Rocketeers - onevision

Rocketeers - onevision

Share

Grow and Multiply Now

04/10/2020

TAK BISA TERLIHAT TETAPI TAK BISA DIREMEHKAN

Udara pagi masih dingin waktu itu, maklumlah kami sedang berada di kawasan yang terbilang sejuk. Ibu mertua saya tiba-tiba minta bantuan untuk mencabut sebatang pohon singkong sampai ke akar-akarnya.

Sepintas saya lihat pohon yang tumbuh di depan rumah villa itu tidak begitu tinggi. Pasti bukan hal yang sulit untuk menariknya.

Tetapi begitu saya eksekusi, rupanya benar-benar kuat pohon itu. Seluruh tenaga saya kerahkan, masih belum tercerabut juga. Luar biasa, akar pohon tersebut seperti mencengkeram bumi hingga bagian terdalam. Saya kelelahan dan menyerah!

Baru saya sadari fungsi akar pada sebuah tanaman rupanya tidak sembarangan. Serabut-serabut akar memang terlihat lemah jika hanya satu cabang, tapi saat kumpul bersama-sama, maka kekuatan mereka sanggup menopang pohon dengan kokoh di atasnya.

Mungkin perlu dibuat satu peribahasa baru lagi, "Di balik sebatang pohon yang hebat, ada akar-akar tak terlihat yang selalu menopangnya."

Selama ini kita jarang tahu hal tersebut, karena akar letaknya tersembunyi. Seandainya akar terlihat, maka akan percayalah kita bahwa akar memang memiliki peranan yang esensial.

Lihatlah foto ketika separuh tanah yang dipijak oleh sebuah pohon besar mengalami longsor. Tampak benar ternyata akar-akar di dalam tanah sana saling bersinergi menyebar dan memanjang demi menyokong agar sang pohon tetap berdiri tegar.

Jika manusia adalah sebatang pohon, maka yang menjadi akar-akarnya adalah doa orang-orang yang terkadang kita abaikan keberadaannya. Padahal sejatinya dengan sebab merekalah Allah mengangkat kita.

Semoga menjadi muhasabah bagi kita semua, jika saat ini rezeki kita belum dapat berpijak dengan kokoh, mungkin karena belum banyak akar-akar kecil yang membantunya. Maka mulailah untuk mencintai sedekah dan berkasih sayang kepada sesama.

Seperti kata peribahasa, "Di balik keberhasilan seseorang yang hebat, ada doa-doa tak terlihat yang selalu menopangnya."

14/05/2020

AT-TA’MIN - AT-TA’AWUNI

Dahulu kala disaat perdagangan antar negara banyak dilakukan melalui jalan laut, banyak musibah terjadi selama di perjalanan. Tidak hanya karena faktor alam, juga banyaknya perompak (bajak laut) yang kerap merugikan harta benda bahkan nyawa para awak.

Menyadari adanya peluang bisnis terhadap situasi ini, ada seorang kaya yang tidak ikut melaut (berdagang) menawarkan diri untuk menjadi “bandar” dan menanggung semua kerugian bilamana terjadi musibah kapal, barang dan awak tertimpa kecelakaan atau dibajak. Untuk ini para pedagang yang ingin dilindungi diwajibkan membayar iuran yang diukur dari ukuran kapal, barang dagangan dan para awak. Si Bandar yang menetapkan besaran uang pertanggungan, berdasarkan ukuran kapal, muatan barang dagangan dan jumlah awak kapal. Mulai disetujuinya kontrak jual-beli ini, maka para pedagang diharapkan bisa tenang karena resiko sudah “dipindah” (risk transfer) ke si Penanggung.

