Dj selly

Dj selly

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Dj selly, Digital creator, Jakarta.

14/09/2025

**Adegan 6: Jalan Tanpa Tujuan**

Kirana mengendarai mobilnya tanpa arah, menembus jalanan kota yang masih lengang. Matahari pagi yang seharusnya membawa keceriaan, kini terasa seperti sorotan yang menelanjangi semua rasa sakitnya. Setiap belokan, setiap persimpangan, terasa seperti keputusan berat yang harus ia ambil, seperti metafora dari hidupnya yang kini berada di ambang kehancuran. Pikirannya kosong, namun hatinya berteriak histeris, sebuah simfoni kesakitan dan kebingungan.

Tetesan air mata yang mengering di p**inya terasa perih, mengingatkannya pada malam yang panjang dan menyakitkan. Ia tidak tahu harus ke mana. Pulang ke rumah orang tuanya? Terlalu memalukan. Menghubungi Dewi? Ia tidak ingin membebani sahabatnya lagi. Ia hanya ingin sendiri, menghilang, sejenak dari semua kekacauan ini.

Ia akhirnya menghentikan mobilnya di sebuah taman kota yang besar. Taman itu masih sepi, hanya ada beberapa orang tua yang berjalan santai. Kirana keluar dari mobil, membiarkan udara pagi yang sejuk menerpa wajahnya. Ia berjalan menuju sebuah bangku kosong di bawah pohon rindang, duduk di sana, dan membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

Isakan yang selama ini ia tahan, akhirnya pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, melepaskan semua rasa sakit, semua kekecewaan, dan semua amarah yang telah ia pendam. Bahunya bergetar hebat, suara tangisnya teredam oleh kesunyian taman. Ia tidak peduli jika ada orang yang melihatnya. Ia hanya ingin semua beban ini hilang.

Setelah beberapa saat, tangisnya mereda. Ia mengangkat wajahnya, menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya, membuka galeri foto, dan menatap foto-foto anak-anaknya. Senyum mereka, tawa mereka, mata mereka yang polos, semuanya membuat hati Kirana kembali sakit. Ia bukan hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Ia harus kuat demi anak-anaknya. Mereka adalah alasan ia harus bertahan, alasan ia tidak boleh menyerah.

Tiba-tiba, ia melihat notifikasi pesan masuk dari Ardi. Ia tidak membukanya. Lalu ada notifikasi telepon. Ardi menelepon. Ia membiarkannya berdering sampai berhenti. Kemudian Ardi menelepon lagi. Kirana mematikan ponselnya. Ia tidak ingin mendengar suaranya, tidak ingin mendengar kebohongan lain, tidak ingin lagi dijanji-janjikan dengan harapan palsu.

Ia duduk di sana, membiarkan waktu berlalu. Ia memikirkan kembali semua yang terjadi. Ia tahu, ia harus mengambil keputusan. Tapi keputusan apa? Apakah ia akan memaafkan Ardi? Atau apakah ia akan mengakhiri pernikahan ini? Kedua pilihan itu terasa sama-sama menyakitkan. Mempertahankan pernikahan yang sudah hancur akan membuat hatinya terus terluka. Mengakhirinya akan menghancurkan keluarga yang selama ini ia impikan.

"Mungkin ini yang terbaik," bisiknya pada dirinya sendiri. "Mungkin ini adalah jalan yang harus aku ambil." Jalan tanpa Ardi, jalan untuk menemukan kembali dirinya yang telah hilang. Sebuah jalan yang panjang, yang penuh dengan ketidakpastian, namun setidaknya, jalan itu adalah miliknya sendiri.

Ia bangkit dari bangku, berjalan kembali ke mobilnya. Kali ini, ia tahu harus ke mana. Bukan kembali ke rumah yang penuh dengan kenangan pahit, melainkan ke tempat yang memberinya kekuatan: ke rumah orang tuanya. Ia tahu, di sana, ia akan menemukan cinta tanpa syarat, pelukan hangat, dan dukungan yang ia butuhkan untuk menghadapi badai yang menantinya di depan. Ia menyalakan mesin mobilnya, dan melaju, kali ini dengan tujuan yang jelas: untuk memulai kembali, walau harus dari puing-puing yang tersisa.

