DPK Peradah Samarinda
Perhimpuannan Pemuda Hindu (PERADAH), Seva with Hindu Youth Samarinda
26/01/2017
Di dalam agama Hindu terdapat Hari Raya Siwaratri, yang dilaksanakan setahun sekali setiap purwaning tilem ke-7 (sasih kepitu) tahun Caka. Hari Raya Siwaratri ialah hari suci yang digunakan dalam rangka melakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Siwa.
Pengertian dan Makna Siwaratri
Siwaratri artinya malam Siwa. Jika diuraikan terdiri dari 2 kata, yaitu Siwa dan Ratri. Siwa dalam bahasa Sansekerta berarti baik hati, s**a memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan dan juga Siwa dapat diartikan sebagai sebuah gelar atau nama kehormatan untuk salah satu manifestasi Tuhan yang diberi nama atau gelar kehormatan Dewa Siwa, dalam fungsi beliau sebagai pemerelina untuk mencapai kesucian atau kesadaran diri yang memberikan harapan untuk kebahagian.
Sedangkan Ratri artinya malam, yang dapat diartikan juga sebagai kegelapan. Jadi Siwaratri dapat diartikan sebagai malam pemerilina atau pelebur kegelapan dalam diri dan hati untuk menuju jalan yang lebih terang.
Dalam memaknai Hari Raya Siwaratri tidak sedikit yang beranggapan bahwa Siwaratri bertujuan untuk melebur dosa. Benarkah demikian? Lantas bagaimana dengan adanya Hukum Karma Phala? Jika dosa bisa dilebur hanya dalam satu malam (Siwaratri ). Menurut pengamat agama Gusti Ketut Widana mengatakan, secara tatwa sesungguhnya Siwaratri merupakan malam perenungan dosa, (bukan peleburan dosa), dengan tujuan tercapainya kesadaran diri. ”Secara tatwa, sesungguhnya Siwaratri itu simbolisasi dan aktualisasi diri dalam melakukan pendakian spiritual guna tercapainya ‘penyatuan’ Siwa, yaitu bersatunya atman dengan paramaatman atau Tuhan penguasa jagat raya itu sendiri.
Sebagai malam perenungan, kita mestinya melakukan evaluasi atau introspeksi diri atas perbuatan-perbuatan selama ini. Pada malam pemujaan Siwa ini kita memohon diberi tuntunan agar dapat keluar dari perbuatan dosa.
Cara Pelaksaan Siwaratri
Secara rinci Kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan pada hari Siwaratri adalah sebagai berikut:
Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, maka terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan yang diperkirakan selesai tepat pada jam 06.00 dinihari
Monabrata atau berdiam diri dan tak berbicara. Pelaksanaannya dilangsungkan di pagi hari dan dilakukan selama 12 jam tepatnya dari jam 06.00 – 18.00.
Mejagra atau tidak tidur selama semalaman. Pelaksanaannya berlangsung dari pagi sampai pagi hari di keesokan harinya yang dilakukan selama 36 jam dari jam 06.00 – 18.00 di keesokan harinya.
Upawasa atau tidak makan dan tidak minum. Puasa ini dilakukan selama 24 jam dari jam 06.00 – 06.00. Apabila sudah 12 jam maka diperbolehkan untuk makan dan minum dengan syarat bahwa nasi yang dimakan ialah nasi putih dengan garam dan minum air putih (air tawar tanpa gula).
Dalam Agama Hindu selalu ada tingkatan Nista, Madya dan Utama yang bisa dipilih sesuai kemampuan, begitu p**a dalam melaksanakan Siwaratri.
Tingkat Utama, melaksanakan :
Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara),
Mejagra (berjaga, tidak tidur),
Upawasa (tidak makan dan tidak minum)
Tingkat Madya, melaksanakan :
Mejagra,
Upawasa
Tingkat Nista, melaksanakan :
Mejagra
Dalam menjalankan kegiatan Siwaratri diakhiri dengan melakukan persembahyangan dan memohon kepada Sang Hyang Siwa supaya diberikan berkah dan ampunan, dan juga dikembalikan menjadi manusia yang suci dan paripurna serta memohon ditunjukan jalan terang agar terhindar dari perbuatan dosa.