Namun dengan berjalannya situasi, mulai muncul berbagai kejadian yang menyebabkan keluhan dari sebagian pedagang. Mereka merasa harus terus membayar iuran namun sejauh ini belum pernah terjadi musibah, sehingga mereka merasa rugi, dan merasa dengki kepada si Penanggung karena terus mendapatkan keuntungan. Hal ini ditanggapi si Penanggung dengan sinis, karena situasi akan berubah kalau iuran baru 1-2 kali saja dibayarkan, lalu kapal ditenggelamkan perompak, Penanggung harus mengganti kerugian ratusan kali lipat dari iuran yang telah disetorkan. Kontrak jual-beli antara Tertanggung dengan Penanggung ini kian terasa seperti melempar sebuah koin dan saling berharap sisi koin yang dipilih berada di sisi atas (maysir). Situasi ini juga memicu ketidakjelasan (gharar) pada setiap pengambilan keputusan pedagang, belum lagi seperti berharap dapat uang besar atas uang kecil (riba) atas suatu musibah, dengan probabilitas yang sangat sulit untuk diukur.

Suatu usulan diajukan oleh beberapa pedagang, agar bagaimana setiap pedagang yang melaut berniat saling tolong-menolong sekaligus berbagi resiko antar sesama (risk sharing) dengan jalan menyisihkan uang secara sukarela (tabarru’) untuk dikumpulkan dan dikelola oleh “wakil” sebagai Pengelola yang dipercaya agar saat salah satu pedagang (sebagai Peserta) ada yang tertimpa musibah dapat dibantu dengan dana tersebut. Tugas utama Pengelola sebagai pihak yang paling bisa dipercaya dan amanah dalam menjalankan tugasnya agar para Peserta bisa fokus kepada pekerjaan mereka dalam berniaga. Pengelola akan diberikan sekian persen dari dana ini sebagai imbal jasa profesional (ujrah).

Kontrak kerjasama dirubah dari kontrak komersial (jual-beli) menjadi kontrak sosial (hibah). Dengan ini, perasaan dirugikan atas musibah yang belum tentu kejadian dan (kalau kejadian) tidak bisa diprediksi kapan datangnya, berubah total menjadi misi mulia untuk membantu antar sesama yang sedang tertimpa musibah.

Takdir memang tidak bisa diubah, namun ikhtiar untuk selalu berbuat lebih baik dan terbaik akan selalu menjadi kewajiban setiap manusia yang berakal.

29/04/2020

HARAPAN

Penyebaran Covid-19 di Indonesia diprediksi masih berlangsung beberapa bulan kedepan. Hal ini tidak hanya membuat kecemasan karena takut terinfeksi, hingga sakit dan kehilangan nyawa. Namun ada dampak lain yang mulai terasa yakni terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat melemahnya perekonomian. Sampai saat ini sudah ada jutaan pekerja yang terkena PHK atau dirumahkan tanpa digaji.

Sejumlah industri yang terkena dampak terbesar antara lain manufaktur, pariwisata, dan ritel menghantam pertumbuhan ekonomi Indonesia, membawa pengaruhnya sampai pada lingkup terdekat...keuangan Keluarga. Kondisi ini semakin terasa berat dan berdampak psikologis - yang bila dibiarkan akan menimbulkan rasa putus asa sampai berujung depresi berat.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang yang sudah terkena PHK akan merasa kesulitan dalam mencari pekerjaan baru, karena banyak perusahaan saat ini justru sedang banyak melakukan perampingan karyawan. Kalaupun mencari peluang usaha kecil atau menengah, ketajaman rencana dan strategi serta ketersedian modal harus sangat jelas di awal.

Sebelum memilih yang mana akan dilakukan, yang pertama adalah berusaha untuk tidak terlalu lama terlarut dalam kekhawatiran dan kemarahan, karena perjalanan ke depan masih sangat panjang. Pikirkanlah keputusan secara bijak untuk saat ini dan ke depan. Jernihkan pikiran, berdamai dengan diri sendiri, serta buat strategi cepat keuangan keluarga dengan berusaha hidup lebih hemat. Apabila dana darurat tersedia untuk antisipasi biaya hidup 3-6 bulan ke depan, akan sangat banyak membantu fokus dan langkah selanjutnya.

