ROCK DOVER

ROCK DOVER

Share

Official Page of Rock International Ministry in Dover, NH. (Halaman resmi Gereja Rock International Ministry di Dover, NH) we help you to fulfill your destiny

Photos from ROCK DOVER's post 06/21/2026

*King's Swords*
Senin, 22 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
1 Raja Raja 9:10 – 11:13
Kisah Para Rasul 15:1–21
Mazmur 77:1–9

*MANA YANG SEMBILAN?*

*“Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." (Lukas 17:18-19 - TB)*

Kisah ini menyingkapkan sesuatu yang sering luput: tidak semua orang yang menerima kebaikan Tuhan memiliki respons yang benar. Sepuluh orang kusta disembuhkan, tetapi hanya satu yang kembali. Yang sembilan tetap menikmati mukjizat, tetapi kehilangan momen untuk memuliakan Allah.

Di sini terlihat jelas bahwa anugerah Tuhan tidak bergantung pada respons manusia. Kesembuhan itu tetap terjadi, bahkan tanpa ucapan syukur. Ini menegaskan bahwa kasih karunia memang cuma-cuma, tidak bisa dibeli, tidak bisa ditukar dengan perbuatan. Namun justru karena itulah, respons hati menjadi penentu kualitas relasi, bukan sekadar pengalaman.

Satu orang yang kembali itu tidak hanya disembuhkan secara fisik, tetapi juga mengalami pemulihan yang lebih dalam-ia sadar, ia mengenal, ia memuliakan. la tidak berhenti pada berkat, tetapi melangkah kepada Pribadi Sang Pemberi berkat.

Ini menjadi pelajaran bagi kita. Sangat mungkin seseorang hidup dalam kebaikan Tuhan setiap hari-nafas, kesehatan, pekerjaan, pelayanan-namun tanpa kesadaran untuk kembali dan memuliakan Dia. Kita bisa sibuk menikmati hasil, tetapi melupakan Sang Sumber. Padahal setiap detik kehidupan adalah anugerah yang aktif, bukan pasif. Tuhan terus bekerja, terus menopang, terus memberi. Maka respons yang layak bukan sekadar pengakuan sesaat, tetapi gaya hidup yang memuliakan Dia.

Mengucap syukur bukan formalitas, melainkan bukti bahwa hati kita tidak tumpul terhadap kasih karunia. Orang yang mengerti anugerah tidak akan diam; ia akan kembali, tersungkur, dan memuliakan Tuhan. Pertanyaannya adalah: kita termasuk yang menerima lalu berjalan pergi, atau yang kembali dan mengenal Dia lebih dalam?

Syukur yang sejati selalu membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, bukan hanya lebih sadar akan berkat-Nya. Hati yang bersyukur tidak mudah bersungut-sungut, karena ia belajar melihat tangan Tuhan bahkan di tengah keadaan yang sulit. Justru dalam tekanan, ucapan syukur menjadi tanda iman yang dewasa. Syukur menjaga hati tetap lembut, mata tetap peka, dan jiwa tetap rendah di hadapan Tuhan. Ketika hidup dipenuhi ucapan syukur, kita tidak lagi berpusat pada apa yang kurang, tetapi pada siapa Tuhan itu. Dan dari hati yang bersyukur lahir penyembahan yang tulus, ketaatan yang sukarela, serta kehidupan yang memuliakan Dia setiap hari. (DH)

*Questions:*
1. Apakah Anda lebih fokus pada berkat yang diterima , atau pada Pribadi yang memberikannya?
2. Kapan terakhir kali Anda _“kembali”_ secara sadar untuk memuliakan Tuhan, bukan sekadar menikmati kebaikan-Nya?

*Values:*
Anugerah bisa diterima tanpa syukur, tetapi hubungan dengan Tuhan bertumbuh melalui hati yang kembali.

