GBIA Rhemata
Halaman ini berisikan artikel² rohani Kekristenan, info seminar, dan segala hal yg berkaitan dgn k
16/07/2022
*SISTEM PENGGAJIAN ALKITABIAH*
Jika seseorang sungguh berhikmat ia pasti menyadari bahwa sistem penggajian membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pelayanan. Ketika Jenderal di Pentagon merencanakan penyerangan ke Afganistan, salah satu faktor yang mereka pasti pikirkan amat sangat dan baik-baik ialah supply kebutuhan prajurit yang dikirim ke sana. Dan pihak musuh, Taliban, juga sangat tahu bahwa jika mereka berhasil memotong supply pasukan, maka mereka akan berhasil setidaknya menghambat kemajuan pasukan AS. Itulah sebabnya mereka berulang-ulang menyerang mobil pengangkut bahan makanan.
Sistem penggajian gereja telah dimanfaatkan iblis yang sangat pintar dan licik untuk merusak gereja.
[1]. Gembala digaji oleh negara. Ini sistem yang diterapkan di Eropa oleh gereja-gereja yang bersatu dengan negara. Sistem ini telah menjadi salah satu faktor yang menghancurkan gereja di sana. Jika tiap tanggal 1 gaji masuk ke dalam rekening seperti pegawai negeri, maka jemaat dari seribu orang turun hingga sepuluh orang, Gembala tidak perlu pusing.
[2]. Gembala digaji oleh Sinode. Ini persis sama dengan yang pertama. Dan sistem ini memakai tingkat pendidikan sebagai patokan. Gembala bukan hanya tidak pusing kalau jemaat tinggal sepuluh orang, bahkan sistem ini telah mendorong mereka kejar titel, dan ramai-ramai cari yang akreditasi. Tidak pernah hadir kuliah pokoknya ada gelar doktor.
[3]. Gembala digaji oleh majelis. Hasil akhirnya, Gembala jadi KARYAWAN majelis. Orang muda TIDAK BERMINAT jadi hamba Tuhan, dan gereja kalang-kabut mencari Gembala dan akhirnya saling membajak Gembala gereja lain. Ketika kekurangan hamba Tuhan, maka hamba Tuhan juga tahu profesinya langka sehingga dia berubah menjadi hamba uang dengan menuntut fasilitas, standard gaji dll. Gereja akan digembalakan oleh Gembala upahan yang cari makan di gereja. Setelah waktu berjalan lama, gereja akan mirip Yayasan, atau ormas, tidak ada penginjilan karena Gembala upahan, dan khotbah pun alakadarnya. Bahkan biasanya Gembala hanya tukang kubur orang, tukang kawinkan orang, tukang Baptis orang.
[4]. Gaji Gembala ditetapkan seluruh anggota jemaat. Efeknya sang Gembala adalah KARYAWAN dari anggota jemaatnya yang baru berumur 18th. Sudah pasti akan semakin sedikit orang yang MERASA dipanggil Tuhan untuk melayani Fulltime. Kekristenan akan menuju punah sendirinya.
[5]. Gembala tetapkan sendiri gajinya. Biasanya yang bisa begini karena Gembala adalah sang pendiri gereja. Efeknya, jika Gembala ambil sedikit dia merasa kekurangan, dan jika dia ambil banyak akan ada banyak gosip yang beredar bahwa dia ambil kebanyakan. Sangat tidak elok, dan akan jadi batu sandungan.
[6]. Gembala ambil seluruh Persembahan Persepuluhan (PP). Gereja demikian biasanya adalah yang Gembalanya mantan pengusaha yang banting steer dari pengusaha materi menjadi pengusaha rohani. Tidak puas dengan 500 PP, dia masih perlu tambah Khotbah mengancam dengan kutuk, belalang pelahap dll. Gereja demikian biasanya mengikuti angin badai penyesatan, sebentar musim tertawa dia ajak jemaatnya tertawa, nanti musim menangis dia ajak jemaatnya menangis. Apa saja akan dilakukannya asal itu bisa membuat pengunjung ramai dan PP bertambah. Segala macam cerita akan dikarangnya, dari dibawa ke Sorga hingga dibawa ke neraka. Dan kesaksian yang heboh paling disukainya karena itu semacam entertainmen yang menarik untuk disuguhkan.