Berikutnya, harus terus dicari kesempatan kerja atau peluang usaha untuk menggantikan pekerjaan yang hilang. Kesempatan kerja atau peluang usaha ini haruslah ditunjang dengan sistem dan produk yang bagus, platform digital sehingga fleksibel, efisien dan efektif untuk dilakukan dari mana saja dan kapan saja 24/7, dengan modal minimal serta adanya mentor yang berpengalaman.

Kesempatan kerja atau peluang usaha yang bila dilakukan dengan disiplin seorang karyawan, dibarengi pola pikir dan mentalitas seorang pengusaha, akan membawa dampak yang luar biasa, baik dari sisi keuntungan (profit) maupun dari sisi pertumbuhan (growth), juga yang tak kalah penting : membawa dampak bagi kehidupan orang banyak.

Terus berusaha dan berharap, sambil terus melihat dan mendengar tidak hanya dengan mata dan telinga, namun juga dengan hati. Ingatlah selalu: Badai Pasti akan Berlalu.

11/04/2020

PERANG MISTERIUS

Sejak akhir tahun lalu tiba-tiba dunia dihadapkan pada suatu perang yang 'sangat aneh'. Perang ini tidak memiliki komando militer untuk menyerang, tidak ada prajurit dan kendaraan perang yang diterjunkan di medan perang. Tidak ada peluru, misil atau senjata tercanggih yang diledakkan, sehingga tidak ada terjadi kebisingan di udara. Perang ini malah membuat udara kian bersih dari polusi dan langit berwarna biru.

Perang ini begitu misterius nya sampai radar tercanggih pun tidak bisa mendeteksi kapan musuh datang, seberapa banyak mereka, menyerang dimana, pakai senjata apa. Kita tidak tahu bom akan jatuh dimana, peluru nyasar kemana dan kena siapa. Layaknya seperti di film-film thriller atau horror, para korban yang kalah perang bukannya ditangkap dan ditawan, malah berpindah menjadi prajurit mereka dan menyerang kita, sehingga lawan saat ini makin bertambah jumlahnya di seluruh pelosok dunia. Ya, kita semua sedang berperang menghadapi musuh bersama, virus COVID-19 yang telah menelan puluhan ribu jiwa di seluruh dunia.

Seperti perang pada umumnya, efeknya sama bagi masyarakat sipil: ketakutan, kesakitan, dan kematian mendadak. Korban berjatuhan tidak pandang bulu, apapun profesinya, berapapun umurnya baik kaya maupun miskin. Tapi yang sering tidak disadari dan tidak kalah besar adalah efek finansial nya. Tidak sedikit anak-anak yang tiba-tiba kehilangan orang tuanya, baik sementara karena harus diisolasi maupun seterusnya karena harus berpulang. Bagaimana mereka melanjutkan hidupnya? Tidak sedikit orang yang terhenyak begitu menyadari bahwa keranjang keamanan keuangan mereka belum memadai.

Kabar baiknya, sekarang ada mekanisme Risk Sharing (berbagi resiko) dimana seluruh peserta yang terlibat dapat saling tolong-menolong antar sesama, sehingga manakala salah satu peserta tertimpa ujian sakit berat maupun kematian akibat COVID-19, ada dana bantuan yang akan diberikan kepada ybs atau keluarga mereka sehingga harapan dan kepastian untuk tetap dapat melanjutkan hidup dan menyongsong masa depan terus terjaga.

Perang ini masih berlangsung dan entah sampai kapan akan berakhir. Yok, mari saling menjaga, saling berbagi dan saling berkontribusi!

Share on WhatsApp 24/02/2020

APAKAH POLIS SUDAH SESUAI DENGAN KEBUTUHAN & UP TO DATE DENGAN PERKEMBANGAN?

Saat ini rata-rata setiap orang sudah memiliki minimal 1-2 polis asuransi. Setiap polis pertama yang diambil biasanya belum berdasarkan kemampuan optimal, karena masih mencoba berkenalan dengan produk, perusahaan, dan tentu agen/pihak yang melayani kita.

