Bisnis DARI RUMAH
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Bisnis DARI RUMAH, Science, Technology & Engineering, Juanda 2 Samarinda, Samarinda.
Kalau bukan karena utang,
kamu mungkin nggak pernah tahu rasanya
dingin sekaligus bergetar.
Bukan karena takut miskin,
tapi karena merasa sendirian di dunia.
Karena ini bukan cuma soal angka.
Ini tentang rasa.
Tentang luka yang nggak kelihatan.
Tentang doa-doa yang diam-diam
minta dikuatkan.
Ada masa ketika salat,
tapi isi hati cuma satu:
“Ya Allah, tolong…”
Utang itu bukan sekadar cicilan.
Dia jadi beban di dada,
yang bikin air mata jatuh di tengah doa panjang.
Yang memaksa kita terlihat kuat, padahal di dalam sudah pecah.
Dan besok paginya…
kita tetap bangun.
Senyum.
Masak.
Ngurus anak.
Balas chat jualan.
Seolah nggak terjadi apa-apa.
Padahal rasa malu itu datang setiap hari,
bukan cuma saat ditagih.
Nggak semua orang mengerti.
Tapi aku tahu…kamu juga ngerasain.
Pelan-pelan ya.
Jalannya bukan dengan lari, tapi dengan sadar.
Lewat healing kecil. Lewat ikhtiar cuan yang nggak bikin burnout.
Lewat membangun ruang hidup yang lebih tenang. Nggak harus ribet. Cukup jadi ibu yang hari ini sedikit lebih kuat dari kemarin 🤍
Kalau tulisan ini terasa kamu banget,
beri tanda bahwa kamu masih bertahan.
🤍 Like kalau kamu sedang berjuang diam-diam
💬 Komen “aku kuat” kalau kamu nggak mau menyerah
📌 Save kalau ingin baca ulang saat hatimu penuh
📤 Share ke ibu lain yang mungkin sedang menahan air mata
➕ Follow akun ini untuk healing, kesadaran, dan jalan cuan yang lebih tenang
Kita pelan-pelan.
Tapi kita jalan 🌿
Nggak ada ibu yang pengen marah-marah sama anaknya.
Pagi itu aku meninggikan suara.
Bukan karena anakku nakal…
tapi karena dadaku sudah penuh sejak lama.
Matanya kaget.
Dan di detik itu, aku kalah.
Aku sadar, yang keluar bukan marah.
Itu capek yang nggak pernah aku ceritakan.
Itu lelah yang kupendam sambil terus bilang,
“nggak apa-apa.”
Setiap ibu ingin jadi rumah yang aman untuk anaknya.
Tapi sering lupa, ibunya sendiri belum punya tempat pulang.
Kalau hari ini kamu mudah meledak,
itu bukan tanda kamu ibu yang buruk.
Itu tanda jiwamu sedang minta didengarkan.
Pelan-pelan ya…
kita belajar tenang,
bukan untuk jadi ibu sempurna,
tapi untuk jadi ibu yang sadar dan utuh.
🤍
Kalau tulisan ini terasa kamu banget,
berarti jiwamu sedang memanggil untuk dipeluk.
Berhenti sejenak… tarik napas…
dan izinkan dirimu sembuh.
👉 Follow akun ini untuk reminder lembut tentang healing ibu & inner child
👉 Simpan postingan ini kalau suatu hari hatimu terasa penuh
👉 Bagikan ke ibu lain yang mungkin sedang berjuang diam-diam
Kita belajar tenang,
bukan sendirian 🌿
Kadang yang paling lelah itu bukan fisik,
melainkan hati seorang ibu yang merasa tidak didengar.
Ibu bicara pelan, tak digubris.
Ibu mengulang dua kali, anak masih tenggelam di dunianya.
Saat suara ibu meninggi,
barulah semua sadar.
Namun yang diingat hanya satu hal:
“Ibu marah terus.”
Padahal sebelum marah,
ibu sudah memilih sabar berkali-kali.
💡 Lalu apa yang bisa kita lakukan?
• Pastikan kontak mata sebelum berbicara, bukan dari kejauhan.
• Sentuh lembut bahu atau tangan anak agar fokusnya kembali.
• Sampaikan instruksi singkat dan jelas, satu per satu.
• Tegas tanpa teriak: suara tenang, tapi konsisten.
• Beri jeda, tarik napas, karena ibu juga manusia yang bisa lelah.
Belajar mengasuh anak,
juga berarti belajar mengasihi diri sendiri.
👉 Kalau kamu pernah ada di fase ini, tulis “belajar sabar” di kolom komentar.
Simpan postingan ini dan follow untuk konten parenting reflektif & menenangkan.
Semakin hari, banyak orang tua merasa anaknya makin menjauh.
Yang dulu s**a bercerita, kini lebih memilih diam, sibuk dengan gadget, atau menghabiskan waktu di luar rumah.
Ini bukan terjadi tanpa sebab.
Ada beberapa hal yang perlahan menciptakan jarak emosional antara orang tua dan anak.
Pertama,
Kurangnya koneksi emosional sejak dini.
Banyak orang tua merasa sudah cukup memenuhi kebutuhan fisik: makan, sekolah, pakaian.
Padahal anak juga butuh didengar, divalidasi perasaannya, dan merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Jika sejak kecil anak sering dimarahi saat jujur, lama-lama ia belajar diam dan menjaga jarak.
Kedua,
Pola komunikasi yang otoriter.
Orang tua yang selalu merasa paling benar, memotong pembicaraan anak, atau memaksakan kehendak atas nama “demi kebaikanmu” tanpa ruang diskusi, membuat anak merasa tidak dihargai.
Akhirnya, anak lebih nyaman bercerita ke teman atau dunia luar.
Ketiga,
Perbandingan dan tuntutan berlebihan.
Kalimat seperti, “Lihat anak si A, kamu harus bisa lebih,” atau “Dulu orang tua kamu lebih susah,” tanpa empati, perlahan melukai harga diri anak.
Anak merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.
Keempat,
Gadget dan media sosial.
Sering disalahkan, padahal akarnya lebih dalam.
Anak betah dengan gadget karena di sana mereka merasa diterima, bebas berekspresi, dan tidak dihakimi.
Jika di rumah yang mereka temui hanya aturan, kritik, dan konflik, wajar jika dunia digital terasa lebih hangat.
Kelima,
Orang tua terlalu sibuk atau tidak hadir secara utuh.
Bukan soal lama waktu, tapi kualitas kehadiran.
Tubuh ada di rumah, tapi pikiran masih di pekerjaan atau urusan lain.
Anak pun belajar bahwa orang tuanya ada, tapi tidak benar-benar hadir.
Jika rumah kembali menjadi tempat aman,
anak tak perlu mencari kehangatan di luar.
💬 Menurutmu, poin mana yang paling sering terjadi di sekitar kita?
Tulis di kolom komentar.
💾 Simpan postingan ini sebagai pengingat.
🔁 Bagikan ke orang tua lain yang sedang berjuang membangun kedekatan dengan anak.
➕ Follow akun ini untuk konten parenting & healing keluarga.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Juanda 2 Samarinda
Samarinda
75124