Rias Rise
Bagiku, menulis adalah sebuah katarsis (pelepasan emosi). Mengutarakan apa yang tidak dapat diutarakan dengan lisan.
24/03/2026
[Ramadan Ketiga Umar Belajar Berpuasa]
Ramadan kemarin adalah Ramadan ketiga Umar belajar berpuasa. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, alhamdulillah tahun ini Umar bisa puasa penuh 30 hari.
Sejujurnya, sejak awal kami tidak menargetkan Umar harus puasa full. Kami hanya mengajaknya berpuasa, membangunkannya setiap sahur, dan membiarkannya berproses. Bagi Umar yang terbiasa ngemil hampir setiap waktu, berpuasa tentu menjadi tantangan yang tidak ringan.
Namun ternyata, pelan-pelan ia mampu melewatinya. Dari satu hari, lalu sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, hingga akhirnya 30 hari penuh. Hanya tiga hari awal yang terasa berat karena masa penyesuaian. Selebihnya, kami tetap memantau, memastikan ia masih kuat dan nyaman menjalani puasanya.
Setiap waktu berbuka, selalu ada rasa haru yang tak bisa dijelaskan. Melihat Umar bertahan sampai akhir, bukan hanya tentang menunaikan salah satu rukun Islam, tapi juga tentang belajar sabar, menahan diri, dan mengenal batas dirinya.
Alhamdulillah, Ramadan kali ini bukan hanya tentang puasa yang utuh, tapi juga tentang proses yang tumbuh perlahan di dalam dirinya. Sebagai bentuk apresiasi, kami memberikan dua komik itu untuk Umar.
Setiap kali ada buku yang datang, pasti Umar tanya, "Bun, itu buku buat Umar bukan?" Sayangnya beberapa paket yang datang bulan ini bukanlah buku untuknya. Sampai akhirnya Kamis siang kemarin ada paket datang yang salah satu isinya adalah buku untuk Umar.
Ketika tahu itu, Umar begitu senang dan tidak sabar untuk membuka isi paketnya. Rasa senangnya semakin bertambah ketika tahu yang datang itu buku Mukjizat Para Nabi. Ternyata buku ini begitu tebal, 222 halaman. Namun, narasinya bagus dan ilustrasinya sangat memanjakan mata 😍
Setelah plastik kemasan bukunya terbuka, Umar pun bergegas membacanya. Dia begitu khusyuk membacanya dan malam harinya dia bilang kalau bukunya sudah dibaca semua 🫣
09/01/2026
[Lebih Bahagia Melihat Umar Bermain]
Pagi ini, perdana Umar kembali ke sekolah di semester ini. Seperti biasa, sebelum berangkat sekolah Umar main dulu di rumah. Dan kalau sudah begitu, tentu saja rumah jadi berantakan.
Namun, entah kenapa aku justru lebih bahagia melihat Umar mengeksplor mainan yang ia punya dibanding ketika ia berlama-lama duduk anteng di depan televisi atau gawai. Rumah memang tidak rapi, tapi aku bisa melihat bagaimana imajinasinya bekerja, bagaimana tangannya sibuk, dan bagaimana pikirannya aktif.
Selama liburan di rumah eyangnya kemarin, jadwal screentime Umar memang cukup berantakan. Umar jadi lebih sering menonton televisi, entah sendiri atau bersama kami. Mungkin karena saat ke Purwokerto, kami hanya membawakan beberapa buku dan mainan, sehingga ia mudah merasa bosan.
Aku pun teringat, aku pernah berada di posisi memberikan Umar screentime lebih lama dari yang seharusnya. Waktu itu terasa praktis, tapi sesaat setelahnya justru menyisakan rasa tidak nyaman di hati. Dari situ aku belajar, kadang yang paling mudah bukan selalu yang paling baik. Dan ketika pagi tadi melihat rumah berantakan oleh mainan Umar, aku justru merasa lebih tenang. Karena aku tahu, ia sedang bertumbuh.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the public figure
Website
Address
Purwokerto
53116