[7]. Gembala MAKSIMUM ambil 11 PP (Persembahan Persepuluhan). Jika ada 500 PP, Gembala hanya boleh memilih 11 PP sesukanya, dan sisanya 489 PP untuk keperluan lain. Orang Kristen diajar untuk memberikan minimum 10% dari penghasilannya dengan *SUKARELA* dan *SUKACITA.* Selama lebih tiga puluh tahun jadi Gembala, saya tidak pernah dapatkan orang Kristen LAHIR BARU yang keberatan kasih kepada Tuhan di atas 10% dari penghasilannya. Sistem penggajian ini *MENCONTOH* sistem Tuhan ketika dulu Ia mengaji suku Lewi. *Jadi, hanya sistem ini yang ada dasar Alkitabnya.* Ketika Tuhan memberkati anggota jemaat yang setia kasih PP, itu sama dengan Ia memberkati pekerjaNya. Inilah sistem yang paling ideal, paling masuk akal, paling membawa efek positif bagi kekristenan. *Sistem inilah yang diajarkan dan dipakai GBIA.*
Sejak gereja berdiri sampai hari pengangkatan (Rapture) tak perlu ada rapat menentukan gaji Gembala, karena dia hamba Tuhan bukan hamba majelis. Tak ada pihak yang perlu iri jika Gembala dapat cukup besar karena selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin melayani Tuhan. Jika Gembala merasa terlalu banyak tentu dia boleh ambil KURANG dari 11 Persepuluhan. Ini sistem paling logis, paling efektif, dan paling alkitabiah, karena ada CONTOHNYA pada saat Tuhan menggaji suku Lewi dengan persepuluhan sebelas suku lain.
*CATATAN:*
Ada sih yang berkata bahwa hamba Tuhan tidak perlu digaji, mereka harus hidup dari persembahan sukarela anggota jemaat. Biasanya orang yang berkata demikian justru adalah yang tidak mau jadi hamba Tuhan Fulltimer, yang maunya cuma komentar bahkan mengatur. Dia juga biasanya tidak peduli kalau kekristenan menurun bahkan punah karena keinginan orang untuk melayani Tuhan menurun.
Banyak orang tidak paham bahwa sifat Kisah Para Rasul adalah CATATAN tentang keadaan ketika kekristenan dimulai. Gereja mula-mula bukan yang paling benar melainkan yang masih dibentuk, sambil buku petunjuknya sedang ditulis.
Banyak orang membandingkan pelayan sekarang dengan Paulus dan keadaan jemaat paling awal. Padahal itu keadaan yang mirip dengan keadaan perang kemerdekaan. Tidak satupun negara yang memberlakukan tentara regulernya di saat normal dengan keadaan sukarelawan saat perang kemerdekaan. Kalau semua anggota TNI disuruh bawa bekal sendiri-sendiri, pasti tidak ada satu pun anak muda yang daftar. Maka itu biasanya yang berbicara demikian pun tidak mau jadi pelayan Tuhan Fulltimer. Bisa saja ada orang yang tabungannya sudah cukup, atau yang sudah punya saham di berbagai perusahaan, ikutan melayani dan berkata tak perlu sistem gaji cukup hidup dengan iman, dan dia menunjuk contoh keadaan di Kisah Para Rasul. Tetapi jelas sekali bahwa cara ini tidak bisa menjadi sebuah sistem yang berlaku untuk semua pekerja Fulltimer di semua daerah dan sepanjang waktu.
Ada juga yang mengandalkan sistem disodok pakai amplop. Gembala yang di kota besar bisa hidup dari sodokan amplop ibu-ibu yang badannya penuh emas, tetapi kasihan mereka yang di kota kecil, apalagi yang di kampung. Lagi p**a sodokan amplop telah menyebabkan si Gembala tidak berani tegur dosa, terutama jika yang harus ditegur justru yang sering menyodoknya dengan amplop. Akhir dari sistem ini ialah Gembala menjadi pengemis berdasi, dan anak-anaknya tidak bangga dengan profesi ayah mereka.
