Obelia Publisher
Penerbit dan Toko Buku Alternatif. Berdomisili di Kota Medan, Sumatera Utara. Berdiri sejak Agustus
25/05/2026
Teja Purnama dalam esainya Membaca Tisrah, memberikan pandangan yang tajam mengenai apa itu Tisrah dan bagaimana dunianya. Esai yang ditulisnya dalam rangka menjadi narasumber pada peluncuran dan diskusi buku Tisrah 16 Mei lalu mengemukakan bahwa:
Ketiga naskah ini menampilkan dua adegan yang simultan pada dua ruang terpisah di panggung. Di Elegi Selembar Dinding adegan simultan terjadi di warung Selamet dan kamar losmen, pada Orang-orang Bawah terjadi di titik lokasi pekerjaan di bawah tanah dan kantor di permukaan tanah, sedangkan di Tabu adegan simultan terjadi dengan di dua layer (lapisan), yakni masa kini yang berlangsung dan masa lalu. Bdj Siregar telah menyadari pentingnya pengamatan untuk memilah, memilih fakta-fakta, lalu menyingkap masalah sosial di kehidupan orang-orang biasa, kemudian menyusunnya menjadi drama realis.
Terakhir, saya tidak tahu berapa lama Bdj Siregar mendapatkan kata “Tisrah” untuk dijadikan judul buku drama ini. Saya cukup lama dibuat bingung arti kata itu. Awalnya saya pikir itu nama tokoh, rupanya tidak. Saya cari di KBBI, juga tidak ada. Saya tanya Google, “apa arti Tisrah?”, mesin itu malah menjawab, “Kata ‘Tisrah’ tidak ada dalam kamus bahasa Indonesia, Jawa, maupun Sunda. Besar kemungkin kata itu merupakan salah ketik (typo)...” Lalu dengan pengertiannya yang mekanik, mesin itu mengajukan beberapa kata yang menurutnya kemungkinan kata asli dari “Tisrah”, yakni titirah/tetirah, istirahat, tirah. Tidak ada yang sejalan dengan isi naskah. Dan entah kenapa saya teringat bahasa Sankserta. Saya menemukan “Tisrah” berarti tiga untuk gender feminim, “Trayah” untuk gender maskulin, “Trini” netral, dan “Tri” bentuk dasar. Saya geleng-geleng kepala.
Saya tidak mencari lagi. Saya tetapkan tafsir saya pada tiga perempuan. Ada Rani, Biyanka, dan Shasya dalam Elegi Selembar Dinding. Ada Nat, Perempuan Sepatu Kuning, dan Puput di Orang-orang Bawah. Ada Narti, Marni, dan Bude Samirem di Tabu. Ketiga perempuan di masing-masing naskah ini punya berperan dan punya pengaruh dalam melahirkan perlawanan kepada kuasa yang menekan dan menindas.
Atau jangan-jangan... Ah! Mungkin itu? Tapi,
24/04/2026
Yang jarang tersorot kamera: Bunda dan Drama.
Kita akan mencakapkan soal teks drama maupun pertunjukannya bersama sosok yang gelimang pengalaman. Bergelut sejak puluhan tahun silam. Bdj akan mengupas sedikit perjalanannya sejak mula hingga kini masih bertahan. Tentu saja dipandu oleh Ahmad Hakiki yang kelihaiannya mengorek informasi berbekal latar belakang jurnalistiknya yang apik.
Jadi, yang mau bergabung menyaksikan momen langka ini silakan mendaftar ke nomor tertera ya!
*) Cakap Asyik akan disiarkan langsung melalui instagram: obelia.publisher
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Jalan Amaliun, Kel. Kota Matsum II, Kec. Medan Area
Medan
20215