasi, bukan perempuan yang pernah dipuja. Angka-angka itu, yang dulu terasa seperti kemenangan, kini menjelma menjadi simbol perpisahan yang sesungguhnya.
Vania selalu histeris setiap kali membayangkan hal itu. Membuat Maira ketakutan, dan ikut menangis. Kalau sudah begitu, biasanya Vania akan melunak, memeluk putrinya sambil menghibur dirinya sendiri.
“Mas Kamal hanya masih ngambek saja. Nanti dia pasti akan datang lagi kepadaku, meminta untuk rujuk. Kami punya a nak, dia pasti berat lepas dari kami. Pasti.”
🔹
Di sisi lain kota, di dalam rumah yang kini terasa lebih damai, Kamal justru mulai menemukan kembali kepingan hidupnya.
Tanpa teriakan, tanpa drama, tanpa tuduhan, keheningan di rumahnya terasa begitu menenangkan. Hubungannya dengan Yuno yang sempat merenggang, kini menghangat kembali. Sayangnya, Anne masih terlihat patah. Kebiasaan baru anak itu tidak tergoyahkan.
Anne hanya keluar kamarnya untuk makan siang. Sudah banyak saudara, sepupu, Om Tante, baik dari pihak Ibu, maupun dari pihak Kamal yang didatangkan dalam rangka mengembalikan Anne kepada fitrahnya. Namun semuanya seperti sia-sia. Anne tetap mengurung diri di kamarnya. Dia sama sekali tidak berminat pada apapun selain tidur, merapikan kamarnya, dan membaca buku,
Sore itu, Kamal sedang memeriksa laporan di ruang kerja, ketika satu pesan masuk.
“Mas, kulihat ada seminar bisnis soal digital marketing besok. Tempatnya di hotel dekat sini. mau ikut?”
Pesan dari Fero. Salah satu partner dari sebuah yayasan amal yang berjuang untuk kemerdekaan rakyat Palestina.
Kamal adalah donatur tetap untuk membantu perjuangan Palestina, sehingga dia memiliki hubungan baik dengan Fero yang menangani urusan amal di kantornya.
Sayangnya, komunikasi yang nyambung dan sikap Fero yang menyenangkan sejak pertama kenal, membuat Kamal sedikit lepas kendali. Perlahan ia mulai merasa nyaman menyimak curhatan Fero, serta menceritakan banyak hal kepadanya. Dan itu diketahui oleh Vania. Menjadi salah satu penyebab Vania mengamuk setiap harinya.
Setiap kali keluar rumah, Vania selalu curiga, bahwa Kamal akan melakukan pertemuan dengan Fero. Apalagi, Vania juga pernah melihat rekam digital, Kamal mentransfer sejumlah uang untuk merayakan ulang tahun putranya Fero. Membuat Vania semakin yakin akan tuduhannya bahwa Kamal telah berselingkuh dengan janda anak satu tersebut.
“Kok dibaca doank? Gimana Mas? Mau ikut gak? Aku siap nemenin kalo ikut.”
Kamal tertegun. Sudah berapa lama ia tidak menghadiri acara seperti itu? Dua tahun? Tiga tahun? Vania selalu benci jika ia pergi.
“Nanti aku di rumah sendirian,” rengeknya ketika itu. “Pasti di sana banyak perempuan genit, kan?”
Berkat Vania, perlahan tapi pasti, dunia Kamal menyempit, hanya sebatas rumah dan kantor.
“Biar kamu ada kegiatan lain. Biar gak di rumah terus. Apalagi dah gak ada istri. Hahahaha.” Fero mengirim pesan susulan.
Kamal tersenyum, senyum tulus pertama setelah sekian lama.
“Ide bagus. Terima kasih sudah diberitau.” Akhirnya Kamal mengirim balasan.
“Jadi siap neh?”
“Insya Allah.”
“Alhamdulillah, jemput aku ya Mas. Kutunggu di rumah besok jam 7. Acara dimulai jam 8.”