Banyak orang menyebut dirinya hamba Tuhan, padahal yang menentukan gaji mereka itu manusia. Sesungguhnya mereka bukan hamba Tuhan melainkan hamba manusia. Pegawai Negeri itu hamba negara karena digaji negara, pegawai perusahaan swasta itu hamba pemilik perusahaan, pengkhotbah hamba siapa? Ada banyak orang yang jadi hamba sinode, dan juga ada banyak yang jadi hamba majelis karena majelis yang tentukan gaji mereka. Dan ada banyak pengkhotbah koruptor yang mengambil seluruh persepuluhan, bayangkan ia bawa p**ang seribu amplop persepuluhan.
Bagaimana cara gereja Anda menggaji Gembala Anda? Cari tahu! Jadilah cerdas bahkan jadilah kritis, terutama ketika Anda ingin mencari gereja yang alkitabiah. Banyak orang menentang persepuluhan karena merasa muak dengan gaya hidup hedonis para koruptor gereja, dan sistem penggajian para pengkhotbah yang tidak alkitabiah.
Jakarta, 10 Oktober 2020
Dr. Suhento Liauw
YOUTUBE CHANNEL: GBIA GRAPHE
Maranatha!
--------------------------------------
Jika Anda ingin membaca artikel tentang kekristenan? Silahkan kunjungi website kami:
Youtube Channel : GBIA GRAPHE & GBIA INDONESIA
--------------------------------------
*Renungan Harian 19 Januari*
Dari Buku: _Tiap-tiap Hari Menelusuri Sejarah Baptis_
*Kebebasan Beragama dan Kaum Baptis Virginia*
Nas: _Imamat 25:1-23_
Pemenjaraan para pengkhotbah Baptis yang pertama kali tercatat di Virginia terjadi pada tanggal 4 Juni 1768 di Fredericksburg.”¹ Pada tanggal 16 Oktober 1777, di sebuah ruangan belakang di kota yang sama, Thomas Jefferson, George Mason, Edmund Pendleton, George Wythe, dan Thomas Ludwell Lee, berunding selama berjam-jam dan kemudian keluar dari ruangan itu dengan konsep pertama Undang-undang Virginia mengenai Kebebasan Beragama.
Orang-orang ini tahu tentang keyakinan kaum Baptis mengenai kebebasan hati nurani dan kerelaan mereka untuk menderita penganiayaan karena mempraktekan keyakinan ini. Jefferson telah menghadiri beberapa dari gereja-gereja kecil mereka di Albemarle County dan Orange County, dan firma hukum Mason terletak tepat di seberang jalan dari tempat Jeremiah Moore dipenjarakan di Alexandria karena berkhotbah tanpa izin negara ataupun pentahbisan gereja negara.
Perjuangan tersebut begitu hebat sehingga diperlukan hampir 10 tahun melobi dan mempetisi badan legislatif (kaum Baptis memiliki 3 wakil yang mewakili mereka pada saat yang bersamaan) sebelum Undang-Undang diloloskan pada tanggal *19 Januari 1776.* Jefferson menyatakan bahwa Undang-Undang itu adalah produk legislatif yang paling keras dipertarungkan sepanjang karir politiknya.”²
Di periode waktu yang sama itu ada pertentangan hebat berkaitan dengan perpajakan untuk mendukung pendeta-pendeta gereja negara. Di satu titik, Jeremiah Moore, Jeremiah Walker, dan John Young menyampaikan kepada pertemuan badan legislatif Virginia di sebuah gudang di Richmond, dalam sebuah gerobak dorong, sebuah petisi yang ditandatangani oleh 10.000 warga Virginia untuk menentang rencana prakiraan untuk menghidupi guru-guru agama. Kekalahan calon Undang-Undang itulah yang akhirnya membuka jalan bagi Undang-Undangnya Jefferson.
William Warren Sweet, dalam bukunya Story of Religion in America, dibenarkan ketika berkata, Kebebasan beragama telah menang di Virginia dan segera menyebar ke seluruh negara dan beberapa tahun kemudian, dalam bentuk Amendemen Pertama terhadap Undang-Undang Dasar Federal, segera menjadi bagian dari hukum negeri yang paling dasar.
