Muhammadiyah
Menuju Masyarakat Utama yang di Ridhoi Allah Swt. Fanpage ini bukan perwakilan resmi PP Muhammadiyah.
02/12/2019
Kokam ikut Merawat Ukhuwah Islamiyah
Reuni 212, 2019
27/11/2019
KISAH TELADAN KH HASYIM 'ASY'ARI TENTANG MUHAMMADIYAH
Pada suatu hari di awal abad ke-20, salah seorang santri datang ke Tebuireng untuk mengadu. Santri itu Basyir namanya, berasal dari kampung Kauman, Yogyakarta. Kepada kyai panutan mutlaknya itu, santri Basyir mengadu tentang seorang tetangganya yang baru p**ang dari mukim di Makkah, yang kemudian membuat 'odo-odo' “aneh” sehingga memancing kontroversi di antara masyarakat kampungnya.
“Siapa namanya?” tanya Hadhratus Syaikh.
“Ahmad Dahlan“
"Bagaimana ciri-cirinya?”
Santri Basyir menggambarkannya.
“Oh! Itu Kang Dahlan!” Hadhratus Syaikh berseru gembira.
Orang itu -- beliau sudah mengenalnya -- teman semajlis dalam pengajian-pengajian Syaikh Khatib al-Minangkabawi di Makkah sana.
“Tidak apa-apa”, kata Hadhratus Syaikh, “yang dia lakukan itu 'ndalan' (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia”.
Santri Basyir pun patuh.
Maka ketika kemudian Kyai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, Dialah 'salah seorang' yang menjadi pengikut setianya. Dialah orang yang kemudian dikenal dengan sebutan Kyai Basyir Mahfuzh -- Kakek Saya yang telah mendidik saya sejak kecil, hingga saya mengenal 'apa' yang disebut sebagai artipenting pendidikan akhlaq, Ayah dari Ibu saya [Siti Sa'adah] -- adalah salah seorang tangan kanan utamanya dalam melanjutkan estafeta dakwah KHA Dahlan. Beliau tidak senang dengan publisitas. Dan beliau hingga akhir hayatnya (tahun 1978) menjadi Imam Tetap Masjid Besar Kauman Yogyakarta serta 'Anggota Majelis Tarjiih PP Muhammadiyah.
Inilah sepenggal cerita -- yang juga -- pernah diceritakan oleh Ibu saya, Siti Sa'adah binti Basyir Mahfuzh.
(Ustadz Muhsin Hariyanto).
12 Fakultas Kedokteran Muhammadiyah
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Jalan Panjang Cipulir Kebayoran Lama, Jakarta Sela
Jakarta
13220