08/09/2025

Adegan 5: Matahari Terbit, Harapan yang Mati**

Fajar mulai menyingsing, memecah kegelapan malam dengan semburat jingga di ufuk timur. Namun, di mata Kirana, pagi itu terasa lebih gelap dari malam-malam sebelumnya. Ia masih duduk di bangku taman, tubuhnya kaku dan dingin, seolah membeku bersama embun pagi. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah langit, tidak lagi mencari keindahan, melainkan hanya ingin mengakhiri malam yang terasa abadi. Di dalam rumah, segalanya terasa asing. Di luar, di antara dedaunan yang basah, ia menemukan sedikit kedamaian.

Ia mendengar suara dari dalam rumah, suara panci dan piring beradu. Ardi sedang menyiapkan sarapan. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seolah-olah malam tadi hanyalah mimpi buruk. Kirana menelan ludah, rasa mual tiba-tiba membanjiri perutnya. Bagaimana mungkin Ardi bisa bersikap seolah normal? Bagaimana mungkin ia bisa melanjutkan rutinitas seperti biasa setelah apa yang ia lakukan?

Kirana akhirnya bangkit, langkahnya berat menuju pintu belakang. Ia melihat Ardi di dapur, punggungnya menghadap ke arahnya. Ardi sedang menuang kopi ke dalam cangkir. Gerakannya lambat, seperti robot yang kehilangan baterai. Ia tidak berani menoleh ke belakang, tidak berani menghadapi kenyataan bahwa Kirana ada di sana, menyaksikan semua kepalsuan ini.

"Mau sarapan, Kirana?" tanya Ardi, suaranya pelan dan bergetar. Ia mencoba memecah keheningan yang menyesakkan, namun suaranya hanya menambah dinginnya suasana.

Kirana tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke arah meja makan dan duduk di kursinya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menatap ke arah Ardi. Ardi akhirnya membalikkan badan, membawa dua cangkir kopi. Matanya bertemu dengan mata Kirana. Dalam tatapan itu, Ardi melihat cerminan dari kehancuran yang telah ia ciptakan. Ia melihat kekecewaan, rasa sakit, dan kebencian yang mendalam. Tidak ada lagi cinta yang dulu ia lihat di mata itu.

Ardi meletakkan cangkir kopi di depan Kirana. "Kirana, aku... aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku sangat menyesal."

"Menyesal?" Kirana akhirnya bersuara, suaranya rendah dan penuh sarkasme. "Kamu menyesal karena ketahuan, kan, Ardi?"

Ardi terdiam, tidak mampu menyangkal. Ia menunduk, menatap cangkir kopi di tangannya. "Aku tidak bisa jelaskan. Aku tahu ini sulit untukmu. Tapi tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

"Memperbaiki?" Kirana tertawa sinis, tawa yang tidak sampai ke hatinya. "Apa yang mau kamu perbaiki, Ardi? Kepercayaan yang sudah kamu hancurkan? Hati yang sudah kamu patahkan? Hubungan yang sudah kamu kotori?" Ia berdiri, tangannya mengepal erat. "Sejak kapan, Ardi? Sejak kapan kamu memulai semua ini?"

Ardi mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi air mata. "Aku... aku tidak tahu. Ini hanya... ini tidak sengaja. Dia hanya rekan kerja. Kami hanya..."

"Berhenti berbohong!" Kirana memotongnya, suaranya kembali meninggi. "Bau parfumnya masih menempel di bajumu, Ardi! Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku tidak tahu apa-apa?"

Air mata Ardi akhirnya tumpah. "Aku minta maaf, Kirana. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku... aku hanya merasa kesepian. Kamu selalu sibuk dengan anak-anak, dengan rumah. Kita tidak pernah punya waktu untuk kita berdua."