Kingdom Quotes:
*Jangan berhenti pada berkat; kembali kepada Sang Pemberi, di situlah hidup dipulihkan sepenuhnya.*

Photos from ROCK DOVER's post 06/20/2026

*King's Swords*
Sabtu, 20 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
1 Raja Raja 7:23 – 8:21
Kisah Para Rasul 13:42 – 14:7
Mazmur 76:1–12

*KOMUNITAS EKSKLUSIF ATAU INKLUSIF?*

*“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,” (Efesus 2:19)*

Firman Tuhan yang kita baca hari ini adalah sebuah pesan Tuhan yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat Efesus. Secara umum Efesus adalah kota perdagangan yang sangat strategis Daerah Efesus (sekarang daerah Turki) adalah kawasan yang menjadi persimpangan benua Asia dan Eropa. Sebagai kota perdagangan yang sangat strategis maka penduduk Efesus adalah penduduk yang heterogen, dengan tiga kelompok besar, yaitu orang Rornawi, Yahudi, dan juga Yunani.

Dalam masyarakat yang beragam ini, jemaat Kristen di Efesus pun tidak luput dari konflik internal, khususnya antara orang percaya dari latar belakang Yahudi dan non-Yahudi, terutama terkait keistimewaan status dan adat istiadat. Selain itu, mereka juga diperhadapkan pada persoalan perbedaan status sosial antara tuan dan budak. Situasi ini kemudian membentuk semangat eksklusivitas. Dalam KBBI kata eksklusivitas bisa bermakna sebuah upaya untuk memisahkan, membatasi akses hanya untuk kalangan tertentu. Lawan kata dari eksklusivitas adalah sikap inklusif yang bermakna mengikutsertakan, melibatkan semua pihak tanpa memandang latar belakang atau dengan kata lain tidak ada yang dikecualikan.

Melalui surat ini, Paulus menegaskan bahwa Injil ditujukan bagi segala bangsa. Karya keselamatan Kristus bukan hanya untuk orang Yahudi, melainkan untuk semua orang, apa pun status dan asalnya. Efesus 2:17 berkata, "la datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang 'jauh' dan damai sejahtera kepada mereka yang dekat" Bagaimana hal ini dapat terjadi? Dibutuhkan hati yang terbuka, yang mengizinkan orang-orang yang berbeda menjadi satu keluarga di dalam Kristus. Namun, tanpa disadari, kita pun sering terjebak dalam spirit eksklusivisme ini. Betapa sering kita lebih nyaman berkumpul, beribadah, berkomsel, bahkan melayani bersama orang-orang yang kita anggap mirip dengan diri kita.

Memang natur manusia cenderung berkumpul dengan mereka yang serupa dengan dirinya. Kita tidak sedang melawan natur itu, melainkan belajar mengelolanya dengan membangun cara pandang baru. Apa pun perbedaan orang lain, mampukah kita menemukan unsur kesamaan menurut perspektif Allah? Misalnya, kita sama-sama orang berdosa yang menerima anugerah-Nya, sama-sama sedang diproses untuk dibentuk dalam karakter Kristus.

Pertanyaannya, apakah kita siap menemukan titik kesamaan dan membangun kesatuan, atau justru terus berfokus pada perbedaan? Injil memanggil kita bukan untuk hidup eksklusif, tetapi menjadi komunitas yang mencerminkan hati Allah-menerima, merangkul, dan mengasihi tanpa sekat. (HA)

*Questions:*
1. Apakah kita lebih sering berfokus pada perbedaan orang lain daripada kesamaan kita di dalam Kristus?
2. Sudahkah Anda membangun sikap inklusif yang merangkul, bukan membatasi, dalam komunitas iman Anda?

*Values:*
Injil meruntuhkan tembok pemisah dan memanggil setiap orang percaya hidup dalam kesatuan, menerima perbedaan, dan membangun komunitas yang inklusif di dalam Kristus.

