AMT Syndicate

AMT Syndicate

Share

pekerja perenungan sosial politik

21/10/2025
26/03/2025

INNEKE DAN TAFSIR AL-MISBAH

armin mustamin toputiri

ERA 1980-an, saya masih nyantri di Pesantren Modern IMMIM. Sehabis liburan dalam kota, saat balik p**ang ke asrama di Tamalanrea berkendara mobil angkutan umum “pete-pete”, acapkali melintas di jalur searah ini. Kala itu bernama Jalan Gunung Bulusaraung, kini Jl Jenderal M Yusuf. Kota Makassar, pun juga masih dinamai Ujungpandang.

Sekira seratusan meter, sebelum melintas depan Masjid Raya Kota, lebih dulu melintasi dua bangunan bioskop yang berhadapan di dua sisi jalan. Bioskop Dewi dan bioskop Jaya. Rasa-rasanya, tak absah jika melintas di depan kedua bioskop itu, jika tak memalingkan muka ke arah antara dua bangunan bioskop itu. Mau tak mau, s**a tak s**a, tatapan mata akan tetap saja terjerat, tergoda melirik kain layar lebar yang menggantung di bagian depan kedua bioskop itu.

Kain layar lebar itu semacam iklan, spanduk promosi judul film sedang tayang. Buktinya, berisi gambar paraaktor dan aktris yang berperan dalam film itu. Gambar aktris, pakaiannya serba minim, memamer kemolekan lelukan tubuh mereka. Sexy, menggoda hasrat dan birahi. Di antara aktris yang masih saya ingat, Inneke Koesherawati, Zuzanna, Anna Tairas, Eva Arnas, Yurike, serta sekian aktris yang lainnya. Masa itu, mereka digelari “bom sex”. Populer sebai pemain film bermodalkan sensualitas diri belaka.

Saat saya ikut melintas depan kedua bioskop itu, sebagai anak pondok pesantren yang saban waktu di kurung dalam asrama dengan jejal ilmu agama, risih dan miris melihatnya. Tetapi ironisnya – Ya, harap maklum “santri juga manusia” -- sebelum mobil tumpangan pete-pete berlalu, cara sembunyi di balik jendela mobil, saya ikutan p**a mengintip gambar para artis seronok itu. Ehm, mumpung penumpang lain, kecuali sopir, punya titik pandangan searah. Sama-sama melototi kain layar di kedua bioskop itu.

Jika mobil tumpangan berlalu, penglihatan pada spanduk kain lebar itu, sendirinya juga berlalu. Lebih lagi, jika telah sampai di asrama, toh seluruh waktu dan fikiran kembali dijajal narasi-narasi keagamaan. Salah satu di antara ustadz, guru kelas favorit santri (siswa) kala itu, Quraish Shihab masih sesekali ikut mengajar di pondok. Kini satu di antara cendekiawan muslim terkemuka di negeri ini. Meski tidak rutin datang mengajar, tetapi ilmu tafsir diajarkan kuat melekat dalam benak para santri IMMIM hingga kini.

Ustadz Quraish, cara mengajarnya dengan bahasa sederhana, sebabnya mudah dicerna. Dia mengajari kami tafsir al-Qur’an, tak semata mendaras teks-teks, lebih jauh pada ko-teks, bahkan kontekstualnya. Selengkapnya untuk memahami bahasa Arab dalam bahasa al-Qur’an, Quraish Shihab mentarjih dalam kitab tafsir al-Misbah (15 volume). Selain bahasanya tak rumit, tafsirannya relevan sesuai kondisi sosial kontemporer, sehingga memudahkan masyarakat muslim, yang awam sekalipun mampu memahami.

Mau buktinya, sesekali simaklah ulasan Tafsir al-Misbah di layar tivi, rutin menjelang sahur Ramadhan. Saya rutin mengikuti. Namun, dinihari tadi, saat duduk manis depan tivi, menyimak maha guru Quraish Shihab mengulas Tafsir al-Misbah, alangkah takjubnya saya. Sosok yang memandu, tak lain artis yang dulu gambarnya depan bioskop, cara sembunyi ikut saya intip. Dia Inneke Koesherawati. Subahanallah!

Makassar, 10 Juli 2013

Want your establishment to be the top-listed Arts & Entertainment in Makassar?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address


Jalan RSI Faisal Makassar
Makassar
90221