"Kesepian?" Kirana tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Dan kamu pikir selingkuh adalah solusinya? Kamu pikir menghancurkan hidupku, hidup anak-anak, dan semua yang sudah kita bangun adalah solusinya? Kamu yang menciptakan kesepian itu, Ardi! Kamu yang menjauh!"

Ardi mencoba meraih tangan Kirana lagi, namun Kirana menjauhkan dirinya. Ia tidak ingin lagi disentuh oleh Ardi. "Aku tahu aku salah. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi, Kirana. Aku akan mengakhirinya. Aku janji. Demi kita, demi anak-anak."

"Demi kita? Demi anak-anak?" Kirana tertawa lagi, tawa yang kini terasa getir. "Ini sudah bukan 'kita' lagi, Ardi. Kamu sudah mengakhirinya sendiri. Tadi malam, di restoran itu, dengan wanita itu, kamu sudah mengakhirinya."

Kirana berbalik, mengambil kunci mobil di meja. Ardi panik. "Kamu mau ke mana, Kirana?"

"Aku butuh waktu," jawab Kirana, suaranya dingin. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku butuh waktu untuk bernapas." Ia menatap Ardi, matanya kini dipenuhi dengan tekad yang kuat. "Jangan cari aku. Aku akan kembali saat aku siap."

Ardi mencoba mengejarnya, namun Kirana sudah membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Ardi seorang diri di dapur yang sepi, di tengah-tengah sarapan yang tidak tersentuh. Ia melaju pergi, meninggalkan rumah yang kini terasa seperti penjara, meninggalkan pria yang selama ini ia cintai, meninggalkan puing-puing dari sebuah pernikahan yang telah mati. Matahari terbit, namun bagi Kirana, harapan untuk pernikahannya telah mati. Ia kini harus menghadapi kenyataan pahit, bahwa ia harus memulai kembali hidupnya dari nol, tanpa seorang pun di sisinya.

08/09/2025

Adegan 4: Malam yang Terpecah dan Hati yang Membeku**

Setelah ledakan emosi Kirana, ruangan itu kembali hening, namun keheningan kali ini terasa lebih menusuk dari sebelumnya. Tidak ada lagi gema kata-kata, tidak ada lagi isakan tangis, hanya ada dua orang yang berdiri terpisah, terhalang oleh jurang pengkhianatan yang baru saja terkuak. Ardi masih terpaku di tempatnya, matanya menunduk, tidak sanggup menatap wajah Kirana yang basah oleh air mata. Rasa bersalah yang ia rasakan kini bercampur dengan rasa malu yang teramat sangat. Ia tidak menyangka akan tertangkap basah seperti ini. Ia tidak pernah berpikir bahwa rahasia yang ia simpan dengan rapi akan terungkap begitu cepat.

Kirana, dengan tangan masih terangkat, seolah-olah menciptakan batas tak terlihat di antara mereka. Ia menatap Ardi, bukan dengan amarah yang membara, melainkan dengan pandangan kosong yang dipenuhi oleh kekecewaan yang dalam. Ia merasa seperti sedang melihat seorang asing. Pria di hadapannya bukanlah Ardi yang ia kenal. Bukan Ardi yang pernah ia cintai sepenuh hati. Pria ini adalah seseorang yang telah mengkhianati janji-janji sucinya, yang telah menghancurkan kepercayaannya tanpa sedikitpun ragu.

"Aku... aku akan mandi," Ardi berucap pelan, suaranya terdengar pecah. Ia berusaha mencari jalan keluar dari situasi yang mencekik ini.

Kirana tidak bergeming. Ia hanya menatap Ardi dengan tatapan dingin, membuat Ardi merasa seperti sedang diperiksa di depan pengadilan. Tanpa menunggu jawaban, Ardi berbalik, langkahnya terasa berat, menyeret dirinya menuju kamar tidur utama. Setiap langkahnya terasa seperti pengakuan bisu atas semua tuduhan Kirana.