Jadi dapat disimpulkan bawah Hari Raya Siwaratri bukanlah hari penebusan dosa melainkan perenungan dosa yang selama ini telah kita perbuat. Hukum Karmaphala tetap akan berlaku, akan tetapi diyakini dengan menjalankan Brata Siwaratri niscaya kedepannya kita akan mampu mengendalikan diri sehingga dapat terhidar dari perbuatan dosa.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat. Jika terdapat penjelasan yang kurang tepat atau kurang lengkap. Mohon dikoreksi bersama. Suksma
25/01/2017
Om swastyastu.
setelah sekian lama mati suri, akan kami coba hidupkan kembali.....
Om Swastyastu
[Hari Raya Pagerwesi]
Pagerwesi artinya pagar dari besi. Yang melambangkan suatu perlindungan yang kuat. Hari raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak.
Hari Raya Pagerwesi jatuh pada Buda (Rabu), Kliwon, Sinta. Jika diperhatikan dengan seksama, ada kaitan langsung dengan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Saniscara (Sabtu), Umanis, Watugunung. Dalam sistim kalender wuku yang berlaku di Bali, wuku Watugunung adalah urutan wuku yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan wuku Sinta adalah wuku dalam urutan pertama atau awal dari suatu siklus wuku.
Makna Pagerwesi
Sebagaimana telah disebutkan dalam lontar Sundarigama, Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Shinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga. Hal ini mengundang makna bahwa Hyang Premesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sanghyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan Uttpti, Stiti, dan Pralina atau dalam aksara suci disebut: Ang, Ung, Mang.
Renungan Dalam Pagerwesi
Pada hari raya Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati . Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan “pager besi” untuk melindungi hidup kita di dunia ini.
Inti dari perayaan Pagerwesi itu adalah memuja Tuhan sebagai guru yang sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuji dan memusatkan diri. Ini berarti kita harus menyerahkan kebodohan kita pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi kita dengan kesucian dan pengetahuan sejati.
Selamat merayakan hari raya Pagerwesi, semoga kedamaian hadir pada semua makhluk. [IGA]
Dikutip dari :
inputbali.com/budaya-bali/makna-dan-renungan-dalam-hari-raya-pagerwesi
Jayalah Pemuda Hindu
Om Shanti Shanti Shanti Om
22 September sudah semakin dekat.....Pagelaran Seni karawitan (Gamelan) se Kaltim sudah didepan mata...bersiap untuk menunjukkan kreasi dan karya kreatif mu wahai Pemuda Hindu Samarinda..
DPK lain sudah mempersiapkan kreasi untuk bisa tampil di Festival Seni Karawitan/Gamelan Bali se-Kaltim september nanti....DPK Dpk Peradah Samarinda berencana memulai latihan Sabtu, 23 Juni 2012 besok...ayo Pemuda Hindu Samarinda...mari satukan kreasi, singsingkan lengan bukan untuk adu otot, tpi berkarya seni untuk melestarikan Budaya moyang kita...sebelum kelak diklaim bangsa lain....
Telah disepakati dan dibentuk Kepanitiaan Rapat Koordinasi Daerah DPP Peradah Kaltim, yg direncanakan pelaksanaannya pada Hari Minggu, 22 April 2012, bertempat di Hotel Diamond, Jl. Lambung Mangkurat, Samarinda.
Polling....kira2 sepakat gak kalo sekehe gong peradah mulai aktif lagi latihan?? buat teman2 Peradah Samarinda silahkan kasih mas**an...
Apa kawan kawan semua ada ide pemikiran yang bisa kita jadikan tipok bahasan?
kesenjangan antara jarak dan hubungan persuasif temen-temen sepertinya ada yang kurang
besok kepura jam 8 pagi.bantu-bantu persiapan lokasabha PHDI
Mari Rekan2 Peradah Samarinda.....kita bersiap2 untuk Melasti...Bersihkan Buana Agun dan Buana Alit....bersihkan diri menyongsong Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1933...
Loka Samasta Sukhino Bavantu........
Click here to claim your Sponsored Listing.
Contact the practice
Telephone
Website
Address
Jalan Sentosa No. 22
Samarinda
75117