Modare Magazine

Modare Magazine

Share

🫰 Modare lahir dari kebisingan dan keringat skena bawah tanah.

26/05/2026

Dua dekade adalah waktu yang lama untuk tertidur, namun bagi eks veteran grindcore 90-an (Ta’zia), mati suri justru menjadi proses pembusukan ideologi yang sempurna. Terlahir kembali sebagai .grind , kuintet asal Palembang ini melepaskan agresi murni yang menolak tunduk pada klise skena metal lokal yang hari ini terlalu sibuk bersolek rapi di permukaan. Melalui single teranyar bertajuk Digital Overkill, mereka tidak sedang menyajikan hiburan moshpit yang ramah, melainkan serangan sonik kalkulatif yang dingin dan represif.
Riff deathgrind masif yang beradu dengan ledakan blast beat tanpa henti sengaja dirancang untuk membangun atmosfer distopia, sebuah wilayah tempat manusia secara sukarela menyerahkan otonomi mereka pada algoritma. Daya tarik radikal dari opus ini terletak pada karakter vokal growl yang abrasif dan mentah, melesat layaknya transmisi langsung dari kegagalan sistem. HUMERROR memutarbalikkan kenyamanan era digital menjadi teror psikologis nyata, mengeksekusi lirik sinis tentang manusia modern yang lumpuh akibat paparan layar dan overstimulasi.
Secara visual, artwork monokromatik sosok manusia tersalib kabel di atas mesin mempertegas posisi mereka sebagai anomali yang berbahaya di skena musik keras. Ketika gerombolan band lain masih marah pada politik konvensional, HUMERROR melangkah jauh ke depan untuk mengadili tuhan-tuhan sintetis yang kita sembah setiap hari di dalam saku celana.
Sumber
Video : youtube.com/
Musik : Humerror - Digital Overkill

25/05/2026

Lahir dari sudut senyap Salatiga pada pengujung 2023, menolak tunduk pada pakem klise hardcore domestik yang seragam. Di saat unit seangkatan sibuk mengobral kemarahan politik generik, kuintet ini justru memuntahkan amarah mereka ke dalam, membedah kerapuhan eksistensial dan distorsi spiritual yang berdarah-darah. Karakter vokal Jeje yang terdengar seperti rintihan frustrasi dari balik jeruji, berpadu liar dengan arsitektur riff gitar Vito dan Niko yang dingin sekaligus menghantam.
Mereka adalah kontradiksi yang distingtif dalam ekosistem musik ekstrem hari ini. Melabeli diri dengan selera humor ganjil sebagai "Pesulap New Born Baby" di ranah digital, Buas Downtown justru membalikkan ekspektasi secara brutal lewat wilayah estetika audio visual mereka. Di atas panggung dan rekaman, aura yang dipancarkan sepenuhnya pekat, sinis, dan tak menyisakan ruang untuk berkompromi, menciptakan lanskap teatrikal yang kelam tanpa harus terjebak pada gimik gotik yang murahan.
Melalui single terbaru Relationsheep, band yang dikawal oleh .records ini berhasil menangkap atmosfer keterasingan yang mencekam lewat metafora "kain usang", potret dingin tentang hilangnya pegangan iman. Ketukan drum Bagavan yang tribalistik dan cabikan bass Samuel yang tebal sengaja menyeret pendengar untuk tersesat di area abu-abu moralitas mereka sendiri. Ini adalah cetak biru musik ekstrem yang dewasa: sebuah teror sonik yang membuktikan bahwa mengekspos kelemahan terjujur manusia adalah bentuk anarki yang paling murni.
Sumber
Video : youtube.com/
Musik : Buas Downtown - Relationsheep

Want your business to be the top-listed Media Company in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address


Jakarta