Kirana tetap berdiri di sana, di tengah-tengah ruang tamu yang kini terasa seperti medan pertempuran yang porak-poranda. Ia merasa kakinya mati rasa, tubuhnya lemas. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya dipenuhi oleh semua kenangan indah bersama Ardi yang kini terasa seperti kebohongan besar. Ciuman pertama, janji pernikahan, kelahiran anak-anak mereka, semua terasa hampa.

Ia perlahan berjalan ke sofa, namun tidak duduk. Ia hanya menyentuh permukaan sofa yang dingin, merasakan dingin yang sama seperti di dalam hatinya. Ia membayangkan Ardi, di kamar mandi, mencuci bersih dirinya dari bau parfum wanita lain. Apakah ia mencuci bersih juga rasa bersalahnya? Apakah ia akan tidur nyenyak malam ini, seolah-olah tidak terjadi apa-apa?

Kirana menelan ludah, air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak perih di p**inya. Ia merasa muak. Muak dengan dirinya sendiri yang begitu naif, muak dengan Ardi yang begitu egois, dan muak dengan pernikahan yang selama ini ia kira adalah dongeng.

Ia mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Ardi sudah di dalam. Kirana merasa tidak ingin berada di satu atap dengannya. Ia ingin lari, bersembunyi di suatu tempat di mana tidak ada kenangan, tidak ada kebohongan, tidak ada Ardi.

Ia melangkah ke dapur, mengambil segelas air dingin dan meminumnya dengan cepat. Air dingin itu terasa membakar tenggorokannya, namun tidak bisa memadamkan api yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia melihat pantulannya di jendela, seorang wanita dengan mata sembab, wajah pucat, dan hati yang hancur. Ia tidak mengenali dirinya sendiri. Siapa wanita ini? Di mana Kirana yang dulu ceria dan penuh cinta?

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja. Pesan dari Ardi. Kirana ragu-ragu, namun akhirnya membukanya.

"Kirana, aku tahu kamu marah. Aku minta maaf. Aku tidak tahu harus bilang apa. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita akan bicara besok pagi. Tolong, jangan buat ini semakin rumit."

Kirana tertawa sinis. "Jangan berpikir yang tidak-tidak?" katanya pada dirinya sendiri. "Apa lagi yang bisa kupikirkan? Apa lagi yang bisa lebih rumit dari ini?" Ia tidak membalas pesan itu. Ia tidak ingin lagi terlibat dalam permainan kata-kata Ardi yang penuh kebohongan.

Ia melangkah ke luar, ke taman belakang. Udara malam yang dingin menyambutnya. Bintang-bintang di langit terlihat begitu jauh, seolah tidak peduli dengan kehancuran yang terjadi di bawahnya. Kirana duduk di bangku taman, memeluk dirinya sendiri. Ia membiarkan angin malam menerpa wajahnya, membiarkan dinginnya malam menusuk kulitnya. Mungkin dengan begitu, ia bisa merasakan sesuatu selain rasa sakit dan kekecewaan.

Ia memejamkan mata, berusaha keras mengendalikan napasnya yang tidak teratur. Ia harus kuat. Ia harus memikirkan langkah selanjutnya. Apa yang harus ia lakukan? Meninggalkan Ardi? Berpura-pura tidak terjadi apa-apa? Atau menuntut penjelasan yang jujur dan mencoba memperbaiki puing-puing pernikahan mereka?

Semua opsi terasa mustahil. Ia terlalu lelah untuk bertengkar, terlalu sakit untuk memaafkan. Ia hanya ingin semuanya kembali seperti semula, kembali ke masa di mana ia dan Ardi adalah satu tim, satu jiwa, satu hati. Namun ia tahu, hal itu tidak mungkin. Kepercayaan yang telah pecah tidak bisa lagi disatukan. Malam itu, di bawah taburan bintang yang tak peduli, Kirana duduk sendirian, membiarkan hatinya membeku, siap menghadapi kenyataan pahit yang menantinya di pagi hari.

Want your establishment to be the top-listed Arts & Entertainment in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Jakarta