Syamsul Rijal Nursiddiq
Halaman ini adalah halaman untuk berdakwah
DZIKIR YANG RINGAN DI LISAN, NAMUN BERAT DI TIMBANGAN
Ringan di Lisan, Berat di Timbangan
Sebuah dzikir yang mudah dirutinkan setiap saat, namun berat di timbangan amalan. Dzikir tersebut adalah bacaan “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim”.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat ditimbangan, dan disukai Ar Rahman yaitu “Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari no. 6682 dan Muslim no. 2694)
Dalam Muqoddimah Al Fath (Fathul Bari), Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan keutamaan hadits tersebut sebagai berikut:
Maksud “dua kalimat” adalah untuk memotivasi berdzikir dengan kalimat yang ringan.
Maksud “dua kalimat yang dicintai” adalah untuk mendorong orang berdzikir karena kedua kalimat tersebut dicintai oleh Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih).
Maksud “dua kalimat ringan” adalah untuk memotivasi untuk beramal (karena dua kalimat ini ringan dan mudah sekali diamalkan).
Maksud “dua kalimat yang berat di timbangan” adalah menunjukkan besarnya pahala.
Alur pembicaraan dalam hadits di atas sangat bagus sekali. Hadits tersebut menunjukkan bahwa cinta Rabb mendahului hal itu, kemudian diikuti dengan dzikir dan ringannya dzikir pada lisan hamba. Setelah itu diikuti dengan balasan dua kalimat tadi pada hari kiamat. Makna dzikir tersebut disebutkan dalam akhir do’a penduduk surga yang disebutkan dalam firman Allah,
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Do’a mereka di dalamnya adalah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka adalah: “Salam”. Dan penutup doa mereka adalah: “Alhamdulilaahi Rabbil ‘aalamin”.”
23/04/2022
Mugi berkah manfaat ilmu dunya akhirat aamiin sareng di hasilkeun sagala maksud.
PENYAKIT WAHAM/DELUSI
Berkata Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-hikam:
ما قادك شيء مثل الوهم
Artinya, “Tiada satupun energi yang bisa mendiktemu sekuat waham (delusi).”
WAHAM/DELUSI
adalah suatu keyakinan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan, yang tetap dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain.
Dalam buku ajar psikiatri Kaplan dan Sadock, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat memiliki waham(delusi) tertentu. Setidaknya ada 8 situasi yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu:
1. Peningkatan harapan, yaitu ketika seseorang memiliki harapan yang terlalu tinggi, namun mengalami hambatan atau kegagalan dalam mewujudkannya.
2. Mendapat terapi sadistik misalnya kekerasan dalam rumah tangga yang berlangsung lama, atau praktik penyiksaan lainnya.
3. Situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan.
4. Isolasi sosial misalnya fenomena pasung.
5. Situasi yang meningkatkan kecemburuan.
6. Situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga diri rendah).
7. Situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain, misalnya merasa kurang cantik, kurang tinggi, kurang kurus.
8. Situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi terhadap sesuatu misalnya obsesi pada agama, obsesi pada ritual budaya, dan sebagainya.
KEINGINAN MAKHLUK ADALAH DELUSI
KEINGINAN ALLAH ADALAH KENYATAANNYA
MAKA, JIKA SESEORANG TAK MENERIMA KENYATAAN HIDUPNYA, DIA SAKIT JIWA.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Cisurupan Garut
Garut