Kampung Formosa
yang malu bercerita boleh inbox nanti saya bikin kan ceritanya
29/05/2025
Pertigaan Terminal Bawen 1915
Ada sesuatu yang magis dari sebuah foto lama. Ia tak bersuara, namun mampu bercerita lebih dalam daripada sekadar kata. Seperti foto hitam-putih yang tertangkap dari tahun 1915 ini, menampilkan potret sederhana sebuah simpang jalan di Bawen, Kabupaten Semarang.
Bukan jalanan lebar beraspal seperti hari ini. Tidak ada kendaraan besar, tidak ada hiruk-pikuk kemacetan. Hanya tanah, rerumputan, dan beberapa orang yang berdiri, entah menunggu angkutan zaman dulu, atau hanya menyaksikan waktu berlalu.
Pertigaan Bawen dulu hanyalah titik temu sederhana antara jalan menuju Semarang, Solo, atau arah menuju Ambarawa, Jogja dan Temanggung. Tapi dari simpang kecil inilah, jalur perdagangan dan mobilitas warga dimulai. Sebuah simpul kecil dalam peta sejarah Jawa Tengah, yang hari ini telah menjelma menjadi jalur vital nasional.
Apa yang membuat foto ini begitu menyentuh adalah keheningannya. Seakan ia menyimpan suara langkah kaki masa lalu. Mungkin ada petani yang baru p**ang dari ladang. Atau anak-anak kecil yang berlarian menyusuri bukit. Semua terekam diam-diam dalam keabadian sepi sebuah jepretan kamera tua.
Kini, lebih dari seabad kemudian, Pertigaan Bawen ramai luar biasa. Kendaraan tumpah ruah. Lalu lintas yang tak pernah tidur. Tapi bagi mereka yang berhenti sejenak dan memandang lebih dalam, mereka akan tahu, ada sejarah yang tak boleh dilupakan. Ada cerita yang tak boleh diabaikan.
Semoga foto dari tahun 1915 ini menjadi pengingat, bahwa setiap tempat memiliki masa lalu, dan setiap masa lalu memiliki jiwa.
📸 "Waktu boleh berubah, tapi jejak tak pernah hilang."
Tahun 1984. Jalan arah menuju Kota Solo kala itu masih jauh dari kata lebar. Hanya cukup dua kendaraan bersimpangan dengan hati-hati. Aspal belum mulus, tikungan belum banyak rambu, dan kabut sering kali menyelimuti perjalanan di pagi hari.
Hari itu, sebuah bus dari Kota Jakarta menuju Solo melintasi Pertigaan Bawen. Di titik itu, penumpang sempat menikmati pemandangan perbukitan dan pepohonan tinggi yang melambai tenang. Namun ketenangan itu berubah tragis saat bus mulai memasuki tikungan menuju wilayah Makam Kembar.
Kecelakaan tak bisa dihindarkan.
Kendaraan melintas dari Kota Salatiga menuju arah Semarang dengan kecepatan tinggi, jalan menurun, dan tikungan tajam menjadi kombinasi maut yang merenggut banyak nyawa. Salah satunya adalah sang sopir, lelaki tangguh yang telah bertahun-tahun mengabdi di balik kemudi. Dialah… kakekku.
Orang bilang, jalan itu angker. Tapi bagi kami, keluarga yang ditinggalkan, jalan itu bukan hanya tempat kejadian. Ia adalah saksi bisu perjuangan seorang kepala keluarga. Seorang pahlawan yang jarang tidur malam, mengantar banyak orang p**ang ke rumah masing-masing, meski akhirnya ia sendiri tak sempat p**ang.
Kini, setiap kali aku melewati tikungan itu, di antara Bawen dan arah Tuntang, aku seperti melihat bayang-bayang kenangan, vision masa lalu pun seakan terlihat nyata. Bukan hanya tragedi, tapi keteguhan. Bukan hanya luka, tapi cinta yang pernah mengemudi tanpa lelah demi sesuap nasi.
“Kadang kita tak memilih di mana kita akan berhenti. Tapi kisahmu, Kek… tetap melaju dalam hidup kami yang masih berjalan.”
— Fei Adhista
25/02/2025
Amazing wah kenyangnya
20/02/2025
Aku si penggembala sapi
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Address
Bambu Runcing
Semarang
50166