Sehingga dapat dipastikan, rata-rata polis pertama belum diambil berdasarkan profil resiko, kebutuhan uang pertanggungan berdasarkan jumlah anggota keluarga, proporsi income atau pengeluaran rutin dan berbagai aspek penting lainnya. Polis diambil dan dibiarkan berjalan tanpa berusaha untuk selalu up to date dengan perkembangan Sistem Proteksi Keuangan terkini.

Sayangnya banyak orang yang sungkan bahkan menolak untuk mereview polis mereka - khawatir bahwa mereka akan ditawarkan produk baru atau upgrade manfaat lama mereka. Padahal perkembangan produk dan solusi asuransi saat ini sedemikian pesatnya sehingga minimal setiap 1-2 tahun sekali portfolio proteksi kita dan keluarga perlu direview. Manfaat yang dulu bisa dicairkan dengan sejumlah syarat tertentu misalkan, saat ini bisa lebih ringan/mudah. Produk yang dulu terlihat mahal, saat ini bisa lebih efisien dan efektif dengan berbagai fleksibilitas dan kualitas pelayanan yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi.

Apapun jenis asuransi yang kita ambil, semua sasarannya adalah likuiditas finansial saat diperlukan, dimana semua instrumen keuangan yang biasa dan banyak kita punya sedang tidak bisa terbuka lebar, bahkan bisa dibekukan (bila pemilik akun meninggal atau berada dalam kondisi tidak cakap hukum). Dan bila saat itu terjadi, kita harus memastikan bahwa manfaat pertanggungan yang diberikan asuransi sesuai dengan yang kita butuhkan dan inginkan pada saat itu, bukan hanya pada saat ini. Harapan dengan realita seringkali berbeda jauh dikarenakan kurang terjadwalnya review atas polis-polis asuransi kita.

Cek cepat polis-polis Anda dengan 12 pertanyaan berikut :

1. Apa sasaran awal pembukaan polis (proteksi rawat inap & operasi, income & asset, bisnis & orang kunci, atau waris & wakaf)?

2. Apakah polis masih kurang atau lewat dari 2 tahun?

3. Siapa-siapa saja Pemegang Polis, Tertanggung, Penerima Manfaat dan Kontributor-nya?

4. Apa saja Area-area Resiko yang dicover/tidak (die too soon, sick too heavily, disabled, atau live too old)?

5. Berapa saja Uang Pertanggungannya (berapa kali dari Income atau Biaya Hidup tahunan Anda)?

6. Sampai kapan Masa Pertanggungannya (sd masa produktif atau purnabakti)?

7. Apa syarat-syarat pencairan Uang Pertanggungan (saat masuk RS, Sakit Kritis, Cacat atau Meninggal)?

8. Berapa lama Penyetoran premi/kontribusi nya (seumur hidup/semasa produktif)?

9. Apakah polis diambil via Agen (Agency) atau via Perbankan (Bancassurance)?

10. Apakah polis yang dimiliki merupakan Polis Individu atau Korporat (kumpulan)?

11. Apakah polis yang dimiliki merupakan Polis Tradisional atau Wholelife (Unit Link)?

12. Apakah Mekanisme/Akad polis adalah Risk Transfer atau Risk Sharing?

Jawaban atas semua pertanyaan di atas mungkin tidak seluruhnya Anda ingat atau kuasai. Untuk itu, diperlukan seseorang yang bisa mendampingi, mengedukasi dan meningkatkan literasi terhadap portfolio polis asuransi Anda. Keputusan hari ini mungkin akan menjadi bagian penting dalam perjalanan usaha kita mencapai optimalitas proteksi keuangan baik pribadi, keluarga maupun usaha.

Salam Literasi Proteksi Keuangan!

Kemal Arnaz
Agency Director
onevision - a Prudential Agency
onevision.id
prudential.co.id

Share on WhatsApp WhatsApp Messenger: More than 1 billion people in over 180 countries use WhatsApp to stay in touch with friends and family, anytime and anywhere. WhatsApp is free and offers simple, secure, reliable messaging and calling, available on phones all over the world.

Want your business to be the top-listed Finance Company in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Address


Tamara Center
Jakarta