Kingdom Quotes:
*Kasih itu selalu bisa menemukan persamaan di tengah perbedaan dan keberagaman.*

Photos from ROCK DOVER's post 06/17/2026

*King's Swords*
Rabu, 17 Juni 2026

*Bacaan setahun:*
1 Raja Raja 2:13 – 3:15
Kisah Para Rasul 11:19–30; 12:1–19
Amsal 15:1–10

*SELAMAT*

*"Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.” (Matius 10:22 - TB)*

Dalam sebuah cerita pewayangan-Punokawan, terjadi sebuah dialog sebagai berikut _"Menurut kalian, apa kebutuhan pokok dalam hidup?"_ tanya Gareng. Bagong langsung menjawab, _"Harta! Buktinya semua orang ingin kaya!"_ Petruk memotong, _"Kelirul Yang paling penting itu kekuasaan. Semua orang ingin berkuasa."_ _"Kalian berdua keliru,"_ kata Gareng _"Apa gunanya punya gunung emas dan lumbung berlian jika tubuh sakit-sakitan, alias tidak selamat? Apa gunanya menjadi raja atau penguasa jika hidup diliputi ketakutan, alias tidak selamat?"_ _"Jadi yang paling penting itu selamat? Selamat bagaimana?"_ tanya Bagong dan Petruk Gareng menjawab perlahan, _"Selamat lahir dan batin, selamat raga dan jiwa, selamat di rumah, selamat di jalan, selamat di dunia, selamat di akhirat-selamat dalam segala hal."_

Selamat adalah kebutuhan setiap orang. Buktinya, kita bisa bangun tidur hari ini, itu anugerah keselamatan. Kita bertemu satu sama lain, itu pun keselamatan. Karena itu kita mengucapkan, _"Selamat pagi"_ Tekanannya ada pada kata selamat. Dalam Alkitab, kata selamat merupakan konsep yang mendasar. Mungkin kita mengira kata selamat selalu berkaitan dengan jiwa dan surga. Ternyata tidak hanya itu. Makna dasarnya justru juga menyangkut kehidupan jasmani dan keseharian manusia.

Pertama, *selamat berarti sehat atau keadaan tubuh yang baik.* Yusuf bertanya tentang Yakub, _"Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat?"_ (Kejadian 43:27). Di sini, selamat berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan hidup. Kedua, *selamat berarti damai, sukacita, dan kebahagiaan.* Yitro berkata kepada Musa bahwa bangsa itu akan pulang dengan puas senang (syalom) ke tempatnya (Keluaran 18:23). Selamat di sini berbicara tentang damai sejahtera. Ketiga, *selamat berarti utuh, aman, tenteram, makmur, dan berkecukupan terpelihara dari segala yang mencelakakan.* Nabi Zakharia bernubuat, _"Aku akan menabur damai sejahtera (syalom)..."_ (Zakharia 8:12). Ini menunjukkan bahwa keselamatan mencakup pemeliharaan Allah atas seluruh kehidupan.

Pengertian luas tentang keselamatan ini diteruskan dalam Perjanjian Baru. Kedatangan Tuhan Yesus membawa makna keselamatan yang lebih dalam: dosa diampuni, manusia dipulihkan, dan hubungan dengan Allah diperdamaikan, Itulah sebabnya kita mengaku Kristus sebagai Juruselamat. Selamat bukan hanya terhindar dari bahaya, tetapi mengalami pemulihan utuh di dalam Kristus-sekarang dan untuk kekekalan. (AU)

*Questions:*
1. Apakah Anda memahami keselamatan hanya sebagai jaminan surga, atau sebagai pemulihan hidup yang utuh didalam Kristus?
2. Apakah Anda sungguh hidup dalam damai dan rasa aman sebagai orang yang telah diselamatkan?

*Values:*
Keselamatan dalam Kristus bukan hanya pengampunan dosa, tetapi pemulihan menyeluruh—jiwa, hidup, damai, dan kekekalan.

Kingdom Quotes:
*Keselamatan bukan sekadar lolos dari kebinasaan, tetapi hidup utuh di bawah pemeliharaan Kristus Sang Juruselamat.*

Want your place of worship to be the top-listed Place Of Worship in Dover?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address


Central Avenue
Dover, NH
03820