Di tempatnya berkirim pesan, Fero tersenyum tipis. Ia kenal Vania. Dulunya, mereka adalah teman satu kantor. Hanya beda divisi, sehingga tidak kenal dekat.
“Tidak masalah bukan jika aku menggantikan posisinya?” batin Fero.
🔹
Seminar itu seperti menghirup udara segar setelah terlalu lama terkurung. Bertemu kolega lama, membahas tren pasar, bertukar ide. Kamal merasa hidup kembali.
Saat rehat kopi, seorang wanita berwajah ramah duduk di depannya.
“Jadi apa rencana Mas Kamal selanjutnya?” tanya Fero. Ia menatap lurus wajah Kamal yang meskipun sudah empat puluh lima tahun, ketampanannya masih sempurna.
Kamal tersenyum. Fero adalah seorang janda yang cerdas dan selalu punya ide-ide cemerlang. Dia juga sudah sering memberi signal, siap menjadi istri kedua, saat Kamal masih berstatus suami untuk Vania.
Saat itu, Kamal memiliki dorongan yang kuat untuk menyambut signal cinta dari Fero, karena wanita itu bisa diajak mengurus perusahaan. Tidak seperti Vania yang hanya tahu cara menghabiskan uang.
Tetapi selain ingin menjaga hati Vania, Kamal juga tidak siap pada amukan istrinya itu.
Kini keduanya sudah sama-sama tak punya pasangan. Seharusnya lebih mudah bagi mereka untuk menghalalkan hubungan. Sayangnya entah mengapa, hati Kamal justru gamang. Keinginan yang dulu sempat menguat di hatinya, kini seperti menguap begitu saja.
“Apakah ketika itu adalah godaan setan agar aku mengkhianati Vania?” batin Kamal. Pria itu menghela napas berat.
“Sudah lama sekali Mas Kamal gak kelihatan di acara-acara begini,” kata Fero dengan nada lembut.
Perempuan itu memang selalu sopan kalau berbicara.
“Iya, Fer, kemarin-kemarin ada banyak urusan,” jawab Kamal sekenanya.
“Bagaimana kabar Meira?” tanya Fero lagi penuh perhatian.
Kamal terdiam sesaat, secangkir kopi di tangannya tiba-tiba terasa berat. “Kami, belum ketemu lagi sejak berpisah.”
Raut wajah Fero seketika berubah prihatin.
“Ah Maaf ya Mas. Aku turut prihatin.” ucapnya lirih.
“Tak apa,” kata Kamal, mencoba tersenyum. “mungkin ini yang terbaik.”
Keduanya terus mengobrol. Setiap tema selalu nyambung. Salah satu hal yang membuat Kamal merasa nyaman meskipun berlama-lama dengan Fero.
“Cepat nikah lagi aja, Mas. Kelamaan menduda takutnya malah banyak godaan. Kayak aku ini, banyak sekali godaannya. Kadang capek pengen udahin aja kesendirian ini.” ucap Fero penuh arti.
Kamal tersenyum. Fero cantik dan cerdas. Meskipun pernah melahirkan, tubuhnya masih kencang dan terawat.
“Entahlah, Fer. Masih belum yakin. Anak-anak juga kayaknya masih trauma.” balas Kamal apa adanya.
“Jangan begitu. Gak semua ibu tiri itu jahat kok. Mas Kamal ini masih muda dan tampan. Tidak akan ada yang bakal nolak diajak nikah sama Mas.”
Kamal mend**gak untuk menatap Fero. Janda muda itu tersenyum dikulum. Manis dan energik.
Kamal mengerjap. Apakah itu tadi tawaran dan ajakan untuk menikah?
Di banding Vania, Fero jelas jauh lebih unggul. Dia supel dan cerdas, juga pandai berbisnis. Wanita seperti Fero tidak akan melulu mengandalkan transferan dari suami, karena dia sendiri jago menghasilkan uang.
Tetapi…, apakah ini tidak terlalu cepat?
*
Judul: TA LAK SATU, KITA MASIH BISA KEMBALI
Penulis: Ida Raihan
Pf: KBM A p p
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Address
East Jakarta