Pada waktu hal ini terjadi, Jefferson, penggagasnya, ada di Perancis, tetapi begitu bangganya dia atas sumbangsihnya dalam perjuangan yang akan terus diingat itu, sehingga ia meminta agar hal itu dituliskan di batu nisannya: “Thomas Jefferson, Penggagas dari Deklarasi Kemerdekaan, dari Undang-Undang Virginia mengenai Kebebasan Beragama, dan Bapa dari Universitas Virginia.
Tetapi keadilan memaksa pengakuan bahwa sumbangsih Jefferson dalam pencapaian ini tidaklah sebesar James Madison, dan kontribusi kedua orang ini tidaklah sepenting sumbangsih orang-orang sederhana yang dipanggil kaum Baptis.”3 Para negarawan berbicara dan menulis dengan fasihnya; kaum Baptis berkotbah, mengajukan permohonan, dan menderita penganiayaan. Allah memakai orang-orang sederhana ini agar kebebasan beragama sebagai sebuah prinsip dasar dari masyarakat kita dituangkan dalam dua dokumen: The Virginia Declaration of Rights dan The Statue of Virginia for Religious Freedom.
Dari dua dokumen ini diambil kata-kata pembukaan Federal Bill of Rights (Hukum Hak Asasi Federal), yang menyatakan, “Kongres tidak boleh membuat hukum yang berkaitan dengan pendirian agama, atau pelarangan kebebasan praktek beragama.” Kiranya kita “berdiri teguh dalam kemerdekaan yang mana Kristus telah membuat kita merdeka” (Gal 5:1) dan “memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya” (Ima 25:10).
EWT
_____________________
¹Lewis Peyton Little, Imprisoned Preachers and Religious Liberty in Virginia (Lynchburg, Va.: J.P. Bell Co., 1938), hal. 93-98, 510-15.
²Charles F. James, A Documentary History of the Struggle for Religious Liberty in Virginia (1900; reprint ed., New York: Da Capo Press, 1971), hal.137-41.
³William Warren Sweet, The Story of Religion in America (1950; reprint ed., Grand Rapids: Baker Book House, 1973), hal.193.
------------------------------------------
*Renungan Tambahan*
*DR. SUHENTO LIAUW, DRE., TH.D.:*
1. AS adalah contoh negara yang diinginkan Tuhan, yang benar-benar menjamin kebebasan beragama yg sebebas-bebasnya. Tidak heran jika Tuhan kemudian memberkati negara ini sehingga sejak didirikan ia menjadi negara terkuat menjaga dunia ini. Dua kali Perang Dunia, untung ditolong AS, kalau tidak maka semua orang Eropa di bawah Jerman dan semua orang Asia di bawah Jepang. Semua negara di dunia berhutang pada Amerika. Inggris pasti habis oleh Hi**er demikian juga Rusia, dan di Asia bahkan Australia tidak ada yang sanggup melawan Jepang.
2. Hal yang sangat menyedihkan ialah orang-orang Kristen yang terjebak pada tipu muslihat iblis, mengangkat iblis jadi bapa mereka, terhasut menjadi penganiaya orang Kristen lain, bukannya melaksanakan Amanat Agung memberitakan Injil. Karena gereja2 Eropa dikuasai iblis sehingga berabad-abad bahkan beribu tahun tidak memberitakan Injil. Hal yang sangat menyedihkan ialah ketika membaca catatan Marcopolo, bahwa Kubilai Khan meminta Marcopolo bawa 100 guru untuk mengajarkan agamanya, tetapi sampai Kubilai Khan mati, guru yang diminta tak pernah datang. Gereja dikuasai iblis, tak bisa beritakan Injil.
3. Dulu pada masa koloni di AS, Gembala gereja-negara digaji oleh negara, dan guru agama juga di gaji oleh negara. Tentu ini prototipe yang mereka jiplak dari Eropa. Banyak pemimpin Kristen di Indonesia juga tak berhikmat dan gagal paham, mereka menyetujui ada guru agama di Sekolah Negeri dan pemimpin umat digaji oleh negara. AS adalah teladan negara yang ideal, maka itu iblis berusaha keras menghancurkan AS. Dengan kemenangan curang Demokrat iblis berhasil mencatatkan satu langkah kemenangan menuju agendanya untuk menghancurkan AS.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Tangerang
15570